Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
12 March 2026 20:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan bilateral antara Republik Rakyat China (RRC) dan Republik Islam Iran telah mengalami evolusi yang signifikan, bertransformasi dari pertukaran jalur sutra kuno menjadi kemitraan strategis yang berpusat pada ekonomi, energi, dan geopolitik.
Secara historis, interaksi kedua peradaban telah tercatat sejak abad ke-2 SM melalui utusan Dinasti Han, Gan Ying. Hubungan diplomatik modern kemudian diresmikan pada 16 Agustus 1971.
Namun, pergeseran dinamika yang paling substansial terjadi pasca-Revolusi Islam Iran pada tahun 1979. Ketika Iran mulai menghadapi isolasi dan sanksi dari negara-negara Barat, China secara bertahap memposisikan diri sebagai mitra alternatif yang krusial bagi Tehran.
Berikut adalah analisis mengenai dimensi kerja sama China-Iran dari era pasca-revolusi hingga perkembangan terkini.
Ketergantungan Asimetris di Sektor Ekonomi dan Energi
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2024, volume perdagangan bilateral kedua negara mencapai US$ 13,37 miliar, dengan komposisi ekspor China sebesar US$ 8,93 miliar dan impor sebesar US$ 4,44 miliar. China telah menjadi mitra dagang terbesar Iran sejak 2012.
Fokus utama dari hubungan ekonomi ini adalah sektor energi. China saat ini menyerap sekitar 90% dari total ekspor minyak mentah Iran. Namun, hubungan ini bersifat asimetris.
Bagi China, minyak dari Iran menyumbang sekitar 15% dari total impor energi mereka. Posisi ini memberikan keuntungan negosiasi bagi Beijing, yang dapat memperoleh pasokan minyak mentah dengan harga diskon di tengah sanksi internasional yang membatasi opsi pembeli bagi Tehran.
Kesepakatan Strategis 25 Tahun dan Realitas Investasi
Kunjungan kenegaraan Presiden Xi Jinping ke Iran pada Januari 2016 menjadi landasan pembentukan kemitraan strategis komprehensif. Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan penandatanganan Rencana Kerja Sama Komprehensif berdurasi 25 tahun pada Maret 2021, yang implementasinya secara resmi diluncurkan pada Januari 2022.
Meski kesepakatan ini dirancang untuk mencakup investasi infrastruktur skala besar dalam kerangka Belt and Road Initiative (BRI), realisasi di lapangan terpantau berjalan lambat.
Analisis geopolitik mencatat bahwa kesepakatan ini sering kali berfungsi sebagai instrumen tawar-menawar bagi China dalam mengelola dinamika hubungannya dengan Amerika Serikat, daripada sebagai komitmen penyaluran modal secara instan ke Iran.
China cenderung berhati-hati dalam merealisasikan investasi di Iran dibandingkan dengan portofolio investasi mereka di negara-negara Teluk lainnya.
Transisi Kerja Sama Keamanan dan Multilateralisme
Pada dekade 1980-an (era Perang Iran-Irak), China merupakan salah satu pemasok utama perangkat militer bagi Iran. Saat ini, kerja sama keamanan lebih difokuskan pada aspek teknologi dan strategis.
Laporan terkini mengindikasikan adanya tahap finalisasi pembelian rudal jelajah anti-kapal supersonik buatan China oleh Iran menurut Jonathan Fulton Asisten Professor di Zayed University, UEA.
Di tingkat diplomatik, China memberikan dukungan signifikan bagi integrasi Iran ke dalam organisasi multilateral non-Barat. Dukungan Beijing memfasilitasi masuknya Iran sebagai anggota penuh Shanghai Cooperation Organization (SCO) dan kelompok ekonomi BRICS. Langkah ini memberikan legitimasi institusional tambahan bagi Teheran di panggung global.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan kepentingan yang mendasar. Pendekatan China di Timur Tengah didorong oleh motif ekonomi yang membutuhkan stabilitas regional.
Di sisi lain, kebijakan luar negeri Iran yang kerap melibatkan kelompok proksi dinilai sering menimbulkan instabilitas, yang secara tidak langsung dapat mengganggu kepentingan komersial China di kawasan tersebut.
Foto: VIA REUTERS/WANA NEWS AGENCY
Iranian President Ebrahim Raisi shakes hands with Chinese President Xi Jinping during a welcoming ceremony in Beijing, China, February 14, 2023. Iran's President Website/WANA (West Asia News Agency)/Handout via REUTERS. ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY.
Diplomasi Budaya dan Pertukaran Masyarakat
Di luar instrumen ekonomi dan militer, kedua negara aktif mendorong penguatan soft power melalui pertukaran budaya. Hal ini direalisasikan melalui pembukaan Institut Konfusius di Universitas Teheran (2007) dan Universitas Mazandaran (2016), serta penyediaan program studi bahasa Mandarin dan Persia di universitas masing-masing negara.
Selain itu, pertukaran ini didorong melalui pameran kebudayaan berskala besar seperti pameran seni bersejarah "Treasures From Iran" di beberapa kota besar China pada tahun 2024.
Dari sisi mobilitas, Iran telah memberlakukan kebijakan bebas visa sepihak bagi warga negara China sejak Juli 2019, melengkapi status Iran sebagai negara tujuan wisata kelompok bagi warga China yang telah berlaku sejak 2011.
Secara keseluruhan, kemitraan strategis China-Iran dikendalikan oleh pragmatisme ekonomi dan penyesuaian geopolitik. Kedua negara memanfaatkan hubungan ini untuk mencapai objektif masing-masing di tengah tekanan sistem internasional, meskipun tetap diwarnai oleh kalkulasi risiko yang ketat, terutama dari pihak Beijing.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

4 hours ago
4
















































