Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin Unsam Pulihkan Layanan Dasar dan Penghidupan Warga Batang Ara

3 hours ago 2

ACEH TAMIANG (Waspada.id): Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HMTM) Universitas Samudra (Unsam) menerjunkan 50 mahasiswa dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Mahasiswa Berdampak—Pemulihan Bencana di Desa Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.

Tim dosen pembimbing terdiri dari Dr. Fazri, S.T., M.T. (ketua), Dr. Suri Purnama Febri, S.Kel., M.Si (anggota), dan Dr. Teuku Azuar Rizal, S.T., M.T (anggota).

Ketua tim dosen pembimbing lapangan, Dr. Fazri, S.T., M.T dalam keterangannya kepada wartawan, Selasa (03/03/2026) mengatakan, program ini difokuskan pada pemulihan pascabencana melalui dua intervensi utama, yakni 1 unit sistem air bersih/sanitasi bertenaga surya untuk pemulihan layanan dasar, serta 4 kolam bioflok yang telah diisi ikan lele untuk penguatan penghidupan warga.

Kegiatan diawali dengan pelepasan mahasiswa pada 5 Februari 2026 di depan Fakultas Sains dan Teknologi Unsam oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama FST Unsam, Dr. Taufan Arif Adlie, S.T., M.T.

Dalam arahannya, Dr. Taufan menegaskan, program ini merupakan pembelajaran kontekstual yang memadukan sains, teknologi, dan kerja sosial.

“Mahasiswa hadir bukan sekadar menjalankan agenda, tetapi membawa solusi yang bisa diuji di lapangan, disesuaikan dengan kondisi desa, serta dipastikan dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat,” ujarnya.

Penerapan 1 unit sistem air bersih/sanitasi bertenaga surya yang dilakukan Himpunan Mahasiswa Teknik Mesin (HMTM) Universitas Samudra (Unsam) l dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Mahasiswa Berdampak—Pemulihan Bencana di Desa Batang Ara, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.Waspada.id/Ist

Rektor Universitas Samudra, Prof. Dr. Ir. Hamdani, M.T dalam kesempatan itu juga turut mengapresiasi pelaksanaan program tersebut sebagai bentuk penguatan peran perguruan tinggi dalam pemulihan pascabencana.

Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan berbasis masalah nyata akan membentuk kompetensi sekaligus kepedulian sosial.

“Perguruan tinggi harus hadir bersama masyarakat. Program seperti ini mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan riil warga, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan saat kegiatan berlangsung, tetapi juga berlanjut melalui pengelolaan dan kemandirian mitra,” katanya.

Dijelaskan Dr. Fazri, S.T., M.T, pendekatan program dirancang berbasis kebutuhan nyata masyarakat pascabencana.

“Kami menggabungkan penerapan teknologi tepat guna dengan pendampingan tata kelola. Pemulihan layanan dasar penting, tetapi penguatan penghidupan warga juga harus berjalan agar pemulihan lebih cepat dan berdampak,” katanya.

Untuk memperkuat pelaksanaan HMTM di lapangan, lanjutnya, dilakukan kolaborasi lintas program studi dalam perwalian, yaitu Teknik Industri (studi ekonomi dan penyusunan SOP/panduan), Akuakultur (kajian dan pendampingan kolam bioflok), Pendidikan Vokasional Seni Kuliner (edukasi gizi serta dukungan dapur umum), serta Teknik Mesin (kajian mekanikal kolam dan penerapan energi terbarukan pada sanitasi tenaga surya serta filtrasi air).

Pada paket pemulihan layanan dasar, mahasiswa menerapkan 1 unit sistem air bersih/sanitasi bertenaga surya. Sistem ini dirancang dengan tahapan pengolahan yang terukur, mulai dari pemanfaatan sumber air baku, pengendapan, filtrasi, penyimpanan dalam tandon, hingga distribusi ke masyarakat. Dukungan energi surya digunakan untuk menjaga operasional lebih stabil pada kondisi lapangan pascabencana.

Sementara itu, pada paket penguatan penghidupan, mahasiswa bersama mitra mendampingi pengembangan budidaya lele sistem bioflok yang adaptif terhadap keterbatasan air dan dapat dijalankan secara kolektif. Sebagai hasil pelaksanaan program, telah terwujud 4 kolam bioflok yang sudah berisi ikan lele.

Pendampingan mencakup pemahaman operasional harian, pengelolaan kualitas air dan aerasi, serta penguatan manajemen sederhana agar budidaya berjalan konsisten.

Pejabat Desa Batang Ara, Amril, mengapresiasi keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam pemulihan pascabencana di wilayahnya.

Menurutnya, kehadiran sistem air bersih tenaga surya dan unit bioflok lele memberi harapan baru bagi warga.

“Kami sangat terbantu. Program ini bukan hanya datang memasang, tetapi juga mendampingi. Harapannya warga dapat melanjutkan pengelolaan sarana air bersih dan budidaya lele ini untuk kebutuhan dan tambahan penghasilan,” ujarnya.

Selain pembangunan dan pendampingan teknis, program ini menekankan penguatan tata kelola melalui penyusunan SOP/panduan operasional agar sarana yang dibangun dapat dirawat dan dimanfaatkan jangka panjang. Kegiatan dilaksanakan secara partisipatif bersama masyarakat dan mitra desa sehingga transfer pengetahuan berlangsung selama proses berjalan.

Program Mahasiswa Berdampak di Desa Batang Ara dijadwalkan berlangsung hingga 24 Februari 2026, dengan rangkaian kegiatan meliputi survei kebutuhan, persiapan dan pemasangan sarana, pelatihan, pendampingan operasional, hingga evaluasi awal bersama mitra.

“Dokumentasi lapangan mencakup foto pelepasan, instalasi sistem air bersih tenaga surya, kondisi unit kolam bioflok, serta foto tim mahasiswa bersama warga di lokasi kegiatan,” imbuhnya.(Id74)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |