JAKARTA (Waspada.id): Penurunan rating kredit oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif dan berimbas kepada 5 bank besar di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meyakini tidak ada dampak signifikan terhadap stabilitas industri perbankan nasional.
“Saya optimistis tidak akan ada dampak yang signifikan. Tentu saja, sebagaimana yang disampaikan Moody’s, ini adalah konsekuensi penurunan outlook secara menyeluruh,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan (KEPB) OJK Dian Ediana Rae di Jakarta, dikutip Rabu (11/2/2026).
Dikatakan, pihaknya juga tidak khawatir atas perubahan outlook Moody’s ini, mengingat tidak ada isu yang bersifat struktural. Hingga kini bank-bank di Indonesia, termasuk lima bank dalam outlook Moody’s, secara fundamental tetap sehat.
“Bagi saya sebagai KEPB, sekarang pengawasan individual bank itu lebih penting. Seratus lima bank umum itu memang banyak. Tapi buat saya, satu bank bermasalah saja itu sudah menjadi ‘pikiran’,” ujar dia.
Outlook dari Moody’s ini, tegas Dian, juga menjadi catatan dan tanggung jawab bersama bagi seluruh pihak, terutama pemangku kepentingan dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Dalam hal ini, dibutuhkan komunikasi yang lebih baik kepada Moody’s dan lembaga pemeringkat (rating agency) lainnya mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Menanggapi outlook Moody’s tersebut, Corporate Secretary PT bank Negara Indonesia (BNI) Tbk, Okki Rushartomo mengatakan perubahan outlook Moody’s tersebut sejalan dengan penyesuaian outlook sovereign Pemerintah Indonesia. Namun hal ini tidak mencerminkan kinerja keuangan maupun profil risiko internal BNI.
“Posisi perseroan saat ini masih berada pada level investment grade. Kondisi tersebut tercermin dari capaian kinerja perseroan hingga akhir 2025 dan fundamental BNI tetap terjaga dengan baik,” ucap Okki dalam keterangannya.
Dia menjelaskan, indikator utama seperti permodalan, likuiditas, kualitas aset, dan profitabilitas berada pada level yang sehat serta sesuai ketentuan regulator, dengan struktur pendanaan yang dikelola secara prudent.
Menyikapi perubahan outlook tersebut, lanjut Okki, BNI terus berfokus pada pengelolaan bisnis yang hati-hati dan berkelanjutan melalui penguatan tata kelola dan manajemen risiko.
“Strategi penyaluran kredit tetap dijalankan secara selektif dan terukur, dengan mengedepankan kualitas dan prinsip kehati-hatian,” ujar Okki.
Dia tambahkan, BNI juga terus bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan serta kepercayaan pasar.
Tingkatkan Biaya Obligasi
Sementara itu, Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk, Nixon LP Napitupulu memandang perubahan outlook sovereign credit rating Indonesia oleh Moody’s dari stabil menjadi negatif, berpotensi meningkatkan biaya penerbitan surat utang atau obligasi.
“Kalau negara dulunya Baa2 menjadi Ba2, maka tentunya corporate rating-nya juga sama. Lalu dampaknya apa? Kalau kita menerbitkan surat utang lagi, maka tawar-menawarnya menjadi lebih mahal,” tutur Nixon usai konferensi pers paparan kinerja di Jakarta, Senin (9/2/2026) lalu.
Namun demikian, BTN belum berencana masuk ke pasar pendanaan global dalam waktu dekat. Nixon menilai ketersediaan investor domestik masih memadai untuk memenuhi kebutuhan pendanaan, sekaligus menawarkan struktur biaya yang lebih efisien.
Selain itu, ia mencatat penerbitan instrumen utang dalam mata uang dolar AS saat ini dinilai kurang ekonomis bagi BTN, mengingat portofolio pembiayaan perseroan, khususnya kredit pemilikan rumah (KPR), seluruhnya berbasis rupiah.
Pendanaan dalam valuta asing berpotensi menimbulkan biaya tambahan, terutama dari selisih nilai tukar dan biaya lindung nilai (swap), yang pada akhirnya membuat biaya dana menjadi lebih mahal dibandingkan pendanaan dalam rupiah.
Terkait hubungan dengan lembaga pemeringkat internasional, Nixon menyatakan pihaknya akan tetap melakukan komunikasi secara aktif dan rutin.
Menurut Nixon, pertemuan dengan lembaga pemeringkat merupakan praktik standar, di mana bank menyampaikan penjelasan secara mendetail mengenai strategi, profil risiko, serta proyeksi bisnis jangka menengah hingga panjang yang menjadi dasar penilaian peringkat. (Id88)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































