Ketua BAM DPR RI Ahmad Heryawan. (dok DPR)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI Ahmad Heryawan menyoroti meningkatnya kasus diabetes pada anak sebagai ancaman serius bagi keberlangsungan generasi bangsa. Bahkan, berdasarkan laporan terakhir yang diterima, saat ini ditemukan kasus anak usia 6 hingga 10 tahun sudah harus menjalani cuci darah akibat komplikasi penyakit tersebut.
Ia menjelaskan, dahulu diabetes tipe 2 identik dengan kelompok usia lanjut, umumnya di atas 50 atau 60 tahun. Namun kini, penyakit tersebut mulai menyerang anak-anak.
“Sekarang jangan 50–60 tahun, usia 10 tahun sudah ada yang menderita diabetes. Bahkan yang sangat mengkhawatirkan, anak di bawah 10 tahun sudah ada yang mengalami gagal ginjal. Bayangkan anak usia 6 tahun harus menjalani cuci darah selama berjam-jam untuk menyambung hidupnya,”kata Ahmad Heryawan usai rapat dengar pendapat bersama Forum Warga Kota Indonesia (FAKTA) dan CISDI, di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Dia pun sangat menghargai kepedulian FAKTA dan CISDI yang datang ke BAM mengadukan pentingnya percepatan regulasi cukai minuman berpemanis dalam kemasan. Dampaknya sudah sangat luar biasa dan membahayakan keberlangsungan generasi kita,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menjadi alarm keras bahwa konsumsi gula berlebih, khususnya dari minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK), perlu segera dikendalikan melalui regulasi yang efektif dan menyeluruh. BAM DPR RI, lanjutnya, memandang penerapan cukai MBDK sebagai salah satu instrumen paling efektif untuk menekan konsumsi gula berlebih di masyarakat.
“Regulasi adalah penyelesaian yang paling efektif. Dengan cukai, harga minuman berpemanis akan naik sehingga konsumsi bisa lebih terkendali. Pada saat yang sama, industri juga terdorong untuk mengurangi kadar gula dalam produknya,” jelasnya.
Ia menambahkan, penerimaan dari cukai tersebut juga berpotensi dialokasikan untuk penguatan program kesehatan masyarakat, termasuk upaya pencegahan penyakit tidak menular seperti diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.
Selain cukai, dia juga membuka kemungkinan pengaturan kadar gula secara lebih ketat melalui pengawasan pemerintah dan lembaga terkait. Namun ia menegaskan, langkah fiskal melalui cukai dinilai sebagai pendekatan yang paling cepat dan berdampak luas.
“Yang tidak boleh itu berlebihan. Selama ini konsumsi gula kita sudah sangat berlebihan. Karena itu harus segera dikendalikan,” ujarnya.
Aher mengajak masyarakat untuk mulai menerapkan pola konsumsi yang lebih sehat. Menurutnya, masyarakat yang sehat dan terdidik merupakan kunci utama menuju kesejahteraan bangsa.
“Kunci sejahtera ke depan adalah masyarakat yang terdidik dan sehat. Salah satu langkah konkretnya, kurangi gula,” pungkasnya. (id10)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































