Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis energi global akibat perang di Timur Tengah memaksa negara-negara maju mengambil langkah darurat. Badan energi internasional (International Energy Agency/IEA) pada Rabu (11/3/2026) sepakat melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis untuk meredam guncangan pasokan yang dipicu konflik di Iran.
Langkah ini menjadi aksi pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah organisasi tersebut.
Namun IEA tidak menetapkan jadwal pasti kapan cadangan minyak tersebut akan masuk ke pasar. Lembaga itu hanya menyatakan bahwa pelepasan stok akan dilakukan sesuai kondisi masing-masing negara anggota.
IEA memiliki 32 negara anggota, yang sebagian besar berasal dari ekonomi maju di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Timur Laut. Organisasi ini bertugas menjaga stabilitas dan keamanan energi global.
IEA sendiri didirikan pada 1974 setelah embargo minyak oleh negara-negara Arab terhadap Amerika Serikat sebagai respons dukungan Washington kepada Israel dalam 1973 Arab-Israeli War.
Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, mengatakan konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah telah memberikan dampak besar pada pasar energi dunia.
"Konflik di Timur Tengah mempunyai dampak yang signifikan terhadap pasar minyak dan gas global, dengan implikasi besar terhadap keamanan energi, keterjangkauan energi, dan perekonomian global terhadap minyak," kata Birol dalam pernyataan yang disiarkan dari kantor pusat IEA di Paris, dikutip dari CNBC International.
Ia kemudian mengumumkan keputusan penting yang diambil oleh negara-negara anggota.
"Saya sekarang dapat mengumumkan bahwa negara-negara IEA telah dengan suara bulat memutuskan untuk meluncurkan pelepasan stok minyak darurat terbesar dalam sejarah badan kami," ujar Birol.
Saat ini negara-negara anggota IEA secara kolektif memiliki lebih dari 1,2 miliar barel cadangan minyak darurat publik, ditambah sekitar 600 juta barel stok industri yang disimpan di bawah kewajiban pemerintah.
Birol mengatakan pelepasan cadangan minyak ini ditujukan untuk mengatasi dampak langsung dari gangguan pasokan. Namun menurutnya, pasar energi global tidak akan benar-benar stabil sampai kapal tanker kembali berlayar melalui Selat Hormuz.
Selat sempit yang berada di lepas pantai Iran itu menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan merupakan jalur vital bagi perdagangan energi dunia.
Sekitar 20% pasokan minyak dan gas global biasanya melewati selat tersebut. Namun sejak pecahnya perang Iran, lalu lintas kapal tanker praktis berhenti karena perusahaan pelayaran khawatir menjadi sasaran serangan.
Sumbangan AS
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa Washington akan melepas 172 juta barel minyak dari cadangan stragegisnya.
Menurut Wright, distribusi minyak tersebut akan dimulai pada pekan depan. Namun proses pelepasan seluruh cadangan itu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 120 hari hingga seluruhnya masuk ke pasar.
Keputusan ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang sebelumnya mengatakan pemerintahannya siap memanfaatkan cadangan minyak strategis untuk menahan kenaikan harga energi.
"Kami akan melakukan itu, dan kemudian kami akan mengisinya," kata Trump dalam wawancara dengan stasiun penyiaran WKRC yang berbasis di Cincinnati.
Presiden AS menyatakan bahwa langkah tersebut bersifat sementara dan pemerintah akan kembali mengisi cadangan tersebut di kemudian hari.
"Saya sudah mengisinya sekali, dan saya akan mengisinya lagi, tapi saat ini, kami akan menguranginya sedikit, dan itu membuat harganya turun," ujar Trump.
Saat ini, cadangan minyak strategis Amerika Serikat berjumlah sekitar 415 juta barel. Angka ini setara dengan sekitar 58% dari kapasitas maksimal yang diizinkan, yakni 714 juta barel.
Sebelumnya, pemerintah Jepang telah lebih dulu menyatakan siap mengeluarkan cadangan minyak nasionalnya.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengatakan negaranya kemungkinan mulai melepas stok minyak secepatnya pekan depan. Langkah tersebut diambil karena Jepang memiliki tingkat ketergantungan yang sangat tinggi terhadap pasokan energi dari Timur Tengah.
Gangguan Pasokan Terbesar
Menurut analisis perusahaan konsultan energi Rapidan Energy Group dan Wood Mackenzie, Penutupan Selat Hormuz kini memicu gangguan pasokan minyak terbesar yang pernah tercatat.
Para analis energi sebelumnya telah memperingatkan bahwa bahkan jika IEA mengeluarkan cadangan minyak dalam jumlah maksimal sekalipun, langkah itu kemungkinan masih belum cukup untuk menutup kekurangan pasokan sekitar 20 juta barel per hari yang biasanya melewati selat tersebut.
Birol juga menggambarkan situasi energi global sebagai kondisi yang sangat mengkhawatirkan.
Menurutnya, sejumlah produsen minyak di Timur Tengah telah mengurangi produksi, sementara operasi kilang terganggu. Hal ini berdampak besar terutama terhadap pasokan diesel dan bahan bakar jet.
Ia juga mengatakan serangan-serangan dalam perang tersebut terus merusak infrastruktur energi dan fasilitas yang berkaitan dengan sektor energi.
Krisis ini tidak hanya berdampak pada minyak. Pasokan global gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) juga ikut terganggu.
Menurut Birol, suplai LNG global kini telah berkurang sekitar 20%. Situasi ini memaksa negara-negara kaya di Asia bersaing dengan negara-negara di Eropa untuk mendapatkan kargo LNG yang tersedia.
LNG adalah gas alam yang didinginkan hingga berubah menjadi cair sehingga dapat diangkut menggunakan kapal tanker untuk perdagangan internasional. Gas alam sendiri digunakan secara luas di seluruh dunia untuk pembangkit listrik dan pemanas rumah.
Sejak pecahnya perang Iran pada 28 Februari, harga minyak global bergerak sangat liar.
Harga minyak acuan dunia Brent crude sempat melonjak hingga hampir US$120 per barel pada awal pekan ini sebelum kemudian turun kembali ke kisaran US$90 per barel.
(luc/luc)
Addsource on Google

4 hours ago
1
















































