Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Haiti menggelontorkan dana sekitar US$17 juta (sekitar Rp 299,4 miliar) untuk membantu 140.000 orang tua murid menghadapi tahun ajaran baru 2026-2027. Bantuan tersebut diberikan dalam bentuk transfer tunai sebesar 15.000 gourdes (Rp 2,04 juta) kepada setiap penerima yang memenuhi syarat.
Mengutip The Haitian Times, program bantuan tersebut merupakan bagian dari paket kebijakan pemerintah untuk meringankan beban keluarga menjelang dimulainya tahun ajaran baru yang resmi dibuka pada Senin. Program transfer tunai tersebut dijalankan melalui kerja sama Kementerian Pendidikan Nasional Haiti (MENFP) bersama Badan Bansos (FAES).
Bantuan ditujukan kepada orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah negeri, sekolah komunitas, sekolah kota maupun sekolah kristen (presbiterian) di wilayah kurang mampu. Pemerintah Haiti juga mengumumkan paket bantuan yang lebih luas pada 4 September 2026. Program tersebut mencakup dukungan keuangan bagi 130.000 orang tua dan 30.000 keluarga rentan.
Selain bantuan tunai, pemerintah akan melakukan rehabilitasi terhadap 52 sekolah dan mendistribusikan 8.000 perabot sekolah. Pemerintah juga mengerahkan sekitar 10.750 personel kepolisian untuk menjaga keamanan selama pembukaan kembali sekolah dan sepanjang tahun ajaran berlangsung.
"Pemerintah bekerja untuk membuat musim kembali ke sekolah lebih mudah diakses, lebih siap dan lebih aman bagi siswa serta keluarga Haiti," kata pemerintah dalam pengumumannya pada 4 September, dikutip Rabu (9/9/2026).
"Dalam kondisi Haiti, tidak seharusnya ada orang tua yang harus memilih antara memberi makan keluarga dan menyekolahkan anaknya," tambahnya.
Bantuan tersebut diberikan ketika sistem pendidikan Haiti masih menghadapi tekanan berat akibat kekerasan, kemiskinan dan perpindahan penduduk.
Menurut UNICEF, lebih dari 1.600 sekolah ditutup sepanjang tahun ajaran 2024-2025. Penutupan tersebut berdampak terhadap sekitar 7.500 guru dan membuat lebih dari 240.000 siswa kehilangan akses belajar. Kondisi tersebut semakin memburuk akibat kekerasan kelompok bersenjata dan geng yang menguasai sejumlah wilayah Haiti.
Pada awal Juni 2026, sekitar 1,5 juta orang di Haiti tercatat menjadi pengungsi internal. Hampir setengah dari jumlah tersebut merupakan anak-anak. UNICEF juga memperkirakan sekitar 2,8 juta anak di Haiti membutuhkan bantuan kemanusiaan.
Hampir 1,5 juta anak atau sekitar 41% dari populasi usia sekolah serta para guru membutuhkan dukungan untuk dapat mengakses pendidikan. Sejumlah sekolah bahkan dilaporkan ditempati kelompok bersenjata, dijadikan tempat berlindung oleh keluarga yang mengungsi, atau mengalami kerusakan dan kehancuran.
Sementara itu, untuk memastikan kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan, pemerintah mengerahkan 10.750 anggota Kepolisian Nasional Haiti dalam operasi keamanan khusus. Operasi tersebut dilakukan bersamaan dengan pembukaan kembali sekolah dan akan berlanjut sepanjang tahun ajaran 2026-2027.
Selain keamanan, pemerintah juga berupaya memperbaiki infrastruktur sekolah serta meningkatkan kelancaran lalu lintas dan mengurangi risiko akibat cuaca ekstrem. Tahun ajaran 2026-2027 Haiti dijadwalkan berlangsung selama 194 hari sekolah, mulai 7 September 2026 hingga Juli 2027.
Haiti sendiri memang mengalami krisis ekonomi dan fiskal yang sangat berat. Dari data Institut Statistik Haiti, sepanjang Januari-Maret 2026, aktivitas ekonominya terkontraksi 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy).
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

36 minutes ago
2
















































