Kampus Berdampak: Mahasiswa PGRI Sumbar Bantu Pulihkan Nagari Tambangan Pascabencana

6 hours ago 3
Pendidikan

15 Maret 202615 Maret 2026

 Mahasiswa PGRI Sumbar Bantu Pulihkan Nagari Tambangan Pascabencana Sebanyak 56 mahasiswa Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) turun langsung membantu pemulihan pascabencana galodo di Jorong Mudiak Aia, Nagari Tambangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, melalui program pengabdian masyarakat “Mahasiswa Berdampak” yang didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

TANAH DATAR (Waspada.id): Semangat pengabdian perguruan tinggi kembali hadir di tengah masyarakat. Sebanyak 56 mahasiswa Universitas PGRI Sumatera Barat (UPGRISBA) turun langsung membantu pemulihan pascabencana galodo di Jorong Mudiak Aia, Nagari Tambangan, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, melalui program pengabdian masyarakat “Mahasiswa Berdampak” yang didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Kegiatan yang berlangsung selama 20 hari, mulai 4 Februari hingga 20 Maret 2026 ini menjadi bagian dari upaya pemulihan lingkungan sekaligus revitalisasi ekonomi masyarakat yang terdampak bencana.

Ketua tim dosen pengarah program dari UPGRISBA, Dr. Hafizah Delyana, menjelaskan bahwa kehadiran mahasiswa di lokasi bencana merupakan wujud nyata implementasi tridarma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

“Melalui program ini mahasiswa tidak hanya belajar di kelas, tetapi hadir langsung sebagai agen perubahan sosial yang membantu masyarakat memulihkan lingkungan sekaligus membangun kembali aktivitas ekonomi berbasis potensi lokal,” kata Hafizah, Sabtu (14/3/2026).

Bencana galodo yang terjadi pada 28 November 2025 dipicu oleh hujan deras berkepanjangan selama lebih dari satu minggu. Kondisi tersebut menyebabkan longsor besar dan meluapnya aliran sungai di kawasan Nagari Tambangan.
Material batu, kayu, dan lumpur menghancurkan berbagai infrastruktur desa.

Lebih dari 48 hektar lahan pertanian yang menjadi sumber utama penghidupan masyarakat tertimbun material banjir. Endapan pasir bahkan mencapai ketebalan sekitar 75 hingga 100 sentimeter di sejumlah area sawah.

Selain merusak lahan pertanian, bencana tersebut juga memutus beberapa jembatan penghubung antar wilayah, memperlebar aliran sungai, serta menghanyutkan jembatan menuju mushola yang menjadi pusat aktivitas warga.
Dalam program pengabdian tersebut, mahasiswa bersama warga bergotong royong membersihkan aliran air yang tertutup lumpur dan pasir, membersihkan mushola, serta menata kembali fasilitas umum yang terdampak banjir.

Mereka juga membuat dan menyusun sand barrier atau penghalang pasir di sepanjang aliran lahan untuk mencegah erosi dan melindungi tanaman petani dari kerusakan akibat arus air.
Dengan kerja sama yang solid, para mahasiswa mengisi dan menata karung pasir secara rapi hingga membentuk dinding pelindung di tepi aliran air. Upaya ini diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas lahan pertanian sekaligus mengurangi potensi kerusakan jika terjadi hujan deras kembali.

Tidak hanya itu, mahasiswa juga terlibat dalam proses pembangunan jembatan yang akan menghubungkan beberapa nagari di wilayah Tambangan. Infrastruktur ini nantinya diharapkan dapat memperlancar mobilitas warga serta memperkuat konektivitas antar desa sehingga aktivitas ekonomi masyarakat dapat kembali berjalan.

Program pengabdian ini diarahkan oleh tim dosen UPGRISBA yang dipimpin Dr. Hafizah Delyana dengan anggota Elza Safitri, M.Si dan Aulia Afza, M.Pd. Selama pelaksanaan kegiatan, tim juga mendapat kunjungan monitoring dari perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebagai bagian dari evaluasi sekaligus bentuk dukungan terhadap implementasi program di lapangan.

Menurut Hafizah, intervensi pengabdian ini dirancang untuk memperkuat kapasitas masyarakat dalam merestorasi ekosistem lahan sekaligus merevitalisasi ekonomi lokal melalui pendekatan pemberdayaan.

“Pendekatan yang digunakan mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi tepat guna, sehingga proses pemulihan pascabencana tidak hanya bersifat fisik tetapi juga berkelanjutan secara sosial dan ekonomi,” ujarnya.

Program ini juga sejalan dengan arah kebijakan pembangunan nasional dalam RPJMN melalui agenda Asta Cita. Di antaranya membangun Indonesia dari pinggiran dengan fokus pada wilayah pedesaan rawan bencana, meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan keterampilan dan akses pangan, serta mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.

“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya membantu masyarakat mempercepat proses pemulihan pascabencana, tetapi juga mendorong tumbuhnya usaha ekonomi masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan di masa depan,”ujar Hafizah.(id11)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |