Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id): Penurunan harga minyak mentah dunia membawa angin segar bagi pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Pada perdagangan hari ini, Selasa (10/3), sejumlah instrumen keuangan seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga harga emas tercatat bergerak menguat.
Harga minyak mentah dunia turun ke kisaran US$88 per barel untuk jenis West Texas Intermediate (WTI) dan sekitar US$92 per barel untuk jenis Brent. Penurunan ini terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melonjak hingga US$113 per barel pada perdagangan sebelumnya.
Koreksi harga minyak dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menyebut kemungkinan konflik dengan Iran akan segera berakhir. Pernyataan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terkait eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah, sehingga mendorong harga minyak bergerak turun.
Seiring dengan kondisi tersebut, harga emas dunia justru mengalami penguatan. Pada perdagangan hari ini, emas diperdagangkan di level US$5.133 per ons troy, atau sekitar Rp2,8 juta per gram di pasar domestik.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa pergerakan harga emas belakangan ini memang relatif stabil meskipun sempat diwarnai kekhawatiran stagflasi akibat lonjakan harga minyak sebelumnya.
“Ketika ketegangan geopolitik mulai mereda, pasar kembali melakukan penyesuaian. Harga minyak turun, tetapi emas tetap bergerak naik sebagai instrumen lindung nilai karena ketidakpastian global sebenarnya belum sepenuhnya hilang,” ujar Gunawan di Medan.
Di pasar valuta asing, rupiah turut menguat pada perdagangan pagi ini dan diperdagangkan di level Rp16.860 per dolar AS. Penguatan rupiah didukung oleh melemahnya sejumlah indikator keuangan Amerika Serikat.
Indeks dolar AS (USD Index) tercatat turun ke kisaran 98,73, sementara imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga melemah ke sekitar 4,113 persen. Kondisi ini memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Gunawan menambahkan bahwa pelemahan indikator ekonomi AS memberikan peluang bagi rupiah untuk menguat dalam jangka pendek.
“Selama tekanan dari dolar AS mereda dan tensi geopolitik tidak kembali memanas, rupiah berpeluang mempertahankan penguatan. Namun pasar tetap sangat sensitif terhadap perkembangan di Timur Tengah,” jelasnya.
Sementara itu, IHSG pada sesi pembukaan perdagangan juga bergerak positif dengan dibuka menguat di level 7.443. Penguatan ini terjadi menjelang rilis data penjualan ritel Indonesia yang turut menjadi perhatian pelaku pasar.
Menurut Gunawan, arah pergerakan pasar keuangan domestik saat ini masih sangat dipengaruhi oleh sentimen global, terutama perkembangan geopolitik.
“Fokus utama pelaku pasar saat ini masih pada dinamika konflik di Timur Tengah. Jika situasi semakin kondusif, maka pasar keuangan di kawasan Asia, termasuk Indonesia, berpeluang melanjutkan penguatan,” pungkasnya. (id09)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































