Batu Bara Melejit 6 Hari, China - Jerman Dibayangi Krisis Pasokan

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara terbang dan mendekati level US$ 140 per ton. Kekhawatiran pasokan menjadi pemicu.

Merujuk Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan Senin (24/8/2026) ditutup di posisi US$139,3 per ton, Harganya naik 0,76%.

Kenaikan ini memperpanjang tren positif harga batu bara dengan menguat 4,3% selama enam hari beruntun.

Lonjakan harga batu bara, utamanya disebabkan oleh kekhawatiran pasokan.

Kekhawatiran di China Pasokan Membuat Harga Naik

Harga batu bara kokas di wilayah produksi utama China melanjutkan kenaikan pada pekan lalu dan mencetak level tertinggi baru. Inspeksi ketat di Shanxi membuat pemulihan produksi tambang berjalan lambat dan menjaga pasokan tetap ketat, sementara permintaan dari sektor hilir terus menguat.

Kenaikan harga juga didukung oleh kontrak berjangka yang terus menguat serta ekspektasi pasar terhadap kenaikan harga batu bara kokas. Sentimen pasar pun semakin panas.

Selama pekan tersebut, harga batu bara kokas naik CNY100-250 /ton, sementara beberapa jenis batu bara kokas primer berkualitas premium bahkan mencatat kenaikan hingga CNY 330/ton.

Pemulihan produksi di tambang-tambang yang sebelumnya dihentikan di Shanxi masih berjalan lambat. Sejumlah tambang bahkan memangkas produksi akibat inspeksi dan faktor lainnya.

Beberapa tambang di Shanxi juga mengalami penghentian sementara akibat kecelakaan dan kondisi lain di wilayah produksi. Kondisi tersebut secara keseluruhan menyebabkan pasokan batu bara kokas regional sedikit menurun.

Produksi Batu Bara Kokas Turun

Produksi batu bara kokas mentah dari 363 tambang yang disurvei Sxcoal turun 0,34% secara mingguan menjadi 9,98 juta ton pada pekan yang berakhir 17 Agustus.

Produksi batu bara kokas olahan turun 0,76% menjadi 4,89 juta ton. Tingkat utilisasi kapasitas tambang rata-rata mencapai 69,44%, turun 0,24 poin persentase dalam sepekan.

Dari sisi permintaan, tingkat operasional pabrik kokas kembali turun akibat kerugian dan ketatnya pasokan batu bara kokas.

Sejumlah pabrik masih memiliki persediaan yang cukup untuk beroperasi, tetapi pasokan batu bara segar semakin terbatas.

Per 19 Agustus, persediaan batu bara kokas di 108 pabrik kokas yang disurvei diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sekitar 7,27 hari, naik 0,3 hari dibandingkan pekan sebelumnya.

Pabrik kokas dan perusahaan perdagangan di sektor menengah menunjukkan minat pembelian yang tinggi.

Wilayah produksi terus melakukan destocking, sementara sebagian besar tambang tidak memiliki persediaan. Data Sxcoal menunjukkan stok batu bara kokas mentah di tambang yang disurvei mencapai 1,42 juta ton pada 19 Agustus, turun 11,33% dibandingkan sepekan sebelumnya.

Sementara itu, stok batu bara kokas olahan turun 13,07% menjadi 1,37 juta ton.

Permintaan Asia Meningkat

Harga batu bara naik menembus US$131/ton pada akhir Agustus 2026, mencapai level tertinggi dalam sekitar tiga pekan atau sejak awal Agustus.

Kenaikan ini didorong oleh permintaan energi Asia yang tetap kuat, risiko pasokan batu bara yang masih membayangi pasar, dan sinyal stimulus terbaru China, yang berpotensi mendorong permintaan domestik dan mempercepat investasi infrastruktur.

Jika aktivitas ekonomi China pulih lebih kuat, konsumsi listrik dan pembangkit listrik juga berpotensi meningkat, sehingga mendukung permintaan batu bara.

Harga listrik Jepang melonjak ke level tertinggi sejak 2023 akibat gelombang panas. Kondisi ini meningkatkan kebutuhan pendingin ruangan dan berpotensi mendorong pembangkit berbahan bakar batu bara.

Mongolia juga melaporkan penurunan output. Produksi batu bara Mongolia untuk seluruh jenis penggunaan pada Juli mencapai 11,17 juta ton, turun 4,6% dari Juni yang sebesar 11,71 juta ton. Namun, angka tersebut melonjak 49% secara tahunan (YoY).

Penurunan produksi secara bulanan diperkirakan dipengaruhi oleh libur Festival Naadam pada 11-15 Juli. Libur nasional selama lima hari tersebut kemungkinan memperlambat aktivitas produksi batu bara Mongolia.

Berdasarkan jenisnya, produksi batu bara keras (hard coal), yang mencakup batu bara kokas dan batu bara termal, mencapai 10,23 juta ton. Angka ini turun 6,9% dari Juni, tetapi masih naik 48% (YoY).

Sementara itu, produksi lignit mencapai sekitar 946.000 ton, naik 30% secara bulanan dan 63% (YoY).

Produksi kumulatif batu bara Mongolia untuk seluruh penggunaan selama Januari-Juli mencapai 73,65 juta ton, melonjak 52% (YoY).

Seluruh pertumbuhan tersebut berasal dari produksi batu bara keras. Produksi hard coal selama tujuh bulan pertama mencapai 67,66 juta ton, naik 60% (YoY).

Sebaliknya, produksi lignit turun 4,7% (YoY) menjadi 5,99 juta ton.

Mongolia adalah satu penyuplai besar pasokan di China jika produksi turun maka China bisa terdampak.

Jerman Dibayangi Kekurangan Pasokan

Ketinggian air di Sungai Rhine, Jerman, pekan lalu berada pada level terendah sejak pencatatan dimulai pada 1880.

Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap pengisian kembali stok batu bara di pembangkit listrik berbahan bakar batu bara, di tengah sistem kelistrikan yang sudah berada dalam kondisi ketat.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |