Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
09 September 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Yuan China terus menunjukkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), bersamaan dengan meningkatnya penggunaan mata uang tersebut dalam perdagangan global.
Merujuk data Refinitiv, yuan ditutup di posisi CNY6,7105/US$ pada Selasa (8/9/2026). Posisi tersebut menjadi yang terkuat setidaknya sejak Januari 2023 atau lebih dari tiga tahun.
Sepanjang September ini saja, yuan telah menguat sekitar 0,14%. Bahkan secara year-to-date (ytd), yuan berhasil menguat sekitar 4%.
Penguatan nilai tukar tersebut berlangsung ketika penggunaan yuan dalam transaksi lintas negara juga semakin luas. Namun, perkembangan ini bukan terjadi karena dunia tiba-tiba meninggalkan dolar AS.
Perubahan rantai pasok dan ekspansi perusahaan China ke berbagai negara justru menjadi pendorong utama semakin luasnya penggunaan mata uang China tersebut.
Melansir South China Morning Post, Kepala Multinational Corporate Coverage Deutsche Bank untuk Asia Pasifik, Timur Tengah, dan Afrika Konrad Haunit mengatakan penggunaan yuan dalam transaksi global telah meningkat secara bertahap selama lima tahun terakhir.
"Perubahan ini berlangsung secara bertahap seiring model bisnis dan rantai pasok terus berkembang," ujar Haunit.
Menurutnya, semakin banyak perusahaan yang memperluas kegiatan usahanya ke berbagai negara. Perubahan tersebut membuat kebutuhan menggunakan yuan dalam pembayaran lintas negara ikut meningkat.
Kondisi ini terutama terlihat pada perusahaan China yang membangun pabrik, membuka kantor, atau memperluas jaringan pemasok di luar negeri. Ketika hubungan perdagangan dengan China semakin besar, penggunaan yuan dalam pembayaran juga menjadi lebih masuk akal.
Yuan juga dikenal sebagai renminbi. Renminbi merupakan nama resmi mata uang China, sedangkan yuan merupakan satuan yang digunakan dalam transaksi sehari-hari.
Pandemi Mengubah Rantai Pasok Dunia
Haunit menilai perubahan besar dalam penggunaan yuan mulai terlihat setelah pandemi Covid-19.
Sebelum pandemi, banyak perusahaan membangun rantai pasok dengan satu tujuan utama, yakni memperoleh barang dengan biaya serendah mungkin. Perusahaan memilih pemasok, lokasi pabrik, dan jalur pengiriman yang dianggap paling murah.
Namun, strategi tersebut ternyata memiliki risiko besar ketika pandemi melanda. Penutupan wilayah, pembatasan perbatasan, dan gangguan pengiriman membuat aliran barang terhambat.
Perusahaan yang terlalu bergantung pada satu negara, satu pemasok, atau satu jalur perdagangan mengalami kesulitan memperoleh bahan baku dan mengirimkan produknya.
Pengalaman tersebut mendorong banyak perusahaan mengubah cara mereka menyusun rantai pasok. Biaya murah tidak lagi menjadi satu-satunya pertimbangan.
Perusahaan mulai mencari pemasok tambahan, membangun pabrik di lebih banyak negara, dan menyiapkan jalur perdagangan alternatif. Tujuannya agar kegiatan produksi tetap berjalan ketika salah satu jalur mengalami gangguan.
Perubahan ini ikut memperluas hubungan perdagangan antara perusahaan China dan negara-negara lain. Semakin banyak transaksi yang melibatkan perusahaan, barang, atau pemasok China, semakin besar pula peluang pembayaran dilakukan menggunakan yuan.
Gejolak Tarif Ikut Mendorong Perubahan
Selain pandemi, perubahan kebijakan tarif juga membuat perusahaan membutuhkan rantai pasok yang lebih fleksibel.
Tarif impor dapat berubah mengikuti perkembangan hubungan dagang antarnegara. Ketika tarif suatu barang dinaikkan, perusahaan mungkin harus mengalihkan produksi atau pengiriman ke negara lain agar tetap bisa menjual produknya dengan harga yang bersaing.
Produsen juga harus lebih cepat menyesuaikan tujuan pengiriman ketika kondisi perdagangan berubah. Barang yang semula dikirim ke satu negara dapat dialihkan ke pasar lain yang menawarkan tarif atau aturan perdagangan lebih menguntungkan.
Menurut Haunit, perubahan tersebut membuat rantai pasok tidak lagi bergerak melalui jalur yang sederhana. Perusahaan membutuhkan lebih banyak pilihan dalam menentukan pemasok, lokasi produksi, jalur pengiriman, hingga mata uang pembayaran.
