Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan domestik menunjukkan tren positif seiring menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah, sementara harga emas dunia masih bertahan di atas level psikologis US$5.000 per ons troy, pada perdagangan Selasa (10/2/2026).
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan, IHSG pada perdagangan terbaru sempat dibuka melemah di kisaran 8.031, namun berbalik menguat mengikuti sentimen positif dari mayoritas bursa saham Asia.
Menurutnya, penguatan pasar regional menjadi faktor pendorong utama pergerakan IHSG sehingga indeks masih berpeluang melanjutkan tren kenaikan dan menguji level resistensi berikutnya di kisaran 8.130.
Secara historis, IHSG memang baru saja kembali menembus level psikologis 8.000 setelah ditutup menguat 1,22 persen di posisi 8.031,87 pada perdagangan awal pekan, didukung dominasi saham yang naik dan optimisme investor di tengah sentimen regional yang positif.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah juga bergerak terapresiasi di kisaran Rp16.700–Rp16.800 per dolar AS, sejalan dengan melemahnya indeks dolar dan turunnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai membuka ruang penguatan mata uang di kawasan Asia, termasuk Rupiah.
Gunawan menjelaskan bahwa pelemahan dolar AS biasanya terjadi ketika pelaku pasar menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve), terutama setelah sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perlambatan.
Sementara itu, harga emas dunia masih diperdagangkan stabil di atas US$5.000 per ons troy. Secara global, logam mulia bahkan sempat menembus kisaran US$5.050 per ons akibat melemahnya dolar AS dan meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pelonggaran suku bunga.
Pada perdagangan berikutnya, harga emas bergerak fluktuatif di sekitar US$5.016 per ons karena investor menunggu data ketenagakerjaan dan inflasi AS sebagai penentu arah kebijakan moneter.
Menurut Gunawan, fokus pelaku pasar saat ini lebih tertuju pada rilis data inflasi dan tenaga kerja Amerika Serikat yang akan menjadi acuan kebijakan suku bunga ke depan. Jika data ekonomi menunjukkan perlambatan, peluang pelonggaran kebijakan moneter bisa semakin terbuka, yang umumnya memberikan sentimen positif bagi aset safe haven seperti emas.
Meski demikian, ia menilai pasar tetap akan berhati-hati mengingat dinamika geopolitik global yang masih berpotensi berubah cepat dan memicu volatilitas di pasar keuangan.
“Pelaku pasar saat ini berada dalam fase wait and see, menanti arah kebijakan The Fed sekaligus mencermati perkembangan geopolitik. Kedua faktor tersebut akan sangat menentukan arah pergerakan IHSG, Rupiah, maupun harga emas dalam jangka pendek,” ujar Gunawan Benjamin. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































