Cadangan Minyak Kian Menipis, Pasar Energi Dunia Kehilangan Tameng

2 hours ago 2

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

14 June 2026 12:20

Jakarta, CNBC Indonesia- Lebih dari 100 hari sejak pecahnya perang Teluk ketiga, pasar minyak global terlihat jauh lebih tenang dibandingkan yang diperkirakan banyak pihak. Pada awal pekan ini, ketika serangan baru antara Iran dan Israel kembali mengguncang gencatan senjata yang rapuh, harga minyak Brent hanya naik sekitar 1%. Bahkan setelah serangkaian ketegangan baru yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran, harga Brent masih bertahan di kisaran US$93 per barel, jauh di bawah puncak intraday yang sempat tercapai pada April lalu.

Ketenangan tersebut bukan berarti pasar berhasil mengatasi gangguan pasokan. Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dunia masih tertutup, menghilangkan sekitar 15 juta barel minyak per hari dari pasar global. Kekurangan itu sementara waktu berhasil ditutup melalui kombinasi penurunan konsumsi, peningkatan produksi dari sejumlah negara, serta pengurasan stok minyak yang selama ini disimpan untuk kondisi darurat.

Melansir dari The Economist, China memangkas impor minyak sekitar 5 juta barel per hari dibandingkan sebelum perang. Di berbagai negara lain, kebijakan penghematan dan pembatasan konsumsi membuat permintaan turun dalam besaran yang hampir sama. Pada saat bersamaan, produsen seperti Brasil dan Venezuela meningkatkan produksi untuk membantu mengisi sebagian kekosongan pasokan.

Crude Oil Strategic ReservesCrude Oil Strategic Reserves Foto: The Economist

Namun penopang terbesar datang dari cadangan minyak strategis atau Strategic Petroleum Reserves (SPR). Pada Maret lalu, 32 negara anggota International Energy Agency (IEA) sepakat melepas 400 juta barel minyak dari stok pemerintah. Nilainya menjadi pelepasan cadangan terbesar sepanjang sejarah organisasi tersebut. Hingga kini hampir separuh volume itu telah mengalir ke pasar dengan kecepatan mencapai 2,5-3 juta barel per hari.

Persoalannya, ruang gerak semakin sempit. Jepang yang pada awal perang memperoleh sekitar 90% kebutuhan minyaknya dari Timur Tengah menjadi salah satu negara paling agresif melepas stok. Data Kayrros menunjukkan Tokyo bahkan mulai mengurangi cadangan sebelum keputusan resmi IEA diumumkan. Pemerintah Jepang kemudian mengalokasikan sekitar 90 juta barel atau setara 50 hari konsumsi domestik. Sebagian besar volume tersebut kini telah disalurkan ke kilang-kilang minyak.

Meski demikian, laju pelepasan mulai melambat. Setelah sempat menembus lebih dari 1 juta barel per hari, distribusi turun menjadi sekitar 600 ribu barel per hari pada bulan lalu. Kilang Jepang kini berhasil mengganti sebagian besar pasokan yang sebelumnya melewati Hormuz dengan minyak dari Amerika Serikat dan produsen lain di luar Teluk Persia. Kondisi tersebut membuat pemerintah lebih berhati-hati menguras stok yang tersisa. Jepang masih memiliki cadangan di atas batas minimum IEA sebesar 90 hari konsumsi, namun ketidakpastian konflik membuat pemerintah enggan mengambil risiko terlalu besar.

Amerika Serikat menghadapi tantangan yang lebih rumit. Cadangan minyak strategis negara itu memasuki perang dalam kondisi sudah jauh berkurang akibat pelepasan besar-besaran pada 2022 dan 2023 setelah invasi Rusia ke Ukraina. Walaupun sebagian dari komitmen pelepasan 172 juta barel yang dijanjikan pada Maret belum seluruhnya dikirim ke pasar, volume SPR Amerika kini berada pada level terendah sejak dekade 1980-an.

Washington bahkan mulai menggunakan skema pinjaman minyak dibandingkan penjualan langsung. Perusahaan yang mengambil minyak dari cadangan pemerintah wajib mengembalikan volume yang sama ditambah premi antara 17% hingga 26% pada periode 2027-2029. Skema tersebut membuat minat pasar tidak terlalu tinggi. Dari empat lelang yang telah dilakukan, tiga di antaranya gagal terserap penuh sehingga sekitar 45 juta barel kuota pelepasan masih belum mendapatkan pembeli.

Keterbatasan teknis juga mulai muncul. Sebagian besar cadangan minyak Amerika disimpan dalam gua-gua garam bawah tanah di Texas dan Louisiana. Semakin rendah volume minyak yang tersisa, semakin besar risiko kerusakan fasilitas penyimpanan. Salah satu lokasi, Bayou Choctaw, dilaporkan hampir habis. Sementara fasilitas lain tidak mampu meningkatkan laju pemompaan karena kapasitas pipa yang terbatas. Secara regulasi, SPR Amerika juga memiliki batas minimum sekitar 150 juta barel. Artinya ruang untuk pelepasan tambahan semakin terbatas.

Morgan Stanley memperkirakan pelepasan cadangan dari negara-negara anggota IEA dapat turun drastis dari sekitar 2,5 juta barel per hari pada Juni menjadi hanya 700 ribu barel per hari pada Juli. Pertanyaannya kemudian beralih ke Eropa. Kawasan ini relatif tidak terlalu bergantung pada minyak Teluk Persia sehingga sejak awal tidak terlalu antusias menguras stok strategisnya. Sebagian besar cadangan Eropa juga berbentuk produk olahan seperti bensin dan diesel, bukan minyak mentah.

Struktur penyimpanan Eropa berbeda dengan Amerika atau Jepang. Cadangan pemerintah tersebar di tangki-tangki komersial yang disewa negara. Banyak analis menilai hanya sebagian kecil minyak tersebut yang benar-benar masuk ke pasar selama krisis berlangsung. Situasi ini membuat Eropa selama beberapa bulan terakhir memperoleh manfaat dari pelepasan stok negara lain tanpa harus menguras cadangannya sendiri.

Masalahnya, musim panas di belahan bumi utara segera tiba. Permintaan bahan bakar untuk perjalanan diperkirakan meningkat pada saat pelepasan cadangan Amerika dan Jepang melambat. Jika pemerintah Eropa harus turun tangan, mereka akan menghadapi tantangan logistik yang belum pernah diuji dalam skala sebesar ini.

Kondisi tersebut membuat pasar minyak menghadapi fase baru. Stok komersial global diproyeksikan mendekati batas operasional minimum pada September. Setelah itu, penyesuaian pasokan semakin bergantung pada negara-negara yang masih memiliki cadangan besar, terutama China. Beijing sebenarnya memiliki stok yang cukup untuk bertahan berbulan-bulan. Namun pemerintah China juga menghadapi dilema. Menguras cadangan saat perang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir berarti memperkecil bantalan menghadapi guncangan berikutnya.

Setiap barel yang dikeluarkan dari gudang cadangan harus diisi kembali ketika konflik selesai. Proses pengisian ulang tersebut akan menciptakan permintaan tambahan di masa depan. Dengan kata lain, sekalipun perang mereda, pasar minyak berpotensi tetap ketat dan harga energi dapat bertahan tinggi lebih lama dari yang diperkirakan banyak pelaku pasar.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |