Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri foto bersama saat meninjau
kantor baru Megawati Institute yang terletak di samping kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Selasa (20/1/2026). (ist)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id) Direktur Eksekutif Megawati Institute Hilmar Farid didampingi Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Bidang Ekonomi Kreatif M.Prananda Prabowo dan jajaran pengurus lainnya menyambut kedatangan Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri saat meninjau kantor baru Megawati Institute yang terletak di samping kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Selasa (20/1/2026).
“Ini merupakan kunjungan pertama Ibu Megawati ke kantor Megawati Institute yang beberapa hari lalu di Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ditandatangani akte notarisnya. Dalam waktu dekat kantor baru ini akan dioperasikan,” jelas Hasto dalam relis yang diterima waspada.id
Megawati mengelilingi beberapa ruangan dan taman kecil yang terletak di bagian belakang. Megawati terheran-heran bagaimana hanya dalam waktu tiga hari kantor menjadi representatif.
“Arsiteknya Mas Prananda, sampai harus lembur 3 hari 3 malam. Ini semacam mission impossible,” ujar Hasto mengungkap peran Prananda Prabowo.
Dalam kunjungan ini Megawati memberi arahan dan berbincang dengan Direktur Eksekutif Hilmar Farid . Presiden perempuan pertama RI itupun sempat memeriksa koleksi buku yang terletak di bagian perpustakaan. Setelah puas meninjau dan mendengarkan penjelasan soal gedung tersebut, Megawati mengajak semua untuk bicara santai di ruang rapat.
“Ibu Megawati menyampaikan harapan-harapan terhadap Megawati Institute sebagai wadah pemikiran yang berfokus pada pengembangan ideologi Pancasila 1 Juni 1945, Pola Pembangunan Semesta dan Berencana, hingga menghadirkan seluruh kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri, khususnya sebagai Presiden Kelima RI yang mampu menyelesaikan krisis multidimensi,” urai Hasto.
“Megawati Institute harus menjadi pusat kajian kebijakan strategis melalui kegiatan penelitian, penggalangan tokoh-tokoh intelektual dan cendekiawan, serta mendorong kesadaran berpikir kritis dan dialektis yang diperlukan sebagai penopang peningkatan kualitas kehidupan demokrasi,” tambahnya.
Menurut Hasto, penetapan Hilmar Farid, mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) periode 2015 hingga 2024, dilakukan karena kompetensi kepemimpinan, network yang luas, dan bisa bertindak sebagai jembatan yang sangat baik dengan perguruan tinggi dan lembaga-lembaga kajian kebijakan strategis. (id10)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.






















































