Industri Asuransi Nasional Belum Optimal Dukung Pengembangan Sektor Migas

4 hours ago 8
EkonomiNusantara

Industri Asuransi Nasional Belum Optimal Dukung Pengembangan Sektor Migas Ilustrasi sektor migas . (Ist)

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

JAKARTA (Waspada.id): Industri asuransi nasional belum bisa optimal mendukung pengembang sektor minyak dan gas (migas) di Indonesia. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat dari 70 perusahaan asuransi, hanya sekitar 10 perusahaan yang memiliki ekuitas diatas Rp 1 triliun.

“Di industri asuransi, risiko oil and gas dikenal sebagai low frequency dan high severity. Kejadiannya jarang, tetapi sekali terjadi nilai klaimnya sangat besar. Karena itu banyak perusahaan memilih mereasuransikan risiko tersebut,” kata Presiden Direktur PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk, Adi Pramana dalam diskusi di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, kejadian risiko atau musibah di sektor migas mungkin jarang terjadi, namun ketika terjadi nilainya bisa sangat besar. Sehingga membuat perusahaan asuransi cenderung berhati-hati dalam menahan risiko atau dialihkan ke perusahaan reasuransi.

“Sebab memang karakter risiko industri migas memang berbeda dibanding sektor lain karena tergolong low frequency namun high severity,” jelasnya.

Adi menambahkan, bahwa pengalaman panjang dalam menangani risiko migas menjadi faktor penting bagi perusahaan asuransi untuk meningkatkan keberanian dalam menahan risiko.

Namun, perkembangan teknologi energi seperti Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) juga menghadirkan tantangan baru, karena masih terbatasnya pengalaman industri dalam mengelola risiko tersebut.

Dari perspektif industri asuransi secara keseluruhan, Wakil Ketua AAUI Bidang Teknik, Dr. Diwe Novara, mengakui keterbatasan kapasitas permodalan perusahaan asuransi nasional sebagai salah satu tantangan utama dalam meningkatkan retensi risiko di sektor migas.

“Ya tadi itu, dari sekitar 70 perusahaan asuransi umum, hanya sekitar 10 yang memiliki ekuitas di atas Rp 1 triliun. Itu yang membuat kapasitas retensi industri masih menjadi tantangan,” ujar Diwe.

Menurutnya, peningkatan kapasitas industri asuransi nasional dapat dilakukan melalui penguatan ekuitas, peningkatan pengetahuan teknis, serta menjaga kepercayaan pasar reasuransi global terhadap industri asuransi Indonesia.

Ia juga mendorong pembentukan kembali skema konsolidasi retensi nasional di sektor migas, guna memperkuat posisi industri asuransi domestik dalam menangani risiko proyek energi skala besar.

Potensi Besar

Meski demikian, Kepala Divisi Perpajakan, Asuransi dan Perbendaharaan SKK Migas, Achmad Rezki Isfadjar, meyakini bahwa potensi bisnis asuransi di sektor hulu migas sebenarnya sangat besar.

Terlebih lagi dengan adanya instruksi Presiden Prabowo Subianto kepada Menteri ESDM Bahlil Lahadalia untuk menambah cadangan BBM dari 25 hari menjadi 3 bulan kedepan.

Sehingga membutuhkan pembangunan kilang minyak baru dan penambahan eksploitasi ladang minyak. Hal ini secara konsisten menghadirkan aktivitas investasi yang tinggi dan menciptakan kebutuhan proteksi risiko yang berkelanjutan.

Menurut Rezki, aktivitas di sektor hulu migas terus berjalan dan bahkan meningkat, sehingga peluang untuk memperoleh premi bagi industri asuransi nasional sangat terbuka. Namun tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dimanfaatkan oleh perusahaan asuransi domestik.

“Kalau soal potensi, industri hulu migas itu besar sekali. Aktivitasnya terus ada, premi asuransinya juga ada. Spending dari kontraktor maupun industri pendukung lain juga besar. Tantangannya adalah bagaimana risiko dan kebutuhan asuransi industri hulu migas ini bisa menjadi market untuk rumah kita sendiri secara maksimal,” urainya.

Dari sisi operator migas, VP Financing & Treasury PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Villia Sim menilai kebutuhan asuransi ke depan akan semakin kompleks seiring berkembangnya teknologi dan proyek energi baru di sektor hulu migas.

Ia menjelaskan bahwa selain proyek konvensional, PHE juga tengah melihat peluang proyek masa depan seperti teknologi penangkapan karbon yang akan membutuhkan skema asuransi yang berbeda dari sebelumnya.

“Kita juga tidak mau ketinggalan seperti negara lain. Proyek-proyek baru seperti ini tentu membutuhkan dukungan asuransi, tidak hanya dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negeri,” terang Villia. (Id88)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |