Kondisi Mojtaba Khamenei Jadi Ujian Daya Tahan Kepemimpinan Iran?

4 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengangkatan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran memicu berbagai spekulasi mengenai kondisi kesehatannya setelah serangan awal yang dilancarkan Israel.

Laporan terbaru menyebutkan Mojtaba mengalami luka dalam gelombang pertama serangan tersebut, menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan pemimpin baru itu untuk segera menjalankan perannya di tengah konflik yang masih berlangsung.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, mengonfirmasi bahwa Mojtaba mengalami luka, namun menegaskan kondisinya tidak dalam keadaan kritis.

"Kondisinya belum dilaporkan kritis," kata Larijani, sambil menambahkan bahwa meskipun terjadi insiden tersebut, Mojtaba tetap memberikan arahan strategis kepada aparat negara dan militer, seperti dikutip The Guardian, Kamis (12/3/2026).

Larijani juga menegaskan bahwa seluruh operasi militer yang berjalan tetap berada di bawah persetujuan langsung pemimpin tertinggi baru.

"Terlepas dari insiden ini, ia terus memberikan bimbingan dan pengawasan penuh atas operasi, dan semua tindakan serta serangan dilakukan dengan izin dan perintah langsungnya," ujarnya.

Meski demikian, minimnya kemunculan publik Mojtaba sejak pengangkatannya memicu rumor luas di media sosial dan di kalangan oposisi Iran.

Sejumlah kelompok diaspora bahkan mengeklaim ia berada dalam kondisi koma dan dirawat secara rahasia di rumah sakit, sementara pemerintah Iran belum merilis foto, video, maupun rekaman suara yang dapat memastikan kondisinya.

Spekulasi semakin berkembang setelah media Iran sendiri mulai mempertanyakan kondisi pemimpin baru tersebut.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menghindari jawaban langsung ketika ditanya apakah Mojtaba sudah aktif menjalankan peran barunya. Ia hanya mengatakan, "Mereka yang harus menerima pesan telah menerima pesan tersebut."

Di sisi lain, sejumlah analis menilai struktur kekuasaan Iran cukup kuat untuk tetap berfungsi meski pemimpinnya tidak tampil di publik. Profesor sejarah dan politik Iran di Oxford, Maryam Alemzadeh, mengatakan sistem negara tersebut dirancang dengan jaringan kekuasaan yang luas.

"Ketahanan Iran bergantung pada jaringan semi-formal seperti Islamic Revolutionary Guard Corps, Basij, dan lembaga negara lainnya. Mengganti pemimpin tidak banyak memengaruhi jaringan ini," ujarnya.

Peneliti senior di Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai Mojtaba masih membutuhkan waktu untuk membangun otoritasnya. Menurutnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa jabatan saja tidak cukup untuk membangun kekuasaan politik.

"Jabatan tidak otomatis memberi Anda kekuasaan. Itu bergantung pada kepribadian orang yang mendudukinya, dan proses itu bisa memakan waktu," katanya.

Sementara itu, situasi geopolitik kawasan tetap memanas. Konflik yang melibatkan Iran dan Israel terus berkembang dengan strategi perang asimetris yang telah lama disiapkan.

Di tengah dinamika tersebut, perhatian global juga tertuju pada sikap para pemimpin dunia, termasuk Donald Trump, mengenai arah konflik dan kemungkinan jalan keluar dari ketegangan yang semakin meningkat.

(tfa/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |