Trump Panik! Minta Tolong China dan NATO ke Selat Hormuz, Tapi Dicuekin

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kian memanas setelah Selat Hormuz diblokade oleh Iran, memicu gangguan serius pada jalur distribusi energi global. Situasi ini menyeret Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump ke dalam manuver diplomasi dan militer yang semakin agresif terhadap sekutu maupun lawan.

Awalnya, Trump secara terbuka meminta dukungan negara-negara besar dunia untuk ikut mengamankan jalur pelayaran strategis tersebut. Ia bahkan menyebut nama-nama seperti China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, hingga Inggris untuk mengirimkan kapal perang guna menjaga arus perdagangan tetap berjalan di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker.

"Semoga China, Prancis, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan negara-negara lain yang terpengaruh oleh kendala buatan ini akan mengirimkan kapal ke daerah tersebut sehingga Selat Hormuz tidak lagi menjadi ancaman dari negara yang telah benar-benar dilumpuhkan," tegas Trump.

Ia juga mengklaim kemampuan militer Iran telah hancur sepenuhnya, meski mengakui Teheran masih mampu melancarkan serangan terbatas menggunakan drone, ranjau, maupun rudal jarak dekat di sekitar jalur laut tersebut. 

"Sementara itu, Amerika Serikat akan membombardir garis pantai habis-habisan, dan terus menembak jatuh kapal-kapal Iran. Dengan satu atau lain cara, kita akan segera membuka, mengamankan, dan membebaskan Selat Hormuz," kata Trump.

Namun, seruan tersebut tidak mendapat respons sesuai harapan. Sejumlah sekutu utama justru menunjukkan sikap hati-hati bahkan penolakan. Negara-negara Eropa, termasuk Prancis dan Jerman, menegaskan tidak ingin terlibat langsung dalam konflik yang dinilai bukan bagian dari mandat mereka.

Jepang dan Korea Selatan juga menyatakan bahwa ambang batas untuk mengirim kekuatan militer ke kawasan konflik sangat tinggi dan membutuhkan pertimbangan matang.

Minimnya dukungan ini membuat Trump meningkatkan tekanan, termasuk kepada NATO. Ia memperingatkan bahwa aliansi tersebut bisa menghadapi konsekuensi serius jika tidak ikut membantu membuka jalur strategis tersebut.

"Jika tidak ada tanggapan atau jika tanggapannya negatif, saya pikir itu akan sangat buruk bagi masa depan NATO," ujarnya.

Meski demikian, dalam perkembangan terbaru, Trump justru mengambil nada berbeda. Dalam pernyataan di Gedung Putih, ia menegaskan bahwa Washington pada dasarnya mampu menangani situasi tanpa bantuan pihak lain. "Kami tidak terlalu membutuhkan bantuan, bahkan kami tidak membutuhkan bantuan," kata Trump.

Ia juga menyindir sekutu-sekutu yang dinilai enggan membalas dukungan militer Amerika selama ini.

Blokade Selat Hormuz sendiri berdampak signifikan terhadap pasar energi global. Jalur ini diketahui dilalui sekitar 20% hingga 30% pasokan minyak dunia. Sejak konflik meningkat, harga minyak melonjak tajam, bahkan dilaporkan telah naik lebih dari 40% dalam waktu singkat. Aktivitas pelayaran juga anjlok drastis, dari ratusan kapal per hari menjadi hanya segelintir kapal yang berani melintas.

Situasi ini menempatkan ekonomi global dalam tekanan baru, di tengah kekhawatiran bahwa konflik berkepanjangan akan mengganggu stabilitas pasokan energi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

(fys/mij)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |