P.SIDIMPUAN (Waspada.id): Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Padangsidimpuan mengingatkan umat betapa pentingnya menjaga keseimbangan antara Hablumminallah dan Habluminannas sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan sesuai ajaran Agama Islam.
“Islam memiliki ajaran yang membentangkan dua bentuk hubungan harmonis yang akan membawa kemuliaan dan keselamatan manusia di sisi Allah subhanahu wata’ala,” kata Ustadz Tarmizi Lubis MPd, dalam ceramahnya pada Kajian Ramadhan di Aula Kantor MUI P.Sidimpuan, Rabu (4/3/2026).
Kajian Ramadhan hari ke 5 dengan topik, “Hablumminallah Dan Habluminannas : pondasi utama yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan” dihadiri Ketua MUI P.Sidimpuan Ustadz Drs.H.Zulfan Efendi Hasibuan, MA bersama pengurus MUI, Alim ulama, kelompok pengajian dan masyarakat.
Ustadz Tarmizi yang juga merupakan pengurus MUI Padangsidimpuan menjelaskan, hablumminallah merupakan tata hubungan yang mengatur antara manusia dengan Tuhannya dalam hal ibadah (ubudiyah). Sedangkan habluminannas adalah tata hubungan yang mengatur sesama manusia termasuk dengan makhluk yang lainnya dalam wujud amaliyah sosial.
“Di antara sikap taqwa adalah menjaga hubungan baik sesama manusia, karena syariat memerintahkan menjalin hablum minallah wa hablum minannas” tuturnya sambil menegaskan bahwa orang yang taat beribadah, tapi abai dengan sesama umat tidak disukai Allah SWT.
Dalam pengertian syariah, lanjut Ustadz Tarmizi, makna hablum minallah sebagaimana yang dijelaskan di dalam tafsir At-Thabari, Al-Baghawi, dan tafsir Ibnu Katsir adalah perjanjian dari Allah. Maksudnya, masuk Islam atau beriman dengan Islam sebagai jaminan keselamatan bagi mereka di dunia dan di akhirat”.
“Dengan demikian dapat kita pahami bahwa untuk membangun hubungan kepada Allah, kita punya kewajiban untuk menunaikan hak Allah yakni mentauhidkan dan tidak menyekutukan-Nya dengan yang lain serta menjalankan syariat Allah. Misalnya, sholat, puasa, zakat dan sebagainya,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa hablum minallah perwujudannya adalah sosok mu’minin yang taat melaksanakan perintah-perintah Allah, hidupnya merasa bergantung kepada Allah serta selalu berdoa dan berdzikir karena mengandalkan pertolongan Allah.
Ustadz Tarmizi mengungkapkan ada dua sifat manusia yang melekat didirinya yakni sifat kikir dan Keluh kesah sebagaimana tertuang dalam QS Al-Ma’arij ayat 19-24 yang artinya : Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir (19), Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah (20), Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir (21), Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat (22), Yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya (23), Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu (24)“.
“Dalam ayat tersebut secara tegas Allah mengatakan bahwa keluh kesah dan kikir itu telah menjadi sifat bawaan manusia sejak dia diciptakan. Bukankah kalau kita tidak memiliki harta kita sering berkeluh kesah? Sebaliknya, kalau kita memiliki banyak harta kita sering lebih cenderung untuk kikir,” ungkapnya.
Untuk mengatasi agar terhindar dari sifat keluh kesah dan kikir, ia menyarankan agar mengerjakan sholat berjamaah secara kontiniu di masjid. Kemudian harus sadar bahwa dalam harta itu ada bagian fakir miskin.
“Seseorang yang rajin beribadah dan ekomnominya lumayan, tapi tetangganya yang fakir miskin kekurangan makan atau lagi sakit dan tidak bisa berobat karena tidak mampu, dia biarkan saja, maka Allah tidak menyukainya,” ujarnya.
Ustadz Tarmizi Lubis MPd, didampingi Drs.H.Arsyad Thalib Lubis saat memberikan ceramah kajian Ramadhan di Aula Kantor MUI Padangsidimpuan, Rabu (4/3/2026). Waspada.id/Mohot LubisMenurutnya, Ibadah merupakan segala sesuatu yang dicintai dan diridhoi Allah, baik perkataan, perbuatan atau segala sesuatu yang menghimpun kesempurnaan cinta dan yang menghimpun kesederhanaan merendahkan diri dihadapan Allah.
Ia menggambarkan, banyak orang beribadah tidak didasarkan atas kecintaan terhadap Allah SWT, seperti berpuasa bukan karena cinta kepada Allah, tapi karena malu sama anaknya yang rajin puasa.”Ini yng disebut bribadah dengan terpaksa,” katanya.
Mengingat banyaknya orang yang merasa berjasa atau mengumbar kebaikannya ketika membantu atau menolong lain sehingga sikap menolongnya menjadi ria, Ustadz Tarmizi menegaskan perbuatan baik diduni merupakan tabungan akhirat.
“Kita tidak usah bangga menolong orang lain, karena sesungguhnya, pad hakikatnya kita menolong diri sendiri melalui orang lain.Kalau kau bersedekah, itu utuk dirimu, tidak mungkin kau sedekahkan yang tidak baik,” tegasnya.
Drs. H. Arsyad Thalib Lubis sebagai moderator dalam kajian Ramadhan yang digelar MUI Padangsidimpuan ini juga menekankan pentingnya memahami Hablumminallah Dan Habluminannas dengan baik dalam meningkatkan ketaqwaan kepada Allah.(id46)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

















