Ekspansi perusahaan China ke luar negeri kemudian memperkuat penggunaan yuan. Perusahaan yang memiliki pabrik atau jaringan pemasok China dapat memilih menggunakan yuan untuk mengurangi kebutuhan menukar pembayaran ke mata uang lain.
Namun, penggunaan yuan bukan sepenuhnya merupakan perkembangan baru. Sejumlah perusahaan industri besar Eropa yang beroperasi di China telah menggunakan yuan dalam tagihan dan transaksi selama lebih dari satu dekade.
Hal ini menunjukkan penggunaan yuan lebih dahulu berkembang pada jalur perdagangan yang memang memiliki hubungan ekonomi kuat dengan China.
Deutsche Bank Jadi Bank Kliring Yuan di Eropa
Peningkatan penggunaan yuan juga didukung oleh bertambahnya fasilitas pembayaran di luar China.
Pada Agustus 2026, Bank Rakyat China atau People's Bank of China (PBoC) menunjuk Deutsche Bank sebagai bank asing pertama di Eropa yang menjadi bank kliring yuan.
Penunjukan tersebut membuat Deutsche Bank dapat melakukan proses kliring dan penyelesaian transaksi yuan lintas negara secara langsung melalui Frankfurt, Jerman.
Secara sederhana, bank kliring bertugas memastikan dana dari pihak yang membayar dapat diterima oleh pihak lain melalui proses yang aman dan tercatat. Keberadaan fasilitas tersebut dapat membuat transaksi yuan menjadi lebih mudah dan efisien.
Deutsche Bank sebelumnya telah menjalankan kegiatan yuan di sejumlah pusat keuangan di luar China, seperti Hong Kong, Singapura, dan London. Kehadiran fasilitas kliring di Frankfurt akan memperluas jaringan transaksi yuan di Eropa.
Haunit menilai penunjukan tersebut sangat penting bagi Deutsche Bank karena dapat mendukung pertumbuhan penggunaan yuan di luar China dalam jangka panjang.
Langkah ini juga memberikan pilihan tambahan kepada perusahaan Eropa yang memiliki kegiatan perdagangan dengan China. Mereka dapat melakukan pembayaran dan menerima dana dalam yuan tanpa selalu bergantung pada proses transaksi melalui pusat keuangan di Asia.
Belum Akan Menggantikan Dolar AS
Meski penggunaan yuan terus meluas, Haunit mengingatkan bahwa kondisi tersebut belum berarti yuan akan segera menggantikan dolar AS.
Dolar masih menjadi mata uang utama dalam pembayaran internasional. Banyak barang, kontrak perdagangan, investasi, dan transaksi keuangan lintas negara masih menggunakan dolar.
Dominasi dolar juga terlihat dalam cadangan devisa global. Berdasarkan data terakhir Currency Composition of Official Foreign Exchange Reserves (COFER) IMF, dolar AS menguasai 57,13% cadangan devisa global pada kuartal I-2026.
Sementara itu, porsi yuan hanya sebesar 1,99%, meski naik tipis dari 1,95% pada kuartal sebelumnya. IMF mencatat kenaikan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh perubahan nilai tukar, bukan sepenuhnya karena bank sentral menambah simpanan dalam yuan.
Penggunaan yuan saat ini lebih banyak berkembang secara bertahap pada jalur perdagangan yang memiliki hubungan kuat dengan China. Perusahaan memilih yuan karena mata uang tersebut sesuai dengan kebutuhan bisnis mereka, bukan semata-mata untuk menghindari dolar AS.
Haunit juga menilai menggantikan dolar belum tentu menjadi tujuan utama pemerintah China. Peningkatan penggunaan yuan lebih banyak mengikuti perkembangan kegiatan perdagangan dan investasi perusahaan China di luar negeri.
Dengan demikian, kenaikan peran yuan tidak harus dipandang sebagai persaingan yang langsung menghilangkan penggunaan dolar. Kedua mata uang dapat digunakan secara bersamaan untuk kebutuhan transaksi yang berbeda.
Ke depan, penggunaan yuan berpeluang terus meningkat karena peran China dalam perdagangan, produksi, dan inovasi global masih besar. Produk, teknologi, dan jaringan rantai pasok China juga semakin banyak digunakan di berbagai negara.
Semakin luas kegiatan perusahaan China di luar negeri, semakin besar pula kemungkinan yuan digunakan untuk membayar barang, jasa, dan kebutuhan investasi.
Namun, perjalanannya menuju mata uang global masih berlangsung perlahan. Untuk saat ini, yuan semakin penting dalam perdagangan internasional, tetapi dolar AS masih mempertahankan posisi dominannya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

6 hours ago
5
















































