Kampanye Green Hajj yang digagas Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dinilai mulai menarik minat generasi muda untuk menunaikan ibadah haji. Saat ini sekitar 25 persen pendaftar haji berasal dari kalangan generasi Z dan milenial.
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Kampanye Green Hajj yang digagas Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) bersama Pimpinan Pusat Muhammadiyah dinilai mulai menarik minat generasi muda untuk menunaikan ibadah haji. Saat ini sekitar 25 persen pendaftar haji berasal dari kalangan generasi Z dan milenial.
Anggota Badan Pelaksana BPKH Harry Alexander mengatakan pendekatan ibadah haji yang dikaitkan dengan kepedulian terhadap lingkungan menjadi salah satu cara efektif untuk mendekatkan program haji kepada generasi muda.
“Sekarang Gen Z dan milenial yang mendaftar haji sudah mencapai sekitar 25 persen dari total daftar tunggu. Ini angka yang menggembirakan karena menunjukkan anak-anak muda mulai peduli dan berkomitmen untuk menunaikan ibadah haji,” kata Harry di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, pendekatan berbasis isu lingkungan melalui konsep Green Hajj dinilai relevan dengan gaya hidup generasi muda yang semakin peduli terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dalam konteks itulah BPKH bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah mengembangkan konsep Green Hajj sekaligus menyusun buku panduan agar jamaah memahami bahwa pelaksanaan ibadah haji juga dapat dilakukan secara ramah lingkungan sesuai nilai yang diajarkan Rasulullah saw.
“Kami mengembangkan konsep dan menerbitkan buku Green Hajj yang penting agar jamaah memahami bahwa pelaksanaan ibadah haji juga dapat dilakukan secara ramah lingkungan sesuai nilai yang diajarkan Rasulullah saw,” ujarnya.
Harry menjelaskan konsep Green Hajj bertujuan membangun kesadaran lingkungan bagi jamaah haji sehingga menjadi haji mabrur yang memiliki tanggung jawab terhadap kelestarian alam sepanjang hayat.
Buku Panduan Green Hajj yang disusun bersama MLH PP Muhammadiyah juga akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab agar dapat menjadi referensi internasional.
“Buku Panduan Green Hajj akan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Arab. Ini akan menjadi contoh dari Indonesia bagi dunia internasional,” katanya.
Dalam panduan tersebut juga diperkenalkan konsep wakaf pohon. Jamaah haji Indonesia didorong untuk berpartisipasi menanam pohon produktif yang selain memberikan nilai ekonomi dari hasil buahnya, juga berkontribusi menekan emisi karbon.
Harry menjelaskan wakaf pohon tersebut dapat dilakukan melalui skema investasi berbasis sukuk yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus manfaat lingkungan bagi umat.
“Pohon yang ditanam bisa berupa tanaman konservasi maupun tanaman budidaya. Misalnya kita membeli 100 hektare lahan yang ditanami kelapa, maka setiap bulan bisa menghasilkan sekitar Rp40 juta. Selain manfaat ekonomi, kita juga mendapatkan manfaat biodiversitas,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menegaskan persoalan sampah di Indonesia sudah sangat meresahkan dan perlu diselesaikan dari hulu, yakni dari tingkat rumah tangga.
“Masalah sampah sangat meresahkan. Kalau kita berbicara dari hulu, maka itu berarti dari rumah tangga. Salah satu yang terpikir oleh saya adalah bagaimana sampah itu bisa diolah dengan bantuan bakteri sehingga bisa menjadi kompos,” kata Buya Anwar Abbas.
Ia juga mendorong Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah untuk menyusun panduan praktis bagi masyarakat dalam mengelola sampah secara sederhana di tingkat rumah tangga.
“MLH bisa membuat buku yang mengajarkan warga bagaimana mengolah sampah dengan bakteri sehingga sampah bisa diubah menjadi kompos. Ini penting agar masyarakat memiliki pengetahuan dan budaya baru dalam mengelola sampah,” katanya.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































