Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia kembali melonjak tajam dalam beberapa hari terakhir, seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Data Refinitiv menunjukkan harga Brent pada perdagangan Jumat (13/3/2026) pukul 10.00 WIB berada di US$101,16 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) tercatat di US$96,34 per barel. Kenaikan ini menempatkan harga minyak di level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Lonjakan harga terjadi setelah pasar energi global diguncang eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia, terutama terkait ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Melansir dari Reuters, harga minyak sempat terkoreksi pada Jumat pagi setelah Amerika Serikat mengeluarkan lisensi sementara selama 30 hari bagi negara-negara untuk membeli minyak Rusia yang saat ini terdampar di laut. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk meredakan kekhawatiran pasokan global yang semakin ketat.
Namun, langkah tersebut hanya memberi jeda singkat bagi pasar. Melansir dari Reuters, analis Haitong Futures Yang An menilai lisensi tersebut belum menyentuh persoalan inti. Menurutnya, stabilitas pasar energi global sangat bergantung pada kembalinya jalur pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini mengangkut sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.
Dalam upaya menahan lonjakan harga, pemerintah Amerika Serikat juga mengumumkan pelepasan 172 juta barel minyak dari Strategic Petroleum Reserve (SPR). Kebijakan ini dilakukan secara terkoordinasi dengan negara-negara anggota International Energy Agency (IEA) yang berencana melepaskan 400 juta barel cadangan minyak strategis, angka yang disebut sebagai pelepasan terbesar sepanjang sejarah lembaga tersebut.
Meski demikian, sentimen pasar tetap dibayangi eskalasi militer di kawasan Teluk. Melansir dari Reuters, pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, menegaskan bahwa negaranya akan terus melanjutkan perlawanan dan mempertahankan penutupan Selat Hormuz sebagai alat tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel. Pernyataan tersebut langsung memicu lonjakan harga minyak lebih dari 9% pada Kamis, sekaligus membawa harga ke level tertinggi sejak Agustus 2022.
Situasi keamanan di kawasan juga semakin memburuk. Dua kapal tanker bahan bakar dilaporkan diserang oleh perahu bermuatan bahan peledak milik Iran di perairan Irak. Pejabat keamanan Irak mengatakan kepada media pemerintah bahwa seluruh pelabuhan ekspor minyak negara tersebut kini menghentikan operasi, sebuah perkembangan yang memperketat pasokan minyak dari kawasan Teluk.
Ketegangan ini mendorong berbagai negara mengambil langkah darurat. Oman, melansir dari laporan Bloomberg yang dikutip Reuters, memindahkan seluruh kapal dari terminal ekspor minyak utama Mina Al Fahal sebagai langkah pencegahan. Sementara itu Arab Saudi mulai mengalihkan rute tanker melalui pipa East-West menuju Laut Merah, meski harus membayar premi logistik yang lebih mahal.
Di tengah situasi tersebut, pasar minyak global bergerak dalam volatilitas tinggi sepanjang Maret. Data Refinitiv menunjukkan Brent sempat berada di US$81 per barel pada awal Maret, sebelum melonjak ke atas US$100 per barel hanya dalam waktu kurang dari dua pekan. Pergerakan ini mencerminkan sensitivitas pasar terhadap gangguan pasokan dari kawasan Teluk Persia.
Menariknya, Iran disebut masih mengizinkan satu hingga dua tanker per hari melewati Selat Hormuz, terutama menuju China. Melansir dari Reuters, langkah ini dinilai sebagai strategi Tehran untuk menjaga aliran pendapatan minyak sekaligus mempertahankan dukungan Beijing di tengah tekanan geopolitik yang semakin memanas.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

3 hours ago
1
















































