Harga Minyak Tembus US$ 100, Ramalan Terbaru Bikin Ngeri

4 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak mentah kembali menembus level US$100 per barel pada perdagangan hari ini, Rabu (9/9/2026). Harga minyak melonjak di tengah eskalasi serangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di kawasan Teluk memicu kekhawatiran baru terhadap pasokan energi global.

Minyak brent, yang menjadi patokan harga minyak global, untuk pengiriman November sempat naik melewati US$100 per barel sebelum kembali turun di bawah level psikologis tersebut.

Merujuk Refinitiv, harga minyak brent sempat menyentuh US$ 100,03 per barel pada Rabu hari ini pukul 14.20 WIB. Harganya melonjak 2,15% dibandingkan penutupan Selasa (8/9/2026) di posisi US$ 97,92 per barel.

Harganya kemudian melandai ke bawah level US$ 100 per barel

Pada Rabu pukul 15.09 WIB, harga minyak breny naik 2,05% ke US$ 99,94 per barel sementara WTI menanjak 1,58% ke US$ 94,50 per barel.

Kenaikan bahkan lebih tajam terjadi pada sejumlah produk olahan minyak, seperti diesel, setelah konflik Timur Tengah meluas hingga kawasan Laut Merah di dekat Arab Saudi. Situasi ini menambah tekanan di tengah perang Rusia-Ukraina yang masih berlangsung.

Harga brent kini telah melonjak lebih dari 60% sepanjang tahun ini. Terakhir kali harga minyak tersebut menyentuh US$100 terjadi pada Juli lalu.

Sejak awal bulan sebelumnya, harga brent juga telah naik sekitar seperempat seiring memudarnya harapan tercapainya penyelesaian permanen atas konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan.

Selat Hormuz Jadi Titik Panas

Eskalasi konflik semakin mengkhawatirkan karena menyangkut Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute utama pengiriman minyak, gas alam cair (LNG), dan pupuk.

Militer AS mengatakan telah menghancurkan lima kapal tanker minyak mentah Iran dan menenggelamkan salah satunya sebagai balasan atas serangan Iran terhadap kapal perang AS.

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kemudian mengklaim merespons dengan serangan rudal berat ke Yordania, sekutu AS. Kantor berita pemerintah Yordania, Petra, melaporkan militer negara tersebut berhasil mencegat 20 rudal balistik.

Sementara itu, serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi pekan ini menyebabkan sejumlah instalasi minyak terbakar. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat meluas lebih jauh dan mengganggu jalur pengiriman minyak melalui Laut Merah.

Laut Merah sebelumnya menjadi salah satu jalur alternatif penting ketika arus minyak melalui Selat Hormuz mulai terganggu sejak perang Iran pecah pada 28 Februari.

Bank Mulai Naikkan Proyeksi Harga Minyak

Kekhawatiran terhadap pasokan juga mulai tercermin dalam proyeksi pasar. Sejumlah bank besar, termasuk Goldman Sachs, Bank of America, dan HSBC, telah menaikkan perkiraan harga minyak mentah dalam beberapa hari terakhir.

Menurut Kepala Ekonom Rystad Energy Claudio Galimberti, sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus 2026, sekitar 8 juta-9 juta barel minyak per hari (bph) masih mengalir melalui Selat Hormuz. Angka tersebut bahkan dua kali lipat dibandingkan pekan sebelumnya.

Namun, aliran minyak melalui jalur tersebut belakangan turun di bawah 2 juta bph.

Di sisi lain, sejumlah produsen minyak non-OPEC seperti AS, Kanada, dan Guyana memang telah meningkatkan produksi. Namun, International Energy Agency (IEA) memperkirakan pasokan minyak global tahun ini justru akan turun sekitar 4,3 juta bph atau 4%.

Goldman Sachs secara mengejutkan mengubah proyeksi harga minyaknya. Dalam laporan yang dirilis Senin (7/9/2026), bank investasi tersebut menaikkan perkiraan harga Brent untuk Desember 2026 sebesar US$5 menjadi US$85 per barel, sementara proyeksi WTI dinaikkan menjadi US$80 per barel.

Perubahan ini didorong oleh kekhawatiran bahwa gangguan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz akan berlangsung hingga 2027. Goldman juga memperkirakan harga rata-rata Brent pada 2027 mencapai US$80 per barel, naik dari proyeksi sebelumnya US$75. Sementara WTI dinaikkan dari US$70 menjadi US$75 per barel.

Yang lebih mengejutkan, Goldman memperkirakan Brent bisa melonjak menembus US$120 per barel jika produksi minyak di kawasan Teluk Persia turun hingga 4 juta barel per hari (bph) di bawah level sebelum perang.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |