Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
11 June 2026 15:27
Jakarta, CNBC Indonesia - Rilis terbaru Bank Indonesia menunjukkan kondisi keuangan konsumen mulai mengalami tekanan. Hal ini terlihat dari meningkatnya porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang, sementara porsi pendapatan yang disimpan sebagai tabungan justru menurun.
Pada Mei 2026, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi tercatat sebesar 72,3%, relatif stabil dari bulan sebelumnya sebesar 72,1%.
Namun, beban cicilan atau utang meningkat. Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan naik menjadi 10,2%, dari 9,7% pada April 2026. Sebaliknya, porsi pendapatan yang disimpan atau ditabung turun menjadi 17,5%, dari sebelumnya 18,2%.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa ruang keuangan rumah tangga mulai menyempit. Pendapatan konsumen masih banyak terserap untuk konsumsi, sementara beban cicilan meningkat dan kemampuan menabung menurun.
Jika dibedah lebih rinci berdasarkan kelompok pengeluaran, tekanan tersebut terlihat dengan pola yang berbeda-beda.
Tidak semua kelompok mengalami kenaikan konsumsi, kenaikan cicilan, dan penurunan tabungan secara bersamaan. Namun, secara umum, data ini menunjukkan adanya perubahan dalam cara masyarakat mengelola pendapatannya.
Konsumsi Melonjak, Tabungan Kelompok Bawah Makin Tergerus
Pada kelompok pengeluaran Rp1 juta sampai Rp2 juta per bulan, porsi konsumsi naik cukup tinggi. Pada Mei 2026, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi tercatat sebesar 76,7%, naik dari 74,6% pada April 2026.
Angka konsumsi tersebut sekaligus menjadi yang tertinggi sepanjang 2026. Hal ini menunjukkan bahwa pendapatan kelompok bawah semakin banyak terserap untuk kebutuhan konsumsi.
Pada saat yang sama, porsi tabungan turun menjadi 16,4%, dari sebelumnya 17,2%. Posisi ini menjadi yang terendah sepanjang 2026, menandakan ruang menabung kelompok bawah semakin menyempit.
Menariknya, porsi cicilan atau utang kelompok ini justru turun menjadi 6,9%, dari 8,2% pada bulan sebelumnya. Artinya, tekanan pada kelompok pengeluaran Rp1 juta sampai Rp2 juta lebih banyak berasal dari kenaikan kebutuhan konsumsi yang kemudian menggerus ruang untuk menabung, bukan dari meningkatnya beban cicilan.
Berbeda Arah, Tabungan Justru Naik Saat Konsumsi Turun
Pola berbeda terlihat pada kelompok pengeluaran Rp2,1 juta sampai Rp3 juta per bulan. Pada kelompok ini, porsi konsumsi justru turun, dari 74,1% pada April 2026 menjadi 72,6% pada Mei 2026.
Porsi cicilan atau utang tercatat stabil di level 9,3%. Sementara itu, porsi tabungan meningkat cukup besar menjadi 18,1%, dari sebelumnya 16,7%.
Dengan demikian, kelompok pengeluaran Rp2,1 juta sampai Rp3 juta belum menunjukkan tekanan yang sama seperti kelompok total. Kenaikan tabungan pada kelompok ini lebih banyak terjadi karena porsi konsumsi yang turun. Artinya, ketika pendapatan yang digunakan untuk konsumsi berkurang, ruang untuk menabung menjadi lebih besar.
Kelompok Menengah Bawah Mulai Terjepit
Tekanan kembali terlihat pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta sampai Rp4 juta per bulan. Porsi konsumsi kelompok ini naik menjadi 72,2% pada Mei 2026, dari 70,0% pada bulan sebelumnya.
Kenaikan konsumsi itu membuat ruang prosi untuk menabung di kelompok ini ikut mengalami penurunan. Porsi pendapatan yang dapat ditabung turun menjadi 16,9% dari sebelumnya 18,3%, atau turun sekitar 1,4%.
Ketika porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi meningkat, kelompok pengeluaran ini harus mengurangi bagian pendapatan yang sebelumnya bisa ditabung. Hal ini cukup memperlihatkan bahwa kenaikan konsumsi mulai menggerus kemampuan menabung.
Walau demikian, ada sisi positifnya. Porsi cicilan kelompok ini justru turun menjadi 10,9%, dari 11,7% pada bulan sebelumnya.
Cicilan Naik, Tapi Tabungan Masih Bertahan
Pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta sampai Rp5 juta per bulan, pergerakannya relatif lebih stabil. Porsi konsumsi turun tipis menjadi 70,7% pada Mei 2026, dari sebelumnya 71,1%.
Meski penurunannya tipis secara bulanan, level konsumsi tersebut menjadi yang terendah sejak Agustus 2024. Saat itu, porsi konsumsi kelompok ini berada di level 70,4%.
Di sisi lain, porsi cicilan atau utang naik menjadi 10,7%, dari 10,3% pada bulan sebelumnya. Kenaikan cicilan ini menunjukkan adanya tambahan beban pembayaran utang pada kelompok tersebut.
Meski begitu, porsi tabungan kelompok ini masih naik tipis menjadi 18,7%, dari 18,6% pada April 2026. Angka tabungan ini menjadi yang tertinggi sejak Januari 2023, yang kala itu berada di level 18,8%.
Dengan kata lain, kenaikan cicilan pada kelompok pengeluaran Rp4,1 juta sampai Rp5 juta belum sampai menekan kemampuan menabung mereka secara signifikan. Turunnya porsi konsumsi justru memberi ruang bagi kelompok ini untuk tetap meningkatkan porsi tabungan.
Kelompok Atas Mulai Terbebani Cicilan
Tekanan paling jelas dari sisi cicilan terlihat pada kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan. Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan melonjak menjadi 12,8%, dari 10,9% pada April 2026.
Pada saat yang sama, porsi tabungan kelompok ini turun cukup dalam menjadi 17,5%, dari sebelumnya 19,2%. Penurunan tabungan ini menjadi salah satu yang paling besar dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya.
Sementara itu, porsi konsumsi kelompok pengeluaran di atas Rp5 juta justru turun tipis menjadi 69,7%, dari 69,9%. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan pada kelompok atas bukan berasal dari kenaikan konsumsi, melainkan lebih banyak dari meningkatnya beban cicilan atau utang.
Secara keseluruhan, data Bank Indonesia menunjukkan bahwa perubahan kondisi keuangan konsumen tidak terjadi secara seragam di seluruh kelompok pengeluaran.
Ada kelompok yang masih mampu meningkatkan tabungan, tetapi ada pula kelompok yang mulai kehilangan ruang menabung karena konsumsi atau cicilan yang meningkat.
Pada kelompok total, sinyal tekanan tetap terlihat dari naiknya porsi cicilan dan turunnya porsi tabungan. Dengan kata lain, masyarakat masih menjaga konsumsi, tetapi ruang keuangan rumah tangga mulai lebih terbatas.
Kondisi ini perlu dicermati karena tabungan merupakan bantalan penting bagi rumah tangga. Ketika porsi tabungan menurun, kemampuan masyarakat untuk menghadapi tekanan ekonomi, kenaikan harga, maupun kebutuhan mendadak juga ikut melemah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

5 hours ago
1

















































