Seorang nelayan di Kota Sigli, Kabupaten Pidie, bersiap turun melaut di tengah kondisi cuaca yang mulai tidak menentu. Aktivitas rutin ini tetap dilakukan warga pesisir meski potensi gelombang tinggi dan pasang maksimum masih membayangi wilayah Pidie.Minggu (30/11) Waspada.id/ Muhammad Riza
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
SIGLI (Waspada.id): Panglima Laot Kabupaten Pidie, Marfian AS, Minggu (30/11) meminta masyarakat dan nelayan di sepanjang pesisir Pidie meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi banjir rob (pasang Purnama) yang diperkirakan terjadi pada 29 November hingga 15 Desember 2025.
Imbauan itu disampaikan menyusul peningkatan potensi pasang maksimum air laut dan gelombang tinggi berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Scroll Untuk Lanjut Membaca

IKLAN
Marfian menyatakan bahwa keselamatan warga menjadi prioritas utama di tengah situasi cuaca maritim yang tidak stabil. “Kami mengimbau masyarakat pesisir untuk mengikuti setiap informasi resmi dari BMKG. Nelayan juga perlu memprioritaskan keselamatan sebelum memutuskan berangkat melaut,” ujarnya.
Deretan perahu nelayan tampak terparkir di muara Kota Sigli, Kabupaten Pidie. Para nelayan memilih menunda keberangkatan melaut sambil menunggu kondisi gelombang kembali aman.Waspada.id/ Muhammad RizaKata dia, BMKG mencatat bahwa Provinsi Aceh termasuk wilayah yang berpotensi terdampak banjir pesisir pada awal hingga pertengahan Desember. Kondisi tersebut dipengaruhi fase perigee, ketika Bulan berada pada titik terdekat dengan Bumi sehingga memicu peningkatan gaya gravitasi yang berdampak pada tinggi pasang laut.
Fenomena itu diperkuat dengan fase Bulan purnama pada 4 Desember 2025, yang dapat meningkatkan ketinggian permukaan laut secara signifikan. Kombinasi keduanya membuat potensi banjir rob lebih tinggi, terutama pada malam hari hingga dini hari.
Banjir rob berpotensi menggenangi permukiman warga, merendam tambak, mengganggu aktivitas nelayan, dan memutus akses transportasi di sejumlah jalur pesisir.
Laporan Awal Warga
Sejumlah gampong ( desa) pesisir, seperti Jeumeurang, Kembang Tanjung, Meunasah Lhok, dan Kuala Pidie, mulai merasakan dampak peningkatan ketinggian air laut dalam beberapa hari terakhir. Di beberapa lokasi, air telah mencapai area tambak dan mendekati permukiman.
Warga berharap pemerintah daerah dan aparat terkait meningkatkan pemantauan berkala untuk mengurangi risiko kerugian, terutama bagi sektor perikanan budidaya dan pelayaran nelayan skala kecil.
Gelombang laut mulai meninggi saat pasang memasuki kawasan pesisir, menjadi tanda awal meningkatnya aktivitas air laut di wilayah Pidie.Waspada.id/ Muhammad RizaMarfian meminta perangkat gampong memperkuat sosialisasi kepada warga mengenai potensi pasang puncak dan langkah-langkah mitigasinya. Warga diminta mengamankan barang berharga, memindahkan peralatan kerja ke tempat lebih tinggi, serta memastikan kondisi perahu dalam keadaan aman.
“Nelayan yang biasa berangkat sebelum subuh sebaiknya menunda keberangkatan jika kondisi laut tidak stabil,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kesiapsiagaan kolektif menjadi kunci dalam menghadapi cuaca ekstrem. “Kami berharap masyarakat tetap tenang namun tidak lengah. Tantangan cuaca ekstrem harus disikapi dengan kesiapan dan kebersamaan,” ujarnya.
Dengan meningkatnya potensi banjir rob pada Desember 2025, masyarakat di sepanjang pesisir Pidie diimbau terus memperbarui informasi, memperkuat koordinasi, dan mengutamakan keselamatan keluarga.(id69)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































