Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman (ist)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman meminta pemerintah, untuk merumuskan peta jalan ekspor beras produksi petani dalam negeri, seiring berlimpahnya stok beras yang mencapai angka 3,53 juta ton di akhir Desember 2025 lalu.
“Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global,” ujar Alex saat bersilaturahmi bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat,,Sabtu (7/3/2026).
Dijelaskan Alex, untuk faktor menurunkan biaya produksi, petani inovatif dari Sumatera Barat, Ir Djoni, telah menemukan metode Sawah Pokok Murah (SPM)
Dengan metode yang telah diujicoba di Sumbar ini, hasil panen tidak kalah dengan metode konvensional. Padahal, metode ini tidak melalui pengolahan tanah yang merupakan komponen biaya terbesar dalam bercocok tanam.
Kemudian, metode ini juga tak butuh pemupukan kimia serta penyemprotan pestisida maupun fungsida. Bahkan, cuaca kemarau juga tak terlalu jadi rintangan. Sehingga, makin memperkecil potensi gagal panen karena faktor cuaca.
“Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumbar ini sudah mampu swasembada beras sejak lama,” ungkapnya .
Sementara cara mengatasi persoalan angka patahan (broken) ataupun menir (pecahan kecil) beras, menurut Alex, masalah ini memerlukan campur tangan pemerintah melalui BRIN dan dunia perguruan tinggi dengan riset-riset berkelanjutan.
“Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen,” ujarnya.
Jika kondisi ini tak segera diatasi, tambahnya, pasar beras global akan sangat sulit ditembus,
Jika pasar global tak bisa ditembus, tambah Alex, program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, akan menghadapi kendala cukup pelik.
“Saat ini, Presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab,” tegas Alex. (Rel/id10)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































