LANGSA (Waspada.id): Dosen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Samudra (Unsam) sukses melaksanakan Program Mahasiswa Berdampak dengan melalukan pemberdayaan dan pemulihan ekonomi masyarakat berbasis peningkatan sanitasi, kebersihan fasilitas umum dan penguatan sektor peternakan berkelanjutan pascabanjir bandang di Desa Aras Sembilan Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang.
Program yang dibimbing tim dosen pelaksana diketuai Dr. Taufan Arif Adlie, S.T., M.T., dengan anggota Dr, Iswahyudi, S.P., M.P. dan Suheri, S.T., M.T.
Ketua Pengusul Program, Dr. Taufan Arif Adlie, S.T., M.T kepada wartawan, Jumar (13/03/2026) mengatakan, kegiatan Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Samudra yang didanai oleh Hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Anggaran 2026, SP DIPA- 139.04.1.693320/2026 revisi ke-01 tanggal 24 Desember 2025.
“Melalui pendampingan mahasiswa dalam pengembangan dan inkubasi teknologi tepat guna bagi masyarakat Desa Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang,” jelasnya.
Instalasi Sistem Pengolahan Air Bersih di Mesjid Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang. Waspada.id/istMenurutnya, kegiatan difokuskan pada upaya menjawab permasalahan mendasar masyarakat, khususnya keterbatasan akses air bersih yang layak pada fasilitas publik serta peningkatan kualitas sarana pendukung usaha produktif masyarakat.
Dijelaskan Dr. Taufan Arif Adlie, S.T., M.T, kegiatan ini secara khusus difokuskan pada penerapan teknologi filtrasi air bersih di Masjid Desa Aras Sembilan dan SD Negeri Aras Sembilan.
“Selama ini, kedua fasilitas publik tersebut masih mengandalkan sumber air sungai yang berwarna kuning karena bercampur lumpur, terutama saat debit air meningkat. Kondisi ini kurang layak digunakan untuk kebutuhan wudhu, sanitasi, maupun aktivitas belajar-mengajar,” jelasnya.
Lanjutnya, berangkat dari permasalahan tersebut, program ini menginisiasi inkubasi dua teknologi tepat guna, yaitu Sistem Pengolahan Air Bersih Terpadu – Semi Portabel (SPAB-T) untuk mitra non-produktif serta kandang ternak untuk mitra produktif.
“Teknologi SPAB-T dirancang sebagai solusi penyediaan air bersih layak pakai bagi fasilitas publik dengan mengintegrasikan proses penampungan, filtrasi bertingkat, dan distribusi air dalam satu unit yang kompak,” urainya
Sistem ini, ungkapnya lagi, memanfaatkan sumber air sungai setempat yang berwarna kuning akibat bercampur lumpur dan partikel sedimen, kemudian diolah melalui tahapan penyaringan berlapis sehingga menghasilkan air yang lebih jernih dan layak digunakan untuk kebutuhan sanitasi, ibadah, serta aktivitas pendidikan.
Kemudian, air sungai ditampung pada tangki awal, kemudian dialirkan menuju sistem filtrasi yang terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari penyaringan sedimen untuk menghilangkan lumpur dan partikel kasar, filtrasi karbon aktif untuk mengurangi bau dan warna, hingga penyaringan lanjutan menggunakan media khusus untuk menyaring partikel halus.
“Melalui proses ini, kualitas air meningkat secara signifikan dan dapat dimanfaatkan dengan lebih aman oleh masyarakat,” tambahnya.
Instalasi Sistem Pengolahan Air Bersih di SDN Aras Sembilan, Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang. Waspada.id/istDari sisi desain, SPAB-T dikembangkan dalam bentuk unit semi portabel dengan rangka knock-down yang memudahkan instalasi, pemindahan, serta perawatan.
Dimensi unit yang relatif kompak memungkinkan teknologi ini ditempatkan pada ruang terbatas di lingkungan Masjid maupun sekolah. Sistem ini menggunakan pompa berdaya rendah sehingga konsumsi energi relatif kecil dan sesuai diterapkan di wilayah dengan keterbatasan pasokan listrik.
Selain itu, SPAB-T dirancang tanpa penggunaan bahan kimia berbahaya, sehingga lebih ramah lingkungan dan aman dioperasikan oleh masyarakat. Keberadaan SPAB-T memberikan manfaat langsung bagi fasilitas publik.
Di Masjid Aras Sembilan, teknologi ini menyediakan air wudhu yang lebih jernih, tidak berbau, dan nyaman digunakan oleh jamaah.
Sementara di SD Negeri Aras Sembilan, ketersediaan air bersih mendukung kebersihan lingkungan sekolah, sanitasi siswa, serta kelancaran proses belajar-mengajar.
Selanjutnya, proses inkubasi teknologi tidak berhenti pada tahap pemasangan unit, tetapi dilanjutkan dengan pelatihan dan pendampingan kepada pengelola mitra. Melalui pendekatan ini, masyarakat dibekali pengetahuan dan keterampilan untuk mengoperasikan sistem, melakukan perawatan rutin, serta menjaga keberlanjutan fungsi teknologi dalam jangka panjang.
Selain teknologi, program ini juga menginkubasikan kandang ternak sebagai teknologi pendukung bagi mitra produktif, yaitu peternak rakyat. Kandang dirancang dengan memperhatikan aspek kenyamanan ternak, kebersihan, sirkulasi udara, dan kemudahan perawatan guna mendukung peningkatan kesehatan dan produktivitas ternak.
“Bangunan kandang menggunakan material lokal yang mudah diperoleh dan relatif terjangkau, sehingga dapat dibangun oleh tenaga kerja setempat,” katanya.
Kondisi kandang ternak hasil Program Mahasiswa Berdampak di Desa Aras Sembilan Kecamatan Bandar Pusaka Kabupaten Aceh Tamiang. Waspada.id/istKemudian, lantai kandang dirancang dengan kemiringan tertentu untuk memudahkan pembuangan limbah, sementara tata letak kandang disusun secara sederhana namun efisien, mencakup area ternak, pakan, minum, dan saluran pembuangan.
Kandang ternak yang lebih layak diharapkan dapat menurunkan risiko penyakit ternak, meningkatkan kenyamanan dan produktivitas, serta memberikan efisiensi dalam pengelolaan pakan dan limbah. Limbah ternak yang terkelola dengan baik juga berpotensi dikembangkan menjadi pupuk organik atau sumber energi alternatif.
Dr. Taufan Arif Adlie, S.T., M.T menjelaskan, kesesuaian teknologi dengan kebutuhan masyarakat sasaran menjadi kunci keberhasilan program. SPAB-T menjawab kebutuhan dasar akan air bersih pada fasilitas publik, sementara kandang ternak mendukung peningkatan produktivitas usaha masyarakat.
Dengan prinsip teknologi tepat guna yang sederhana, mudah dioperasikan, berbiaya relatif rendah, dan ramah lingkungan, program ini diharapkan memberikan dampak positif yang berkelanjutan. Pendekatan inkubasi yang dilakukan memastikan bahwa teknologi tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi dapat diadopsi dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhan lokal.
“Melalui program ini, kami berharap kualitas layanan publik, kesehatan masyarakat, serta produktivitas ekonomi lokal dapat meningkat secara berkelanjutan,” tutup Dr. Taufan.(Id74)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

















































