Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
06 July 2026 15:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Sagu sejak lama menjadi salah satu penyangga pangan Indonesia. Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat produksi sagu nasional sempat mencapai 463.542 ton pada 2018 sebelum turun menjadi 359.838 ton pada 2019.
Produksi kemudian berangsur pulih menjadi 381.065 ton pada 2021, meski belum kembali ke level sebelum pandemi.
Papua tetap menjadi lumbung utama dengan produksi relatif stabil di kisaran 66-69 ribu ton per tahun sepanjang 2017-2021. Artinya, pasokan sagu nasional masih bertumpu pada wilayah timur Indonesia.
Di sisi lain, data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan konsumsi kelompok umbi-umbian di Indonesia justru bergerak turun. Rata-rata konsumsi per kapita per minggu mencapai 13,564 kg pada 2021, turun menjadi 12,768 kg pada 2022, sempat naik tipis ke 13,135 kg pada 2023, lalu kembali melemah menjadi 12,491 kg pada 2024 dan 11,602 kg pada 2025.
Penurunan ini menggambarkan semakin kecilnya porsi umbi-umbian dalam pola konsumsi rumah tangga Indonesia.
Perubahan tersebut ikut terasa di wilayah yang selama berabad-abad dikenal sebagai rumah bagi sagu.
Data BPS tahun 2025 memperlihatkan konsumsi kelompok umbi-umbian di sebagian besar kabupaten dan kota Indonesia timur sudah berada di level rendah. Sorong Selatan menjadi pengecualian dengan konsumsi mencapai 1,003 kg per kapita per minggu.
Setelah itu angkanya turun cukup jauh, seperti Seram Bagian Timur 0,264 kg, Jayapura 0,203 kg, Kaimana 0,114 kg, Maluku Tengah dan Merauke masing-masing 0,09 kg. Bahkan sejumlah daerah di Maluku hanya mencatat konsumsi 0,001-0,008 kg per kapita per minggu.
Pergeseran pola makan ini sejalan dengan semakin kuatnya posisi beras sebagai pangan utama di Indonesia timur.
Konsumsi pangan lokal berbasis sagu perlahan bergeser, terutama di kawasan perkotaan dan generasi muda.
Sagu telah menjadi makanan pokok masyarakat Papua dan Maluku sejak lama karena tumbuh alami di lingkungan setempat. Pohon sagu mudah ditemukan di kawasan hutan, rawa, maupun daerah aliran sungai. Tradisi mengolah batang sagu menjadi tepung diwariskan secara turun-temurun dan melahirkan berbagai pangan khas seperti papeda. Satu batang sagu bahkan dapat menghasilkan sekitar 150-300 kilogram bahan baku tepung sagu sehingga menjadi sumber karbohidrat utama masyarakat setempat.
Meski demikian, perubahan konsumsi tidak berarti budaya sagu menghilang sepenuhnya. Tradisi kuliner berbahan sagu masih bertahan di berbagai daerah Indonesia, mulai dari papeda di Papua dan Maluku, sagu dange di Sulawesi, mi sagu di Kepulauan Riau dan Kalimantan, hingga kapurut sagu di Mentawai. Ragam olahan tersebut memperlihatkan bahwa sagu memiliki nilai budaya yang jauh lebih luas dibanding sekadar komoditas pertanian.
Bagi sektor pangan nasional, kondisi ini menghadirkan tantangan tersendiri.
Produksi sagu masih bertahan, terutama di Papua, sementara konsumsi pangan berbasis umbi terus menyusut. Jika tren tersebut berlanjut, ruang pasar sagu berpotensi semakin sempit meski Indonesia memiliki salah satu cadangan hutan sagu terbesar di dunia.
Sagu pada akhirnya menyimpan cerita tentang perubahan selera makan masyarakat Indonesia. Dulu ia menjadi sumber energi utama di banyak wilayah timur. Kini, keberadaannya lebih sering ditemui sebagai pangan tradisional atau sajian khas daerah.
Pergeseran itu berlangsung perlahan selama bertahun-tahun, tercermin dari data konsumsi yang terus mengecil, sementara produksi hingga tahun 2021 masih tetap dipertahankan oleh daerah-daerah penghasil utamanya.
Di saat bersamaan, kini pemerintah mulai mengkonsentrasikan pembangunan sawah padi ke timur Indonesia, termasuk ke Papua, terutama Merauke. Wilayah ini dirancang menjadi pusat program cetak sawah dan optimalisasi lahan di Tanah Papua, sekaligus disiapkan menjadi lumbung pangan baru di kawasan timur Indonesia.
Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo mengungkapkan, dari total 84 ribu hektare cetak sawah yang sudah dilakukan di seluruh Tanah Papua, sebanyak 48 ribu hektare berada di Kabupaten Merauke. Artinya, lebih dari separuh program cetak sawah di Papua saat ini terpusat di wilayah tersebut.
Petani di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Petani di Kampung Candra Jaya, Distrik Kurik, Merauke, Papua Selatan. (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

8 hours ago
3

















































