Operator SPBU H Ruslan Keudee Paya, Kecamatan Blangpidie, Abdya, mengenakan peci hitam saat melayani pengisian BBM kepada pelanggan, sebagai bagian dari penguatan etika dan identitas pelayanan yang santun, Selasa (3/3).Waspada.id/Syafrizal
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BLANGPIDIE (Waspada.id): Suasana berbeda tampak di SPBU H Ruslan Keudee Paya, Kecamatan Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Para operator pengisian bahan bakar kini mengenakan peci hitam saat melayani pelanggan, sebuah kebijakan internal yang mulai diterapkan sebagai bagian dari penguatan identitas pelayanan yang sopan dan berkarakter lokal.
Kebijakan tersebut bukan sekadar perubahan tampilan seragam, melainkan upaya membangun etika pelayanan yang lebih santun tanpa mengurangi profesionalitas kerja di lapangan.
Penanggung jawab SPBU H Ruslan, Hanafiah Selasa (3/3) mengatakan, penggunaan peci hitam dimaksudkan, untuk menumbuhkan kesadaran sikap pelayanan yang rapi, hormat, dan mencerminkan nilai budaya masyarakat Aceh. “Ini bukan soal seremoni atau formalitas. Kami ingin karyawan tetap bekerja seperti biasa, cepat dan profesional, tetapi juga membawa nilai kesopanan dalam pelayanan,” ujar Hanafiah.

Menurutnya, SPBU sebagai ruang pelayanan publik, setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat dari berbagai latar belakang. Karena itu, pendekatan yang sederhana namun bermakna dianggap penting, untuk menjaga kenyamanan pelanggan.
Ia menegaskan, kebijakan tersebut tidak menambah aturan yang memberatkan pekerja. Fokus utama tetap pada kualitas pelayanan, keselamatan kerja, serta ketepatan pengisian BBM. “Peci hanya simbol. Yang utama tetap sikap kerja, ramah, jujur dan melayani dengan baik. Jangan sampai tampilan rapi tapi pelayanan justru lambat. Itu yang kami tekankan kepada seluruh karyawan,” tambahnya.

Sejumlah pelanggan menilai perubahan tersebut memberi kesan berbeda, tanpa terasa berlebihan. Operator tetap bekerja normal, sementara nuansa lokal terasa lebih kuat.
Hanafiah berharap langkah kecil ini dapat menjadi pengingat, bahwa pelayanan publik tidak selalu harus diwujudkan melalui program besar atau seremoni panjang. Menurutnya, perubahan budaya kerja justru sering lahir dari kebiasaan sederhana yang dijalankan secara konsisten. “Yang penting bukan terlihat istimewa, tetapi terasa manfaatnya bagi masyarakat,” pungkasnya.(id82)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































