Agama Jadi Penentu: Hanya Negara Katolik Bisa Juara Piala Dunia?

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 July 2026 03:58

Jakarta, CNBC Indonesia - Piala Dunia 2026 sudah memasuki babak perempat final. Persaingan menuju trofi paling bergengsi di sepak bola dunia semakin ketat, dengan sejumlah tim besar masih berusaha menjaga peluang menjadi juara.

Di tengah panasnya persaingan itu, ada satu fakta historis yang menarik. Sejak Piala Dunia pertama digelar pada 1930, mayoritas negara yang berhasil membawa pulang trofi berasal dari negara dengan latar agama penduduk Kristen Katolik.

Berikut daftar juara Piala Dunia sejak 1930 hingga 2022 dan mayoritas agama penduduk negara tersebut.

Negara Katolik Paling Dominan

Sejak 1930 hingga 2022, Piala Dunia sudah digelar 22 kali. Dari jumlah itu, negara dengan latar Katolik berhasil menyabet 17 gelar.

Brasil menjadi juara lima kali, Italia empat kali, Argentina tiga kali, Uruguay dua kali, Prancis dua kali, dan Spanyol satu kali. Semua negara tersebut memiliki latar belakang mayoritas masyarakatnya yang beragama Katolik.

Sementara itu, negara dengan latar Kristen Protestan/Anglikan, mengoleksi 5 gelar. Gelar tersebut berasal dari Jerman sebanyak empat kali dan Inggris satu kali.

Hingga Piala Dunia 2022, belum ada negara dengan mayoritas penduduk di luar Kristen, seperti Muslim, Hindu, Buddha, atau agama lain, yang berhasil menjadi juara dunia.

Hal ini terjadi lantaran, sejarah sepak bola modern yang lebih dulu berkembang kuat di Eropa dan Amerika Latin, dua kawasan yang sejak lama memiliki banyak negara dengan mayoritas penduduk berlatar Kristen, terutama Katolik.

Brasil, Raja Dunia dari Negara Katolik

Jika melihat jumlah gelar, Brasil masih menjadi negara tersukses sepanjang sejarah Piala Dunia. Selecao mengoleksi lima trofi, lebih banyak dibanding negara mana pun. Brasil menjadi juara pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan terakhir pada 2002.

Di bawah Brasil ada Italia dan Jerman/Jerman Barat dengan masing-masing empat gelar. Argentina menyusul dengan tiga gelar setelah menjadi juara pada 2022. Sementara Prancis dan Uruguay memiliki dua gelar, lalu Inggris dan Spanyol masing-masing satu gelar.

Menariknya, seluruh gelar Brasil diraih ketika negara itu masih sangat lekat dengan mayoritas masyarakat masih memegang agama Katolik. 

Pada 2002, ketika Brasil terakhir kali mengangkat trofi Piala Dunia, hampir 80% penduduk Brasil masih mengidentifikasi diri sebagai Katolik. Setelah itu, komposisi keagamaan di Negeri Samba berubah cukup besar.

Mengutip The Times, jumlah warga Katolik Brasil kini turun menjadi sekitar 55% berdasarkan sensus terbaru. Sebaliknya, kelompok Kristen evangelis atau Protestan tumbuh pesat. Pada 2002, hanya sekitar 15% penduduk Brasil yang mengidentifikasi diri sebagai evangelis atau Protestan. Kini, porsinya sudah naik menjadi lebih dari 25%.

Perubahan itu kini ikut masuk ke perdebatan sepak bola Brasil. Setelah tersingkir dari Piala Dunia 2026 akibat kalah 1-2 dari Norwegia, sebagian publik Brasil mulai melakukan cocokologi dengan mengaitkan kegagalan Selecao dengan perubahan budaya dan agama di tim nasional.

Perdebatan tersebut ramai di media sosial. Sebagian warganet menilai Brasil mulai kehilangan gaya lama yang identik dengan samba, kebebasan bermain, dan joga bonito. Mereka membandingkan generasi lama Brasil yang lekat dengan kultur Katolik dengan skuad saat ini yang banyak diisi pemain Kristen evangelis.

Salah satu meme yang ramai menyebut, jika pemain Brasil berdoa seperti gringo, maka mereka juga bermain seperti gringo. Istilah itu merujuk pada anggapan bahwa born-again Christianity atau kekristenan lahir baru merupakan pengaruh budaya Amerika Serikat yang dianggap tidak cocok dengan identitas sepak bola Brasil.

Perubahan tersebut memang terlihat di skuad Brasil saat ini. Dari 26 pemain yang dibawa, setidaknya 20 pemain merupakan Kristen evangelis. Banyak dari mereka cukup terbuka menunjukkan identitas religius, mulai dari unggahan ayat Alkitab di media sosial hingga ucapan syukur kepada Tuhan setelah pertandingan.

Neymar menjadi salah satu nama yang paling sering dibahas. Ia pernah dikenal dengan citra playboy, tetapi kemudian dibaptis dan disebut lahir kembali secara spiritual pada 2017.

Sejak saat itu, Neymar semakin sering mengunggah pesan dan ayat Alkitab di media sosial miliknya.

Nama Endrick juga ikut masuk dalam perdebatan. Pemain muda Brasil itu gagal memaksimalkan peluang penting saat melawan Norwegia. Setelah laga, ia mengatakan tetap berterima kasih kepada Tuhan atas kesempatan yang didapat. Komentar seperti ini memicu kritik dari pengamat sepak bola Brasil, yang menilai para pemain terlalu cepat menyerahkan hasil kepada Tuhan setelah gagal di lapangan.

Namun perlu di garis bawahi baw

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |