JAKARTA (Waspada.id): Gejolak di Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu, hingga kini masih membara.
Memasuki hari ke-13 perang, korban tewas mencapai lebih dari 1.300 orang.
Terbaru, serangan AS dan Israel menargetkan bank di ibu kota Teheran, yang kemudian dibalas Iran dengan mengancam akan menargetkan aset ekonomi AS dan Zionis di Timteng.
Berikut fakta-fakta terkini perang AS-Israel vs Iran.
Korban tewas 1.300
Per Rabu (11/3) atau hari ke-13 perang, pihak berwenang Iran melaporkan nyaris 10.000 warga terdampak bombardir dan lebih dari 1.300 orang terbunuh, demikian dikutip Al Jazeera.
Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) menyebut dari total korban tewas itu antara lain 1.262 warga sipil dan 190 personel militer.
Mojtaba Khamenei terluka
Pemimpin Tertinggi baru Iran Mojtaba Khamenei dikabarkan terluka imbas bombardir habis-habisan AS dan Israel ke negara tersebut.
Media pemerintah televisi melaporkan Motjaba “terluka dalam perang Ramadan,” tetapi mereka tak merinci luka yang dimaksud.
Media Amerika Serikat, New York Times, mengutip tiga sumber pejabat Iran yang mengatakan Mojtaba terluka.
“[Mojtaba] mengalami luka, termasuk di bagian kaki, tapi dia sadar dan berlindung di tempat paling aman dengan akses komunikasi terbatas,” demikian kata para sumber itu.
Namun anak Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang juga penasihat pemerintah, Yousef Pezeshkian, mengatakan kondisi Mojtaba selamat dan sehat.
“Saya mendengar kabar Bapak Mojtaba Khamenei terluka. Saya sudah tanya ke beberapa teman yang mengetahui masalah itu. Mereka bilang ke saya, terima kasih Tuhan, dia selamat dan sehat,” kata Yousef, dikutip AFP, Rabu (3/11).
Iran siap serang bank AS-Israel
Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) siap menggempur aset ekonomi Amerika Serikat di negara-negara Timur Tengah usai bank di Teheran dibombardir.
Komando operasi militer pusat Khatam Al Anbiya menyatakan target itu termasuk bank AS dan Israel.
“Musuh sudah memberi kebebasan kita untuk menyasar pusat-pusat ekonomi dan bank yang terkait Amerika Serikat dan rezim zionis,” demikian pernyataan militer Iran, dikutip AFP, Rabu (11/3).
Drone Serang Pelabuhan Oman sampai terbakar
Oman melaporkan salah satu tanki bahan bakar di Pelabuhan Salalah diserang drone pada Rabu (11/3).
Serangan ini berlangsung kala Iran masih melancarkan serangan balasan ke Israel serta pangkalan militer dan aset Amerika Serikat lainnya di Timur Tengah.
Menurut laporan kantor berita negara Oman News Agency, petugas pertahanan sipil tengah berupaya memadamkan kebakaran di pelabuhan tersebut.
Media itu menuturkan proses penanganan kebakaran tersebut “mungkin memakan waktu”, tanpa memberikan rincian lebih lanjut.
Belum ada kejelasan soal dari mana drone tersebut berasal. Presiden Iran Masoud Pezeshkian langsung melakukan sambungan telepon dengan Sultan Oman Haitham bin Tariq terkait hal ini.
Pezeshkian menyatakan bahwa insiden di Pelabuhan Salalah akan diselidiki, menurut laporan media Iran.
Dalam keterangan resmi percakapan kedua pemimpin yang dirilis Oman News Agency, Sultan Haitham juga menyampaikan ketidakpuasan serta mengecam serangan terhadap Oman, meski tidak secara langsung merujuk pada serangan di pelabuhan tersebut.
Selat Hormuz bergejolak
Sejak AS-Israel menggempur Iran, Teheran menutup Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan penting untuk minyak global.
Tiga kapal kena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz pada Rabu (11/3). Salah satu kapal bahkan mengalami kebakaran.
Kapal-kapal tersebut yakni kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, kapal berbendera Jepang One Majesty, dan kapal berbendera Kepulauan Marshal Star Gwyneth.
Jutaan orang Israel tak bisa tidur karena Iran
Jutaan warga Israel menghabiskan malam tanpa tidur, sepanjang malam hingga Rabu pagi karena serangan Iran.
Menurut laporan Al Jazeera, jutaan warga Israel berlari ke tempat perlindungan dan banyak yang gagal masuk ke lokasi tersebut. Momen ini terjadi usai Iran dan Lebanon menggempur Negeri Zionis.
Iran ogah gencatan senjata
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menolak gencatan senjata dengan Amerika Serikat dan Israel usai perang membara di Timur Tengah.
Araghchi membandingkan kesepakatan gencatan senjata usai perang pada Juni tahun lalu atau perang 13 hari yang dilanggar AS-Israel.
“Dan sekarang Anda ingin meminta gencatan senjata lagi? Ini tidak akan berhasil seperti itu,” kata dia saat wawancara dengan Meet the Press, Selasa (10/3).
Araghchi lalu berujar, “Perang ini harus diakhiri secara permanen. Kecuali kita mencapai hal itu, saya pikir kita perlu terus berjuang demi rakyat dan keamanan kita.”(red)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

















































