Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar ponsel pintar (smartphone) tanah air sudah mulai merasakan dampak krisis chip memori global. Baru-baru ini, Oppo memperkenalkan seri Reno terbaru dengan harga yang melonjak tajam. Seri Reno selama ini dikenal sebagai andalan Oppo di segmen kelas menengah (mid-range). Namun, harganya kini makin merapat ke kelas flagship, dengan model teratas tembus belasan juta rupiah.
Sebagai gambaran, Oppo Reno 16 F yang baru saja meluncur resmi di Indonesia kini dibanderol mulai dari Rp 7.999.000 untuk varian penyimpanan 8/128GB. Angka ini mengalami kenaikan sekitar Rp 2 juta dibandingkan dengan pendahulunya, Reno 15 F, yang kala itu dipatok seharga Rp 5.999.000.
Kenaikan yang tak kalah agresif juga terlihat pada Oppo Reno 16 model reguler. Ponsel ini kini dipasarkan mulai dari Rp 11.999.000. Jika disandingkan dengan Reno 15 reguler saat pertama kali diperkenalkan di awal tahun 2026 dengan harga Rp 8.299.000, terdapat selisih kenaikan mencapai lebih dari Rp 3 juta.
Menanggapi fenomena kenaikan harga yang dinilai "gila-gilaan" oleh konsumen tersebut, manajemen Oppo Indonesia akhirnya angkat bicara.
Product Manager Oppo Indonesia, Deni Setiawan, menjelaskan bahwa lonjakan harga ini tidak terhindarkan karena akumulasi dari beberapa faktor eksternal.
Salah satu pemicu utamanya adalah kelangkaan pasokan komponen memori RAM di tingkat global, yang diperparah oleh tekanan makroekonomi berupa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kendati demikian, Deni mengatakan ada 'value' lebih yang diberikan ke konsumen, meskipun harga jual disesuaikan.
"Jadi ngomongin desain ini aja, itu kita melakukan investasi untuk membangun desain 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan sebelumnya untuk membuat desain ini," ujar Deni usai acara peluncuran seri Reno 16 di Jakarta, pada pekan lalu.
Meskipun dari sisi harga mengalami kenaikan, Deni menegaskan bahwa Oppo tetap memberikan kompensasi berupa peningkatan spesifikasi dan nilai lebih (value for money) bagi para pengguna. Salah satu inovasi yang ditonjolkan pada seri Reno 16 adalah implementasi desain 3D pop-up yang memberikan penyegaran estetika visual.
"Untuk kasih desain yang terbaik, terbaru, yang paling beda dibandingkan yang lain, sehingga membuat anak muda itu bisa lebih pop-out kalau dia pakai handphone ini," tambah Deni.
Krisis Hantam Industri HP Murah
Terpisah, beberapa pakar industri global sebelumnya sudah mewanti-wanti bahwa krisis chip memori yang sudah terjadi sejak akhir 2025 akan paling berdampak pada HP yang menyasar segmen kelas bawah (low-end).
Techwire Asia melaporkan beberapa saat lalu bawah para produsen HP tak bisa mendapatkan DRAM dan NAND yang cukup untuk perangkat low-end, sehingga harus berhadapan dengan pilihan sulit.
Opsi pertama, harga HP murah akan dinaikkan sehingga tak lagi semurah dulu. Opsi lainnya adalah memangkas fitur-fitur yang sebelumnya sudah dianggap standar.
Krisis chip memori ini ditengarai perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI). Produsen chip memprioritaskan chip berkinerja tinggi (HBM) untuk proyek AI, sehingga 'mengesampingkan' chip konvensional untuk perangkat elektronik. Chip AI diprioritaskan karena dinilai lebih menguntungkan.
Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron, yang mengendalikan lebih dari 90% produksi memori global, mengalihkan kapasitas untuk melayani perusahaan-perusahaan hyperscaler yang membangun infrastruktur AI, sehingga para produsen perangkat elektronik berebut pasokan.
Produsen chip kontrak terbesar di China, SMIC, baru-baru ini memperingatkan bahwa industri tersebut telah memasuki mode krisis. Para produsen HP dikatakan tidak dapat menyelesaikan perakitan perangkat gara-gara kelangkaan komponen chip memori.
"Orang-orang tidak berani memesan terlalu banyak untuk kuartal pertama tahun depan karena tidak ada yang tahu berapa banyak chip memori yang sebenarnya akan tersedia. Berapa banyak HP, mobil, atau produk lain yang dapat didukung oleh chip memori yang ada sekarang," kata co-CEO SMIC, Zhao Haijun, kepada para investor, pada awal tahun ini.
Jualan HP Makin Susah
Kelangkaan chip memori global dikatakan paling terdampak di pasar Asia-Pasifik. Pasalnya, HP murah mendominasi wilayah ini. HP murah umumnya mengambil margin tipis, sehingga ruangnya sangat kecil untuk menghadapi harga chip memori yang naik gila-gilaan.
Firma riset Counterpoint telah memangkas proyeksi pertumbuhan pengapalan HP global untuk 2026 menjadi minus 2,1%. Pabrikan HP China seperti Honor, Oppo, dan vivo, mendapat revisi pengapalan yang paling tajam. Ketiganya diramalkan akan mencatat pertumbuhan minus lebih dari 1% hingga kurang dari 4%.
Biaya komponen untuk HP low-end dengan kisaran harga di bawah US$200 (Rp3,3 jutaan) telah meningkat 25% sejak awal 2025. Sementara segmen kelas menengah (mid-range) dan kelas atas (high-end) masing-masing mengalami peningkatan sebesar 15% dan 10%, menurut Counterpoint.
Harga chip memori berpotensi naik 40% sepanjang Q2-2026, sehingga bisa menambah biaya produksi sekitar 8%-15%. Kemungkinan manufaktur harus menelan sendiri risiko ini atau membagi beban dengan menaikkan harga jual ke konsumen.
"Di segmen harga yang lebih rendah, kenaikan harga yang tajam pada HP tidak berkelanjutan," kata analis senior Counterpoint, Yang Wang, beberapa saat lalu.
"Dan jika mekanisme pengalihan biaya tidak memungkinkan, OEM akan mulai memangkas sebagian portofolio mereka. Itulah yang sebenarnya mulai kita lihat dengan berkurangnya volume SKU kelas bawah secara signifikan," ia menambahkan.
Rata-rata harga jual HP diramalkan akan naik 6,9% secara tahun-ke-tahun (YoY) di 2026. Persentase itu meningkat dari proyeksi sebelumnya pada September 2025 yang mematok peningkatan 3,6%.
Bagi pasar seperti Asia Tenggara dan India, di mana perangkat dengan harga di bawah US$200 mendorong volume penjualan, ini merupakan pergeseran mendasar dalam dinamika keterjangkauan harga.
(fab/fab)
Addsource on Google

8 hours ago
3

















































