Jakarta, CNBC Indonesia - Jepang akan menghidupkan kembali pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) terbesar di dunia, Kashiwazaki-Kariwa, di Fukushima, Provinsi Niigata, minggu depan. Sebelumnya, gangguan pada alarm memaksa penangguhan pengaktifan reaktor yang hampir 15 tahun setop beroperasi itu.
Kepala pembangkit Kashiwazaki-Kariwa, yang dioperasikan oleh Tokyo Electric Power (TEPCO), Takeyuki Inagaki, mengatakan bahwa mereka berencana untuk menghidupkan reaktor pada 9 Februari. "Gangguan tersebut terkait dengan pengaturan alarm dan tidak memengaruhi pengoperasian pembangkit yang aman," katanya dimuat AFP, Jumat (6/2/2026).
Kashiwazaki-Kariwa berlokasi sekitar 220 kilometer (km) barat laut Tokyo dan memiliki tujuh reaktor. Pembangkit ini termasuk di antara 54 reaktor yang ditutup setelah gempa dan tsunami 2011 yang memicu kecelakaan nuklir terburuk sejak Chernobyl di Fukushima Daiichi.
Sejak itu, Jepang baru mengaktifkan kembali 14 dari 33 reaktor yang secara teknis masih dapat dioperasikan, seiring upaya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Awalnya, TEPCO mempertimbangkan PLTN menyalakan sepenuhnya 20 Januari, namun ditangguhkan hanya beberapa jam setelah proses dimulai.
Sebelumnya pada Desember 2025, dilaporkan bagaimana penolakan publik masih sangat kuat. Survei prefektur pada Oktober tahun lalu menunjukkan 60% warga menilai syarat pengaktifan kembali belum terpenuhi sementara hampir 70% menyatakan khawatir terhadap TEPCO sebagai operator.
Untuk meredam resistensi, TEPCO menjanjikan investasi 100 miliar yen (sekitar Rp10,8 triliun) ke Niigata. Pembayaran akan diberikan selama 10 tahun.
"Kami tahu secara langsung risiko kecelakaan nuklir dan tidak bisa mengabaikannya," kata warga bernama Ayako Oga (52), seraya mengaku masih mengalami gejala trauma akibat bencana tersebut.
Gubernur Niigata Hideyo Hanazumi, juga mengakui dilema publik. Padahal ia mendukung pengaktifan kembali bulan lalu.
"Saya ingin melihat era di mana kita tidak perlu bergantung pada sumber energi yang menimbulkan kecemasan," ujarnya.
Dihidupkannya kembali nuklir, sejalan dengan agenda penguatan keamanan energi. Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi mendukung reaktivasi nuklir untuk menekan biaya impor energi fosil yang menyumbang 60-70% pembangkit listrik Jepang.
Perlu diketahui, Jepang menghabiskan 10,7 triliun yen (US$68 miliar) untuk impor LNG dan batu bara di 2024. Ke depan, meski populasi menyusut, Jepang memproyeksikan lonjakan permintaan listrik akibat ekspansi pusat data AI yang boros energi.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1
















































