Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan bergerak di zona hijau, Senin (27/4/2026).
IHSG dibuka naik 71,53 poin atau 1% ke level 7.201,02. Sebanyak 374 saham naik, 189 turun, dan 396 belum bergerak.
Nilai transaksi tercatat Rp 1956,7 miliar, melibatkan 1,56 miliar saham dalam 119.500 kali transaksi. Kapitalisasi pasar pun terkerek menjadi Rp 12.883 triliun.
Pasar keuangan Indonesia pekan ini hanya berlangsung empat hari yakni Senin-Kamis karena ada Libur Hari Buruh pada 1 Mei atau Jumat mendatang.
Fokus utama pasar pekan ini tertuju pada perkembangan terbaru negosiasi Amerika Serikat (AS)-Iran, keputusan suku bunga The Federal Reserve, rilis inflasi PCE AS, data manufaktur AS dan China, serta keputusan suku bunga Bank of Japan (BOJ).
Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%. Ekspektasi ini muncul karena inflasi AS masih berada di atas target, sementara lonjakan harga energi akibat konflik Timur Tengah membuat bank sentral AS sulit bergerak terlalu cepat untuk melonggarkan kebijakan.
Keputusan The Fed kali ini akan sangat penting bagi pasar global. Jika The Fed memberi sinyal masih akan menahan suku bunga lebih lama, dolar AS berpotensi tetap kuat. Kondisi tersebut bisa kembali menekan mata uang Asia, termasuk rupiah.
Sebaliknya, jika pernyataan The Fed mulai terdengar lebih lunak karena mempertimbangkan risiko perlambatan ekonomi, pasar bisa membaca adanya peluang penurunan suku bunga pada semester berikutnya. Skenario ini dapat memberi ruang bagi penguatan obligasi dan aset berisiko, termasuk saham di emerging market.
Sementara itu, harapan pasar terhadap terobosan diplomasi kembali menipis setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan kunjungan dua utusannya ke Pakistan pada akhir pekan lalu.
Mengutip Reuters, Trump membatalkan rencana kunjungan Steve Witkoff dan Jared Kushner ke Islamabad pada Sabtu (25/4/2026). Keputusan ini menjadi pukulan baru bagi prospek perdamaian setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi meninggalkan Pakistan tanpa tanda-tanda adanya terobosan dalam pembicaraan.
Trump mengatakan rencana kunjungan tersebut dibatalkan karena pembicaraan di Islamabad dinilai memakan terlalu banyak perjalanan dan biaya. Ia juga menyebut tawaran terbaru Iran belum cukup baik bagi AS.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian bahkan menyampaikan kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif bahwa Teheran tidak akan masuk ke dalam negosiasi yang dipaksakan di bawah ancaman atau blokade.
Pezeshkian juga menegaskan bahwa AS harus lebih dulu menghapus hambatan operasional, termasuk blokade terhadap pelabuhan Iran, untuk menciptakan dasar penyelesaian masalah.
Kondisi ini menunjukkan Washington dan Teheran masih berada di jalan buntu. Iran masih menutup sebagian besar akses di Selat Hormuz, jalur yang dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair global. Di sisi lain, AS masih memblokir ekspor minyak Iran.
Mandeknya diplomasi ini membuat risiko geopolitik tetap tinggi. Konflik yang dimulai dari serangan udara AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026 telah mendorong harga energi ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran inflasi, dan memperburuk prospek pertumbuhan global.
(mkh/mkh)
Addsource on Google

2 hours ago
1















































