Ringgit Ambruk 4 Hari, Asing Kabur dari Malaysia! RI Jadi Pelarian?

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

09 September 2026 15:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Ringgit Malaysia kembali melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (9/9/2026), melanjutkan tren negatif yang berlangsung sejak awal September.

Merujuk data Refinitiv per pukul 15.35 WIB, ringgit melemah 0,17% ke posisi MYR4,064/US$, dari penutupan perdagangan sebelumnya di MYR4,057/US$.

Pelemahan tersebut berlangsung selama empat hari perdagangan beruntun sejak Jumat (4/9/2026). Dalam periode tersebut, ringgit telah terdepresiasi sekitar 0,73%.

Secara kumulatif, ringgit telah melemah sekitar 1,04% sepanjang September. Pada akhir Agustus, mata uang Malaysia masih berada di posisi MYR4,022/US$.

Pergerakan ringgit kali ini terbilang tidak lazim karena terjadi ketika dolar AS justru sedang melemah. Indeks dolar AS atau DXY pada waktu yang sama turun tipis 0,02% ke posisi 98,769.

Sejak awal September, DXY bahkan telah melemah sekitar 0,66% dari posisi 99,428 pada akhir Agustus. Biasanya, penurunan indeks dolar memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk ringgit, untuk menguat terhadap greenback.

Namun, kondisi tersebut tidak terlihat pada ringgit. Mata uang Malaysia justru terus melemah ketika sejumlah mata uang Asia lainnya, seperti won Korea Selatan, yen Jepang, dong Vietnam, dan rupiah, tengah bergerak dalam tren penguatan terhadap dolar AS.

Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap ringgit tidak hanya berasal dari pergerakan dolar AS secara global.

Faktor yang lebih khusus dari Malaysia, termasuk keluarnya dana asing dari pasar saham, turut membebani pergerakan mata uang tersebut.

Dana Asing Keluar dari Bursa Malaysia

Pelemahan ringgit dalam beberapa waktu terakhir berjalan seiring dengan aksi jual investor asing di pasar saham Malaysia. Arus modal yang keluar dari Bursa Malaysia diperkirakan menjadi salah satu faktor yang turut menekan mata uang tersebut.

Melansir The Star, laporan CGS International (CGSI) Research menunjukkan investor asing membukukan penjualan bersih sebesar RM2 miliar atau sekitar Rp8,7 triliun sepanjang Agustus 2026.

Tekanan jual terjadi hampir sepanjang bulan. Investor asing mencatatkan penjualan bersih dalam 17 dari 19 hari perdagangan. Kondisi tersebut membuat porsi kepemilikan asing di pasar saham Malaysia turun menjadi 18,1%, level terendah dalam catatan CGSI.

Secara kumulatif, penjualan bersih investor asing mencapai RM4,9 miliar hingga akhir Agustus. Setelah ditambah penjualan bersih sekitar RM491,5 juta pada 1-8 September, arus keluar sejak awal tahun mencapai sekitar RM5,4 miliar atau setara Rp23,4 triliun.

Aksi jual terjadi ketika imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara maju berada di level tinggi. Kondisi tersebut membuat instrumen pendapatan tetap menawarkan imbal hasil yang lebih menarik sehingga mendorong sebagian investor mengurangi penempatan dananya di pasar saham negara berkembang.

Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang yang telah mencapai sekitar 3% turut menyediakan pilihan investasi dengan risiko relatif rendah.

Pada saat bersamaan, pengelola dana global juga meningkatkan penempatan dana pada saham teknologi dan semikonduktor di Taiwan serta Korea Selatan, seiring berlanjutnya tren investasi kecerdasan buatan atau AI.

Pasar saham Malaysia tidak banyak menikmati perpindahan dana tersebut karena indeks acuannya masih didominasi saham sektor keuangan dan utilitas.

Meskipun Malaysia memiliki peran dalam industri semikonduktor dan pembangunan pusat data, bobot saham teknologi dalam FBM KLCI relatif lebih kecil dibandingkan indeks saham Taiwan dan Korea Selatan.

Tekanan arus modal sebenarnya telah terlihat sejak kuartal II-2026. Berdasarkan data Departemen Statistik Malaysia, neraca modal dan finansial Malaysia mencatat defisit sebesar RM26,96 miliar atau sekitar Rp116,9 triliun pada periode tersebut.

Defisit ini menunjukkan bahwa secara bersih lebih banyak dana yang mengalir keluar melalui berbagai transaksi investasi dibandingkan dana yang masuk. Namun, angka tersebut mencakup aktivitas investasi yang lebih luas dan tidak hanya berasal dari transaksi investor asing di Bursa Malaysia.

IHSG Raup Dana Asing Saat Bursa Malaysia Tertekan

Di saat bursa saham Malaysia tengah mengalami tekanan dari aksi jual investor asing, nasib berbeda justru kita alami di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), yang justru mencatatkan inflow dari pelaku pasar asing. 

Berdasarkan statistik Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing mencatatkan beli bersih sebesar Rp1,19 triliun sepanjang Agustus 2026. Meskipun penjualan bersih terjadi dalam 11 dari 19 hari perdagangan, besarnya dana yang masuk pada beberapa hari mampu menutup keseluruhan arus keluar.

Arus dana asing semakin deras pada awal September. Sepanjang 1-8 September, investor asing membukukan beli bersih sebesar Rp2,46 triliun. Arus masuk terbesar terjadi pada 1 September senilai Rp2,03 triliun, disusul 3 September sebesar Rp1,07 triliun.

Secara keseluruhan, dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia mencapai sekitar Rp3,65 triliun sepanjang Agustus hingga 8 September.

Entah kebetulan atau tidak, kondisi tersebut berbanding terbalik dengan Bursa Malaysia yang mencatatkan arus keluar sekitar Rp10,8 triliun. Apakah dana asing yang keluar dari Malaysia kemudian mengalir ke Indonesia? Belum ada data yang dapat memastikan hal itu.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |