Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menyebutkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dalam strategi dekarbonisasi menuju net zero emission 2060 akan berkontribusi 14,2% terhadap pasokan listrik nasional. Angka tersebut setara dengan pasokan listrik sebesar 276 Terra Watt hour (TWh).
Plt. Kepala Bapeten Zainal Arifin menjelaskan target tersebut sejalan dengan rencana pengoperasian komersial PLTN pertama di Indonesia pada 2032 mendatang. Ia menyebutkan pengembangan kapasitas kumulatif PLTN ditargetkan mencapai 35 GW pada 2060.
"Berdasarkan perencanaan sektor energi, PLTN telah ditempatkan sebagai bagian dari strategi dekarbonisasi menuju net zero emission tahun 2060. Dalam perencanaan tersebut, kontribusi PLTN diproyeksikan sekitar 14,2% produksi listrik nasional, yang besarnya sekitar 276 TW hour pada tahun 2060," bebernya dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi XII DPR RI, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Proyeksi tersebut dinilai bahwa peran energi nuklir sebagai salah satu opsi strategis dalam memenuhi kebutuhan energi nasional. Untuk mencapai target tersebut, Bapeten menyiapkan kerangka regulasi, sumber daya manusia, infrastruktur, dan kemampuan evaluasi keselamatan sejak tahap awal.
"Bagi Bapeten angka tersebut menunjukkan bahwa kesiapan regulator harus dibangun. Sejak sekarang pengawasan tidak boleh baru disiapkan ketika pembangunan PLTN sudah berjalan," tambahnya.
Pihaknya saat ini memperkuat lima pilar infrastruktur pengawasan untuk mendukung target tersebut. Hal itu mencakup tata kelola pengawasan, analisis keselamatan, laboratorium radiasi, SDM pengawas, hingga dukungan organisasi teknis.
Selain itu, pihaknya juga menyiapkan pengawasan secara bertahap mulai dari pemilihan tapak, perizinan konstruksi, operasi, hingga tahap uji.
"Bapeten tidak berada pada posisi untuk mendorong atau menghambat pembangunan PLTN. Bapeten berada pada posisi untuk memastikan bahwa setiap pembangunan PLTN apapun teknologinya hanya dapat beroperasi apabila persyaratan keselamatan, keamanan, dan terpenuhi," tandasnya.
Sebagai informasi, Pemerintah melalui Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 telah menargetkan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) perdana bisa beroperasi pada 2032-2034.
Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Dadan Kusdiana mengatakan, setidaknya 500 Mega Watt (MW) PLTN ditargetkan beroperasi mulai 2032. Adapun lokasi potensialnya yakni di Sumatra atau Kalimantan.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan nuklir nasional kini telah bergeser, di mana energi nuklir tidak lagi ditempatkan sebagai opsi terakhir, melainkan sebagai penyeimbang bauran energi primer untuk mencapai target emisi nol bersih.
"Target RUPTL 2025-2034 adalah kapasitas (PLTN) awal sebesar 500 Mega Watt. Ini akan disebarkan secara strategis mulai tahun 2032, apakah di sistem kelistrikan Sumatra atau Kalimantan," ungkap Dadan dalam acara Pembukaan Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Dadan memaparkan bahwa teknologi yang akan didorong untuk dikembangkan yaitu Reaktor Modular Kecil atau Small Modular Reactor (SMR). Teknologi itu dinilai sangat cocok dengan karakteristik geografis Indonesia sebagai negara kepulauan karena menawarkan fleksibilitas penempatan di daerah terpencil maupun integrasi ke dalam jaringan listrik regional yang lebih kecil, seperti di kawasan industri.
"Bagi negara kepulauan seperti kita di Indonesia, teknologi SMR menawarkan solusi transformatif. Berbeda dengan reaktor skala besar, SMR memberikan fleksibilitas untuk ditempatkan di daerah terpencil dan diintegrasikan ke dalam jaringan listrik regional yang kecil atau lebih kecil," tambahnya.
Dalam jangka panjang, pemerintah berencana meningkatkan kapasitas energi nuklir hingga mencapai total 44 Giga Watt (GW) pada tahun 2060. Dari total tersebut, sebesar 35 GW dialokasikan untuk pembangkit listrik, sementara 9 GW sisanya didedikasikan untuk mendukung produksi hidrogen nasional yang direncanakan mulai pada 2045.
"Pertama mengenai lokasi, kami telah mengidentifikasi beberapa lokasi potensial di seluruh kepulauan. Prinsip kami sederhana: kami hanya akan melanjutkan dengan lokasi yang memenuhi standar keselamatan dan lingkungan yang paling ketat," tandasnya.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
6
















































