Trump Kena Senjata Makan Tuan, China Justru Menang Besar

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - China berhasil mencetak rekor surplus perdagangan sebesar US$1,2 triliun (Rp20.160 kuadriliun) pada tahun 2025 di tengah eskalasi kebijakan "America First" yang diusung Presiden AS Donald Trump. Pencapaian ini didorong oleh keberhasilan Beijing mempererat hubungan dagang dengan mitra strategis seperti Kanada dan India, sekaligus menstabilkan aliran valuta asing yang mencapai rekor bulanan US$100 miliar (Rp1.680 triliun).

Para analis menilai kebijakan proteksionisme Trump justru memberikan peluang bagi China untuk memposisikan diri sebagai mitra dagang yang lebih stabil bagi banyak negara. Di saat hubungan AS dengan sekutu tradisionalnya meregang, China mengalihkan fokus diplomatik dan ekonominya untuk mengisi kekosongan tersebut melalui berbagai perjanjian strategis baru.

Ekspektasi terhadap meluasnya pengaruh China semakin menguat seiring rencana kunjungan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer ke Beijing pada Rabu malam guna memperbaiki hubungan bisnis. Analis memprediksi Beijing akan terus memanfaatkan keunggulan ekonomi senilai US$20 triliun (Rp336.000 triliun) miliknya untuk menjadi pilar stabilitas ekonomi di luar pengaruh Washington.

"Saya pikir China telah melakukan pekerjaan yang baik dan sudah sepatutnya memposisikan dirinya sebagai mitra dagang yang andal dan stabil," ujar Derrick Irwin, co-head intrinsic emerging markets equity di Allspring Global Investments kepada Reuters, Rabu (28/1/2026). 

Irwin menambahkan bahwa tawaran kepastian dari China sangat menarik bagi negara-negara yang merasa terancam oleh kebijakan perdagangan AS. Hal ini karena Beijing menawarkan kepastian yang lebih baik.

"Mereka pada dasarnya mengatakan, lihat, Anda memiliki mitra dagang besar di AS yang menjadi sedikit lebih tidak pasti. Kami dapat menawarkan prediktabilitas dan kepastian. Dan menurut saya itu sangat adil," tuturnya.

Kunjungan empat hari Starmer menjadi momen penting karena merupakan kunjungan pertama pemimpin Inggris sejak 2018, menyusul langkah serupa oleh PM Kanada Mark Carney. Dalam kunjungannya, Carney bahkan secara terbuka memuji China sebagai "mitra yang lebih mudah diprediksi dan dapat diandalkan" setelah menandatangani kesepakatan penghapusan hambatan dagang.

Langkah de-risking dari Amerika Serikat tidak hanya dilakukan oleh China, melainkan juga oleh kekuatan ekonomi lainnya seperti Uni Eropa dan India. Pada hari Selasa, kedua pihak menyepakati perjanjian dagang yang memangkas tarif secara signifikan, sebuah langkah yang diproyeksikan mampu menggandakan ekspor Eropa ke India pada satu dekade mendatang.

Meskipun tensi dagang dengan AS meningkat setelah Trump menaikkan tarif hingga di atas 100% pada April 2025, ekonomi China terbukti cukup tangguh. Beijing merespons tekanan tersebut dengan mengalihkan arus barang ke pasar non-AS dan memberikan dukungan masif bagi sektor swasta serta pasar modal domestik.

Data menunjukkan bahwa ekspor China ke AS merosot 20% sepanjang tahun lalu, namun angka pengiriman ke Afrika justru melonjak 25,8%. Pertumbuhan ekspor juga tercatat kuat ke wilayah Asia Tenggara sebesar 13,4% dan Uni Eropa sebesar 8,4%, yang membuktikan diversifikasi pasar China berjalan efektif.

"Banyak negara yang sebelumnya tidak ramah terhadap China kini mulai berbalik ke China karena Amerika Serikat menjadi jauh lebih sulit diprediksi," kata Aleksandar Tomic, profesor ekonomi di Boston College. 

Di dalam negeri, China berhasil mencapai target pertumbuhan 5% meskipun dihantui tekanan deflasi dan krisis sektor properti. Keberhasilan ini didukung oleh pembukaan akses pasar di sektor telekomunikasi, kesehatan, dan pendidikan guna menarik minat investor asing yang sempat ragu.

Cadangan devisa China bahkan menyentuh level tertinggi dalam satu dekade terakhir, yakni sebesar US$3,36 triliun (Rp56.448 triliun). Pasar keuangan domestik juga bergairah dengan kenaikan indeks Shanghai sebesar 27%, yang jauh melampaui kinerja bursa saham di Amerika Serikat pada periode yang sama.

Seiring melemahnya daya tarik dolar akibat diplomasi Trump yang dianggap sporadis, Beijing semakin gencar mempromosikan penggunaan yuan secara internasional. Bank-bank global pun mulai memperkuat infrastruktur pembayaran dalam yuan di koridor perdagangan utama, termasuk di Timur Tengah dan Asia Tenggara.

"Kami telah melihat beberapa siklus upaya China untuk menginternasionalisasi yuan dan kemudian menarik diri," ungkap seorang bankir senior di lembaga keuangan global. Namun, ia menekankan bahwa situasi kali ini berbeda karena kebijakan luar negeri AS saat ini justru mempercepat adopsi yuan di perdagangan lintas batas.

Saat ini, lebih dari separuh transaksi lintas batas China telah menggunakan yuan, melonjak drastis dibandingkan posisi 15 tahun silam. Selain itu, hampir setengah dari total pinjaman luar negeri yang dikucurkan oleh perbankan China kini juga dalam denominasi renminbi.

Meski demikian, Patricia Kim dari Brookings Institution memperingatkan bahwa keramahan China saat ini mungkin hanya merupakan strategi pragmatis jangka pendek. Menurutnya, ketidakpercayaan terhadap AS tidak secara otomatis membuat sekutu-sekutunya menaruh kepercayaan penuh kepada Beijing.

"Banyak negara masih memendam kekhawatiran tentang pendekatan China terhadap perdagangan, penggunaan paksaan ekonomi, serta sengketa maritim yang belum terselesaikan," kata Kim. Ia menilai bahwa meskipun tindakan China saat ini terlihat lebih tenang dibandingkan retorika Trump, perilaku asli Beijing tetap harus diwaspadai oleh komunitas internasional.

(tps/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |