Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mengungkap adanya fenomena oseanografi lokal yang dinilai berisiko tinggi bagi keselamatan pelayaran di Selat Bali. Temuan ini muncul dari hasil investigasi kecelakaan laut yang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Fenomena tersebut selama ini dikenal oleh masyarakat setempat, namun belum sepenuhnya terintegrasi dalam standar keselamatan pelayaran nasional.
"Dari hasil investigasi kita di Selat Bali, itu ada fenomena lokal yang cukup serius. Itu ada arus laut di sisi Ketapang, itu ada arus yang berputar. Istilah mereka itu Maoleng di sisi Ketapang. Jadi kapal kalau tidak terlalu cermat dia akan terbawa arus yang di sisi Bali, di sisi Gilimanuk ada Maoleng. Jadi arusnya berputar juga tapi dari atas ke bawah," kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam Media Rilis di kantor KNKT, Rabu (28/1/2026).
KNKT menilai arus berputar tersebut dapat menciptakan kondisi laut yang sulit diprediksi, terutama bagi kapal yang tidak memiliki pengalaman atau kewaspadaan tinggi. Situasi menjadi semakin berbahaya ketika arus-arus itu saling bertemu di tengah perairan. Dalam kondisi tertentu, kapal bisa tiba-tiba dihantam gelombang besar tanpa peringatan.
"Nah, ketika arus-arus itu ada, di tengah laut itu ada istilahnya, gelombang maling. Jadi istilah-istilah lokal itu ternyata setelah kita dalami, gimana kapal terkena apa ombak besar tiba-tiba, dan ternyata fenomena itu ada di Selat Bali," kata Soerjanto.
Penemuan ini mendorong KNKT untuk melibatkan lembaga lain guna memperdalam kajian ilmiah atas fenomena tersebut. Pemerintah menilai pemahaman berbasis data menjadi krusial agar risiko serupa bisa diminimalkan di masa depan. Apalagi, Selat Bali merupakan salah satu jalur penyeberangan tersibuk di Indonesia.
Foto: Kapal KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) pukul 23.35 WIB. (Dok. Basarnas)
Kapal KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali, Rabu (2/7/2025) pukul 23.35 WIB. (Dok. Basarnas)
"Dan kita juga sudah mengajukan permintaan kepada teman-teman dari BMKG untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang fenomena di Selat Bali dan hal-hal demikian di Indonesia, tempat-tempat yang mempunyai kondisi ekstrem cukup banyak," ujar Soerjanto.
KNKT menekankan bahwa kearifan lokal justru menjadi pintu masuk penting dalam memahami dinamika laut Indonesia. Istilah-istilah yang selama ini digunakan nelayan dan pelaut setempat dinilai menyimpan informasi keselamatan yang berharga. Ke depan, temuan ini akan menjadi dasar perumusan prosedur resmi bagi pelayaran.
"Jadi salah satunya di Selat Bali yang paling berbahaya itu adalah Maoleng dan Maone tadi, terutama gelombang maling. Itu jadi kami belajar dari kearifan lokal dan hal tersebut nantinya seperti apa dalam prosedur pelayaran di Selat Bali untuk bisa dijadikan SOP kapal-kapal yang berlayar," ujarnya.
Pernyataan tersebut tidak lepas dari kecelakaan yang beberapa kali terjadi di Selat Bali, terbaru KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di Selat Bali pada Rabu (2/7/2025) malam. Kapal membawa 65 orang (53 penumpang, 12 kru) dan 22 kendaraan.
Sebelumnya, KMP Yunicee juga tenggelam di Selat Bali, tepatnya di perairan kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Bali pada Selasa (29/6/2021). Kemudian KMP Rafelia 2 juga tenggelam dalam perjalanan dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Ketapang pada Jumat (4/3/2016).
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1















































