Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengeluarkan pernyataan provokatif dengan mengancam akan menyerang Republik Islam Iran hingga kembali ke "Zaman Batu" di tengah penangguhan gencatan senjata yang diperpanjang tanpa batas waktu oleh Amerika Serikat (AS).
Pernyataan keras tersebut muncul setelah Presiden AS Donald Trump pada hari Selasa, (21/04/2026), memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata dengan Teheran demi memberikan waktu bagi potensi kesepakatan diplomatik, meski blokade angkatan laut Amerika di pelabuhan-pelabuhan Iran tetap diberlakukan.
Katz menegaskan bahwa militer Israel saat ini dalam posisi siaga penuh untuk melanjutkan agresi militer terhadap Teheran. Mengutip Russia Today, pada hari Kamis (23/04/2026), Katz menyatakan bahwa pihaknya hanya tinggal menunggu instruksi dari Washington untuk bergerak menghancurkan infrastruktur vital lawan.
"Israel siap untuk memperbarui perang melawan Iran. Kami sedang menunggu lampu hijau dari Amerika Serikat untuk menyelesaikan penghapusan dinasti Khamenei dan mengembalikan Iran ke Zaman Kegelapan dan Zaman Batu," ujar Katz dalam pernyataannya.
Rencana penghancuran tersebut kabarnya akan menargetkan fasilitas energi utama dan infrastruktur ekonomi Iran guna melumpuhkan negara tersebut secara total. Serangan ini merupakan kelanjutan dari kampanye militer Israel-AS yang pada hari pertama telah menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, yang kemudian digantikan oleh putranya, Mojtaba Khamenei.
Keterlibatan aktif Washington dalam konflik ini terus memicu perdebatan di internal Amerika, di mana sejumlah politisi menuding Gedung Putih sengaja "diseret" ke dalam perang karena pengaruh lobi pro-Israel yang kuat. Namun, Trump dengan tegas membela kebijakan militernya dan terus menekan Teheran dengan ancaman yang sangat serius.
Istilah "Zaman Batu" sendiri pertama kali dipopulerkan oleh Trump pada awal April lalu sebagai peringatan keras jika Teheran menolak tuntutan AS, termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz dan pembatasan ketat aktivitas nuklir. Trump memperingatkan bahwa kekuatan AS mampu melumpuhkan Iran dalam waktu singkat.
"Kami akan memukul Iran dengan sangat keras dan dapat membawa mereka kembali ke Zaman Batu dalam waktu dua hingga tiga minggu," kata Trump saat itu memberikan ancaman.
Di sisi lain, pemerintah Teheran tetap bersikap keras dengan menolak penghentian pengayaan nuklir yang mereka klaim untuk tujuan sipil dan medis. Duta Besar Iran untuk Moskow, Kazem Jalali, menegaskan bahwa negaranya siap menghadapi segala kemungkinan, baik melalui jalur diplomasi maupun pertempuran lanjutan.
Jalali menuduh Washington sebagai pihak yang sengaja merusak upaya perdamaian dengan menarik diri dari kesepakatan nuklir 2015 dan melakukan serangan saat proses negosiasi masih berjalan. Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan pada hari Jumat, Jalali menyampaikan posisi negaranya terkait agresi tersebut.
"Teheran tetap terbuka untuk diplomasi maupun pertempuran berkelanjutan," tegas Jalali.
(tps/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































