Harga CPO Ambruk Lebih 3%, Tertekan Minyak Nabati Dan Minyak Mentah

3 hours ago 2
Ekonomi

Harga CPO Ambruk Lebih 3%, Tertekan Minyak Nabati Dan Minyak Mentah

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

JAKARTA (Waspada.id): Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok tajam pada perdagangan Selasa (10/3/2026), turun lebih dari 3 persen. Pelemahan tersebut dipicu oleh penurunan harga minyak nabati pesaing di pasar global serta merosotnya harga minyak mentah dunia.

Berdasarkan data BMD pada penutupan perdagangan, kontrak berjangka CPO Maret 2026 turun 142 Ringgit Malaysia menjadi 4.312 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak April 2026 juga merosot 142 Ringgit Malaysia ke level 4.398 Ringgit Malaysia per ton.

Kontrak Mei 2026 terkoreksi 139 Ringgit Malaysia menjadi 4.428 Ringgit Malaysia per ton, sedangkan kontrak Juni 2026 melemah 131 Ringgit Malaysia ke posisi 4.428 Ringgit Malaysia per ton.

Penurunan juga terjadi pada kontrak jangka lebih panjang. Kontrak Juli 2026 turun 123 Ringgit Malaysia menjadi 4.412 Ringgit Malaysia per ton, sementara kontrak Agustus 2026 merosot 118 Ringgit Malaysia ke level 4.384 Ringgit Malaysia per ton.

Seorang trader yang berbasis di Kuala Lumpur mengatakan, pergerakan harga CPO saat ini mengikuti tren pelemahan komoditas global. Harga minyak sawit dipengaruhi oleh penurunan harga minyak kedelai dan minyak sawit di sejumlah bursa komoditas utama seperti Dalian Commodity Exchange dan Chicago Board of Trade, serta melemahnya harga minyak mentah dunia.

Data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan stok minyak sawit Malaysia pada Februari 2026 turun 3,9 persen dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 2,70 juta ton, yang merupakan level terendah dalam empat bulan.

Produksi CPO Malaysia juga merosot 18,6 persen dari Januari menjadi 1,28 juta ton, sementara ekspor minyak sawit turun 22,5 persen menjadi 1,13 juta ton.

Di pasar minyak nabati lainnya, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian Commodity Exchange melemah 3,14 persen, sedangkan kontrak minyak sawit di bursa yang sama turun 1,29 persen. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade juga terkoreksi sekitar 0,68 persen.

Harga CPO biasanya bergerak searah dengan minyak nabati lainnya karena saling bersaing dalam pasar minyak nabati global.

Tertekan Harga Minyak Mentah

Selain faktor minyak nabati, pelemahan harga minyak mentah dunia juga memberi tekanan tambahan pada pasar CPO.

Harga minyak mentah tercatat turun sekitar 7 persen setelah sebelumnya melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump memperkirakan konflik di Timur Tengah dapat segera mereda, sehingga meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.

Harga minyak mentah yang lebih rendah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Meski demikian, data ekspor menunjukkan permintaan mulai membaik. Perusahaan inspeksi independen AmSpec Agri Malaysia melaporkan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada periode 1–10 Maret 2026 meningkat 45,3 persen dibandingkan periode yang sama pada Februari.

Sementara itu, survei Intertek Testing Services mencatat ekspor pada periode yang sama naik 37,9 persen, mengindikasikan adanya perbaikan permintaan di pasar internasional. (invid)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |