Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kembali menantikan langkah apa yang akan diambil oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) dalam hasil pertemuannya.
The Fed akan mengumumkan hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (28/1/2026) waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia.
Bagi pelaku pasar Indonesia, pengumuman The Fed ini menjadi krusial terutama setelah apa yang terjadi pada hari ini. Sebagai informasi, bursa saham Indonesia hari ini terguncang bahkan hingga dikenai aturan trading halt setelah jatuh 8%.
Pada pertemuan FOMC terakhir, pada 9-10 Desember 2025, The Fed kembali melakukan pemangkasan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin atau turun ke level 3,50-3,75%. Sekaligus menjadi pemangkasan ketiga sepanjang 2025 setelah September dan Oktober.
Posisi Suku bunga saat ini adalah yang terendah sejak September 2022 atau lebih dari tiga tahun terakhir.
Namun, di pertemuan pertamanya di 2026 ini, berdasarkan survei yang dilakukan oleh CME FedWatch Tool menunjukkan bahwa 97,2% pelaku pasar memperkirakan bahwa The Fed akan menahan suku bunga nya pada rilis FOMC kali ini.
Foto: CME FedWatch Tool
FOMC Probabilites
Berikut ini empat hal utama yang akan menjadi sorotan sorotan pasar menjelang pengumuman The Fed.
1. Suku Bunga
Pertemuan FOMC Januari digelar selama dua hari atau sejak Selasa hingga Rabu waktu AS, di tengah ketidakpastian arah ekonomi dan pasar yang masih sensitif terhadap sinyal kebijakan bank sentral.
Komite pembuat kebijakan The Federal Reserve akan membahas perkembangan inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta apakah sikap kebijakan moneter perlu disesuaikan. Keputusan resminya akan diumumkan lewat pernyataan pada Rabu pukul 14.00 ET, disusul konferensi pers Ketua The Fed Jerome Powell pukul 14.30 ET.
Jika dikonversi ke waktu Indonesia, pengumuman kebijakan diperkirakan keluar pada Kamis (29/1/2026) pukul 02.00 WIB, lalu konferensi pers Powell pukul 02.30 WIB.
Pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga acuan (target federal funds rate) di kisaran 3,50%-3,75% pada pertemuan perdana 2026 ini, setelah rangkaian pemangkasan suku bunga pada akhir 2025.
Sejalan dengan itu, alat FedWatch dari CME Group menunjukkan peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan Januari ini sangat kecil. Pelaku pasar hanya melihat sekitar 2,8% kemungkinan pemotongan 25 bps, sementara sisanya memproyeksikan tahan suku bunga.
Beberapa pejabat The Fed belakangan juga menekankan pendekatan "wait and see", sembari menimbang data inflasi, ketahanan pertumbuhan ekonomi, serta dinamika ketidakpastian kebijakan yang ikut membebani sentimen pasar
2. Antara Menahan Inflasi atau Menopang Tenaga Kerja
Pasar juga akan menantikan seberapa besar The Fed menyoroti dua hal yang arahnya berlawanan, yakni inflasi yang masih tinggi dan pasar tenaga kerja yang mulai melunak.
Indikator inflasi yang paling sering dijadikan acuan The Fed, yakni PCE Price Index, masih berada di kisaran 2,8% pada akhir 2025, di atas target 2%, dengan sebagian tekanan dinilai ikut dipengaruhi tarif.
Di sisi lain, laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan penambahan pekerjaan AS hanya sekitar 50 ribu, merujuk pada data Nonfarm Payrolls. Angka ini memberi sinyal laju perekrutan mulai mendingin, meski belum sedalam pelemahan yang sempat terlihat pada paruh kedua 2025.
Hal ini membuat dilema The Fed tetap hidup. Inflasi yang masih lengket biasanya menuntut suku bunga bertahan lebih tinggi, sementara pasar kerja yang mendingin membuka ruang pelonggaran agar pertumbuhan ekonomi mampu tetap terjaga.
Karena itu, pelaku pasar akan mencermati apakah Powell masih memberi bobot lebih besar pada upaya menopang pasar tenaga kerja saat mulai melemah, sambil tetap menjaga opsi kebijakan terbuka karena arah ekonomi dinilai belum sepenuhnya jelas.
3. Nada Pernyataan Jerome Powell
Meski pasar nyaris yakin suku bunga bakal ditahan pada akhir rapat Rabu (28/1/2026), perhatian besar justru akan mengarah ke bahasa pernyataan kebijakan dan jawaban Jerome Powell dalam konferensi pers.
Pasar akan membaca apakah jeda ini bernada hawkish, yang berarti siklus pelonggaran bisa berhenti lebih lama, atau justru dovish, yang mengisyaratkan pemangkasan masih mungkin berlanjut hanya saja belum dilakukan sekarang. Pricing futures saat ini juga mencerminkan ekspektasi 1 sampai 2 kali pemangkasan sepanjang 2026, dengan jendela yang paling banyak diperkirakan berada di sekitar pertengahan tahun dan akhir tahun.
Selain itu, pelaku pasar akan mencermati apakah The Fed memberi sinyal perubahan penilaian terhadap ekonomi, mulai dari kegiatan ekonomi yang dinilai lebih solid, pasar tenaga kerja yang tetap stabil, hingga bagaimana mereka memotret proses disinflasi.
Detail kecil seperti penghapusan atau penambahan frasa terkait risiko maupun kondisi keuangan berpotensi memicu reaksi pasar karena akan dibaca sebagai petunjuk arah langkah kebijakan berikutnya.
4.Reaksi Powell atas Ancaman Pidana dan Ujian Independensi The Fed
Selain arah kebijakan, pasar juga akan menanti bagaimana Jerome Powell merespons kelanjutan tekanan politik yang menyasar bank sentral, terutama setelah mencuat isu ancaman pidana terkait investigasi dan subpoena dari Departemen Kehakiman atas proyek renovasi kantor pusat The Fed.
Powell sebelumnya menilai ancaman tersebut bukan soal substansi renovasi, melainkan bentuk tekanan agar kebijakan moneter mengikuti preferensi Presiden Donald Trump.
Karena itu, konferensi pers pasca rapat FOMC berpotensi menjadi sorotan besar, bukan hanya untuk membaca sinyal langkah suku bunga berikutnya, tetapi juga untuk menangkap nada dan ketegasan Powell dalam menegaskan independensi The Fed di tengah eskalasi tekanan politik.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
1















































