Ukuran Font
Kecil Besar
14px
Banjir adalah tantrum alam yang menunjukkan Medan belum matang dalam manajemen lingkungan.
SENIN, 9 Maret 2026. Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas berdiri tegak di podium DPRD, menyampaikan Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) 2025 dengan data menggembirakan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) naik 0,51 poin menjadi 83,74. Pertumbuhan ekonomi tumbuh 5,10 persen, investasi masuk Rp14,59 triliun. Kemiskinan turun drastis dari 7,94 persen menjadi 7,25 persen, pengangguran terbuka turun 0,14 persen menjadi 7,99 persen. Angka-angka ini adalah sinyal bahwa Medan sedang on the right track.
Tapi tunggu dulu. Tiga bulan sebelumnya, pada 27 November 2025, Medan tenggelam. Sungai Deli, Babura, Sungai Kampung Lalang, dan Belawan meluap serentak. Air naik hingga dua meter, 200 rumah tenggelam di Jalan Jaya Tani, Deliserdang. Jalan protokol Dr. Mansyur-USU, Gatot Subroto, simpang Manhattan, Gaperta Ujung, Kampung Lalang, Tanjung Gusta, lumpuh total. Dari 21 kecamatan, hanya Medan Area dan Medan Perjuangan yang selamat. Sisanya? Kolam renang lumpur dadakan.
Rico Waas boleh berbangga. Dalam satu tahun kepemimpinannya, angka kemiskinan dan pengangguran menurun. Pelayanan publik mendapat ponten A. Realisasi pendapatan daerah Rp6,32 triliun menunjukkan manajemen keuangan yang apik. Tapi semua pencapaian ini terasa hollow ketika warga masih harus mengungsi ke masjid karena rumah mereka diserbu air sungai.
Banjir bukan semata bencana alam. Ia indikator kegagalan sistem. Ketika empat sungai vital—Deli, Babura, Kampung Lalang, dan Denai—terus meluap setiap musim hujan, itu berarti ada yang salah dengan manajemen sungai. Revitalisasi yang dijanjikan tak kunjung terealisasi. Sungai Deli yang membelah pusat kota masih menjadi time bomb. Babura yang mengalir di sekitar kampus USU terus mengancam ribuan mahasiswa. Kampung Lalang dan Belawan di utara? Lupakan saja dulu.
Data BPBD Kota Medan menyebut banjir November 2025 bukan insiden tunggal. Oktober 2025, Sungai Deli dan Babura sudah meluap, merendam Jalan Suprapto dan Sari Rejo. Kenaikan air Sungai Deli mencapai 120 cm. Ini arketipe, bukan kecelakaan.
Di gedung DPRD, Rico Waas memaparkan capaian infrastruktur jalan dan penghargaan nasional. Tapi apa artinya jalan aspal mulus jika setiap November warga harus diungsikan perahu karet? Apa gunanya investasi Rp14,59 triliun jika alokasi normalisasi sungai-sungai vital minim?
Penurunan kemiskinan menjadi 7,25 persen patut diapresiasi. Tapi angka ini tidak mencerminkan realitas warga bantaran sungai yang setiap tahun kehilangan harta benda akibat banjir. Mereka mungkin tidak miskin secara statistik, tapi hidup dalam ketakutan permanen. IPM 83,74 poin terasa mustahil dinikmati ketika air menenggelamkan leher orang dewasa.
Rasio gini 0,3620 menunjukkan ketimpangan pendapatan masih tinggi. Tapi ketimpangan lebih menyakitkan adalah antara warga yang menikmati pertumbuhan ekonomi 5,10 persen di pusat kota, dengan mereka yang terjebak banjir di Medan Sunggal, Marelan, dan Helvetia.
Rico Waas berharap DPRD memberikan rekomendasi untuk perbaikan ke depan. Tapi rekomendasi sudah jelas: segera revitalisasi empat sungai vital. Bukan cuma pembersihan sampah rutin, tapi normalisasi total pendalaman, pelebaran, dan pembangunan tanggul yang memadai. Anggaran untuk ini harus menjadi prioritas, bukan hanya wishlist.
Pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan adalah fondasi kuat. Tapi fondasi ini akan roboh jika banjir terus mengancam. Medan tidak bisa disebut kota maju jika setiap hujan deras, warganya harus mengungsi. Prestasi di atas kertas tidak ada artinya jika di lapangan, air masih menggenangi rumah-rumah.
Medan sedang tumbuh. Data LKPJ 2025 membuktikannya. Tapi ini masih premature—seperti anak yang tubuhnya tinggi tapi belum bisa mengendalikan emosinya. Banjir adalah tantrum alam yang menunjukkan Medan belum matang dalam manajemen lingkungan.
Rico Waas punya modal politik kuat untuk melanjutkan pembangunan. Tapi modal itu akan habis jika banjir terus menjadi annual event. Warga Medan butuh bukan hanya angka kemiskinan turun, tapi jaminan rumah mereka tidak akan tenggelam setiap November.
Kota yang sehat bukan hanya kota dengan ekonomi tumbuh, tapi kota yang warganya bisa tidur nyenyak meski hujan turun sepanjang malam. Medan, saat ini, masih “Wa[a]s-Wa[a]s” dan belum bisa memberikan jaminan itu—sekalipun wali kotanya Rico [Rapi dan selalu tampil Maco] di depan bidikan lensa kamera.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































