Jakarta, CNBC Indonesia - Google mulai mengubah tampilan hasil pencariannya di Eropa. Perubahan ini dilakukan untuk memenuhi aturan antimonopoli Uni Eropa (UE), tetapi Google memperingatkan langkah tersebut justru bisa menurunkan pengalaman pengguna dan meningkatkan biaya bagi bisnis di kawasan tersebut.
Alphabet selaku induk Google menyebut perubahan ini sebagai pengurangan kualitas layanan terbesar dalam 29 tahun sejarah mesin pencari tersebut.
Google menilai aturan UE membuat hasil pencarian menjadi kurang optimal karena memberikan posisi lebih tinggi kepada situs perbandingan harga atau vertical search services (VSS). Layanan tersebut mencakup platform seperti Expedia dan Booking.com yang bergerak di sektor hotel, penerbangan, hingga restoran.
Dalam skema baru tersebut, layanan pencarian khusus akan mendapat posisi lebih menonjol di halaman hasil pencarian Google. Sementara itu, perusahaan lokal yang hanya mencantumkan tautan situs, nomor telepon, dan alamat akan mendapatkan posisi yang lebih rendah.
Google juga akan menampilkan satu mesin pencari khusus di bagian teratas, disusul dua layanan lainnya dengan informasi yang lebih terbatas. Di bawahnya, Google akan menampilkan carousel berisi hotel, maskapai penerbangan, dan restoran.
Namun, sejumlah informasi penting seperti harga secara real-time akan dihilangkan dari tampilan tersebut. Urutan hasil pencarian tetap ditentukan oleh algoritma Google.
"Untuk mematuhi persyaratan DMA, kami melakukan perubahan signifikan pada Search di Eropa," kata Nick Fox, Senior Vice President Knowledge & Information Google, dikutip dari Reuters, Rabu (9/9/2026).
Menurut Fox, perubahan tersebut justru akan memperburuk pengalaman pengguna di Eropa karena menguntungkan perantara online dan mengorbankan bisnis lokal.
"Perubahan ini menurunkan pengalaman pengguna bagi masyarakat Eropa - meningkatkan peran perantara online dengan mengorbankan bisnis lokal, serta menghapus fitur-fitur bermanfaat yang diandalkan orang setiap hari. Pengguna di luar Uni Eropa tidak akan terdampak perubahan ini," ujarnya.
Google Kena Denda
Perubahan tersebut tidak terlepas dari tekanan regulator UE. Pada Juli 2026, Google terkena denda sebesar 460 juta euro karena dinilai mengutamakan layanan miliknya sendiri dalam hasil pencarian untuk sektor belanja, hotel, transportasi, dan olahraga.
Komisi Eropa memberikan waktu 60 hari kepada Google untuk mematuhi aturan Digital Markets Act (DMA). Jika gagal, Google dapat menghadapi denda berkala hingga 5% dari total omzet globalnya.
Google mengatakan perubahan sebelumnya untuk memenuhi DMA sudah berdampak besar terhadap bisnis di Eropa. Perusahaan mengklaim lalu lintas pemesanan langsung dan gratis ke bisnis Eropa turun hingga 30%.
Perubahan terbaru juga diperkirakan kembali menekan bisnis-bisnis tersebut. Google mengatakan pengujian terhadap jutaan pengguna di Eropa menunjukkan tingkat ketidakpuasan yang tinggi karena pengguna harus mengetik ulang pencarian untuk menemukan informasi yang mereka cari.
Selain itu, regulator UE pada Juli juga menjatuhkan denda terpisah sebesar 430 juta euro kepada Google terkait pembatasan yang membuat pengembang aplikasi kesulitan mengarahkan pengguna secara gratis ke penawaran yang lebih murah di toko aplikasi atau situs pesaing.
Google mengatakan telah memperbarui program external offers di Google Play untuk memenuhi ketentuan tersebut.
Dalam hampir dua dekade perseteruannya dengan regulator antimonopoli UE, Google telah mengumpulkan total denda sebesar 10,38 miliar euro.
Perseteruan tersebut juga memicu reaksi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia sebelumnya mengkritik denda UE dan mengancam akan membuka penyelidikan terhadap blok tersebut karena dinilai "merampok" perusahaan-perusahaan Amerika Serikat.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
5
















































