Ekonomi Dunia Bisa Gawat! AS Mau Bikin Ulah Lagi, Iran Balik Mengancam

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) melontarkan ancaman mengerikan kepada Iran dengan bersiap meluncurkan serangan finansial terbesar dalam sejarah. Merespons manuver agresif tersebut, Teheran bersumpah akan menghentikan seluruh ekspor minyak dari kawasan Teluk jika perang ekonomi ini terus berlanjut.

Mengutip Reuters, Senin (24/08/2026), Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan akan menggelar konferensi pers pada hari Senin pukul 13.00 waktu setempat untuk mengumumkan langkah-langkah sanksi yang jauh lebih berat. Sanksi ekonomi baru yang mematikan ini secara khusus akan menargetkan langsung negara-negara mitra dagang Iran.

Melalui sebuah opini yang diterbitkan di Financial Times pada hari Minggu, Bessent memberi isyarat bahwa AS akan menargetkan negara-negara pengecut yang mempraktikkan "peredaan" dengan terlibat dalam ekonomi dan sistem keuangan Iran.

"Saat fajar menyingsing, dimulailah Hari-H ekonomi, serangan finansial tunggal terbesar yang pernah dikerahkan terhadap musuh. Mereka sebaiknya mempertimbangkan konsekuensi dari mempertahankannya," paparnya.

Ancaman "Hari-H" ini langsung direspons dengan kemarahan oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, yang mengisyaratkan pembalasan ekonomi absolut dari pihak Teheran.

"Jika perang ekonomi berlanjut, tidak setetes pun minyak akan diekspor, baik melalui Selat Hormuz maupun dari mana pun di Teluk Persia. Iran akan menganggap partisipasi atau dukungan negara mana pun terhadap perang ekonomi Amerika terhadap rakyat Iran sebagai tindakan perang," tegasnya.

Terkait sasaran sanksi mitra dagang ini, Bessent sebelumnya telah mendesak China untuk bekerja sama, mengingat Beijing secara historis menerima setengah dari impor minyaknya dari kawasan Teluk. Namun, juru bicara Kedutaan Besar China di Washington justru menolak mentah-mentah strategi AS dan menyerukan kelanjutan jalur diplomasi.

"Sanksi dan tekanan tidak membantu menyelesaikan masalah," ucapnya.

Di tengah absennya pembicaraan tatap muka resmi antara AS dan Iran sejak bulan Juni lalu, negara lain terus berupaya untuk menengahi. Panglima Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, dijadwalkan mengunjungi Teheran pada hari Senin sebagai bagian dari upaya mediasi memulihkan perdamaian, yang mana ia disebut akan membahas ancaman sanksi baru AS tersebut.

Sebagai informasi latar belakang, kedua negara yang berseteru ini memang belum melakukan serangan militer langsung satu sama lain selama berminggu-minggu, namun negosiasi untuk mengakhiri konflik enam bulan ini juga masih tertahan.

Perang mematikan yang diawali oleh serangan AS dan Israel pada 28 Februari lalu ini telah menewaskan ribuan orang yang sebagian besar berada di Iran dan Lebanon. Konflik ini sukses menguras kapasitas militer konvensional Iran, menghancurkan infrastruktur, hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Di pihak AS, sebanyak 18 personel militer dilaporkan tewas dan lebih dari 750 lainnya terluka.

Meski demikian, Iran diketahui masih menyimpan cukup kemampuan rudal dan drone mematikan untuk menyerang negara tetangganya di Teluk dan mengancam kapal tanker di Selat Hormuz, yang berisiko menghentikan lalu lintas pelayaran global dan menekan harga bahan bakar dunia. Adapun status pasti dari program nuklir Iran yang ingin dihancurkan oleh AS dan Israel hingga saat ini masih belum diketahui.

Dari sisi domestik, ekonomi Iran sendiri sejatinya telah berdarah-darah akibat sanksi internasional, inflasi yang tinggi, pelemahan mata uang, hingga krisis energi sebelum AS dan Israel menghancurkan sebagian infrastruktur mereka. Para pejabat Iran telah memperingatkan bahwa hukuman ekonomi yang lebih berat berisiko meningkatkan penderitaan rakyat, memicu kerusuhan baru, dan makin mengikis legitimasi Republik Islam tersebut di tengah beban biaya pembangunan kembali pascaperang.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |