Seorang korban banjir bandang sedang melaksanakan shalat Maghrib di tenda pengungsian Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Selasa (3/3). Waspada.id/Fauzan
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
BIREUEN (Waspada.id): Tiga bulan pasca banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November lalu, Mutia, 28, masih harus bertahan hidup di tenda pengungsian.
Bahkan di bulan Ramadhan yang kini tengah berlangsung, ibu dua anak ini terpaksa menjalankan ibadah harian, mulai dari shalat hingga buka puasa dan sahur, di tempat yang tidak memberikan kenyamanan apapun.
Anggota Komisi V DPR RI, H. Ruslan Daud (HRD), menyampaikan bahwa pembangunan hunian sementara (Huntara) untuk korban bencana di Aceh telah disepakati akan selesai sebelum Hari Raya Idul Fitri mendatang. Ia menekankan agar kepala kampung (keuchik) memperjuangkan hak warganya agar tidak terus menanggung kesusahan di tenda.

“Satuan Tugas Pemulihan Bencana DPR RI dan Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pasca Bencana Alam Sumatera sudah sepakat, penyelesaian tempat tinggal yang layak atau huntara di wilayah bencana termasuk Aceh sebelum hari raya Idul Fitri mendatang,” tegas HRD saat melakukan reses serap aspirasi masyarakat di Gampong Salah Sirong, Kecamatan Jeumpa, Selasa (3/3).
Ia menambahkan bahwa keuchik harus aktif mengajukan rekomendasi kepada Bupati Bireuen agar proses pembangunan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dapat segera berjalan. “Keuchik dipilih oleh masyarakat, bukan keuchik perseorangan, jangan sampai keuchik ikut menzalimi warganya yang sedang menghadapi musibah,” tandasnya.
Mutia, yang tinggal di Gampong Salah Sirong, mengakui telah kehilangan segala sesuatu akibat bencana yang melanda beberapa waktu lalu. Saat kejadian, yang terpikirkan hanyalah keselamatan anak-anaknya, tanpa bisa menyelamatkan sebarang harta benda.
“Saya hari ini tidak mempunyai apa-apa, jangankan rumah, sekarang ini harta benda juga tidak ada sama sekali karena sudah dibawa arus banjir. Sekarang hanya tinggal tenda ini sudah tiga bulan lamanya dengan kondisi seadanya,” ucapnya dengan suara penuh tangisan saat ditemui di tendanya.

Tenda yang ditempatinya bersama dua kepala keluarga – termasuk adiknya yang memiliki satu anak – tidak mampu memberikan perlindungan yang layak. Kondisi panas menyengat di siang hari dan genangan air yang masuk ke dalam tenda saat hujan menjadi bagian dari kesulitan yang harus mereka hadapi setiap hari.
“Bulan Ramadhan ini juga tidak bisa beribadah dengan nyaman. Apalagi bila turun hujan, kita tidak bisa tidur karena air masuk, bahkan kebutuhan pokok yang disimpan juga jadi basah,” jelasnya sambil mengusap air mata.
Mutia mengaku merasa tidak punya pilihan lain selain bertahan di situ, karena tidak ada lagi bekas atap rumah seperti sebelum kejadian. “Dengan kondisi yang sulit kami rasakan. Kami sangat menginginkan pemerintah agar membangun hunian sementara, sambil menunggu hunian tetap, karena kami tidak sanggup lagi di tenda pengungsi ini,” harapnya dengan penuh harapan jelang momen Idul Fitri.(id73)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.



















































