AS Serang Venezuela, Maduro Ditangkap: Emiten Minyak Dapat Berkah?

1 day ago 2

Susi Setiawati,  CNBC Indonesia

05 January 2026 09:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer ke Venezuela, dengan Presiden AS Donald Trump mengklaim telah menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro. Langkah ini langsung menjadi perhatian pasar global, terutama terkait potensi dampaknya terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Menilik kronologinya, sejak kembali terpilih sebagai Presiden, Donald Trump telah menempatkan Maduro sebagai salah satu target utama kebijakan luar negerinya.

Trump menuding pemerintahan Maduro terlibat dalam perdagangan narkoba serta mendorong arus imigrasi ilegal ke AS. Hingga Juli 2025, pemerintah AS bahkan menetapkan hadiah sebesar US$50 juta bagi pihak yang dapat membantu penangkapan Maduro.

Tekanan AS terhadap Venezuela semakin meningkat menjelang akhir tahun lalu. Washington dilaporkan menyita sejumlah kapal tanker milik Venezuela serta memperkuat kehadiran militernya di kawasan sekitar negara tersebut.

Di sisi lain, pemerintahan Maduro menilai langkah AS tidak lepas dari kepentingan ekonomi, khususnya terkait sumber daya. Berikut kami ulas beberapa komoditas yang dinilai potensial dari Venezuela :

Minyak Venezuela No. 1 di Dunia

Venezuela bukan pemain sembarangan di komoditas minyak mentah. Secara cadangan, negara ini tercatat sebagai pemilik cadangan minyak terbesar di dunia mencapai 300 miliar barel, bahkan melampaui Arab Saudi.

Besarnya cadangan minyak Venezuela ini diklaim Trump kini dikendalikan oleh AS. Kalau kita menghitungan dari harga minyak saat ini di US$ 57 per barel, total cadangan minyak Venezuela bernilai US$ 17,3 triliun.

Kalau dijual setengah harga, nilai-nya masih mencapai US$ 8,7 triliun, lebih besar dari total perputaran ekonomi alias PDB seluruh negara di dunia, kecuali AS dan China, bahkan sekitar empat kali PDB Jepang.

Sayangnya, kalau bicara realita di pasar, besarnya cadangan tersebut tidak serta-merta tercermin pada kapasitas produksi saat ini.

Ironisnya juga, produksi minyaknya justru berada di level yang relatif rendah akibat sanksi, minim investasi, dan kerusakan infrastruktur. Inilah yang membuat konflik AS-Venezuela saat ini lebih berdampak ke sentimen harga minyak ketimbang suplai riil jangka pendek.

Kalau melihat data historis, dibandingkan 15 tahun lalu, produksi minyak Venezuela sudah terjun lebih dari 70% dari rata-rata produksi per hari bisa mencapai 3 juta barel.

oilFoto: oil

Dalam jangka pendek, mungkin saja pasar bisa bereaksi pada kenaikan harga minyak karena potensi ganggguan suplai.

Terkhusus di Indonesia, mungkin ada beberapa saham minyak yang potensi naik memanfaatkan volatilitas karena sentimen geopolitik seperti PT Apexindo Pratama Duta Tbk (APEX), PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), serta PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC).

Kembali pada pembahasan minyak Venezuela, meskipun jangka pendek mungkin bisa naik. Namun, selama produksi Venezuela masih berada di titik rendah dan tidak terjadi disrupsi signifikan pada arus minyak global, kenaikan harga minyak berpotensi bersifat terbatas dan volatil.

Artinya, saat ini harga bisa naik dalam jangka pendek hanya karena faktor geopolitik, tetapi rawan koreksi jika tidak diikuti pengetatan suplai global.

Di sisi lain, situasi ini tetap membuka ruang spekulasi bahwa kepentingan AS terhadap Venezuela tidak hanya bersifat politik, tetapi juga strategis dalam jangka panjang, terutama terkait potensi penguasaan atau normalisasi akses terhadap cadangan minyak terbesar dunia tersebut.

Jika suatu saat terjadi perubahan rezim atau pelonggaran sanksi yang diikuti masuknya investasi besar-besaran, Venezuela justru bisa menjadi faktor penekan harga minyak dalam jangka panjang.

Jadi, sejauh ini konflik AS-Venezuela lebih relevan sebagai pemicu volatilitas ketimbang sinyal tren naik harga minyak yang struktural.

Gas Alam Venezuela Jadi Incaran

Isu strategis berikutnya adalah gas alam Venezuela, yang diperkirakan memiliki cadangan gas alam sekitar 200 triliun kaki kubik (TCF). Dengan harga gas alam global saat ini di kisaran US$4+ per seribu kaki kubik, nilai kasar cadangan gas ini bisa mencapai US$800 miliar.

Lebih mencengangkan lagi. Cadangan gas Venezuela setara 235 kali konsumsi gas domestik tahunannya dan ada banyak ladang gas tersebut belum tergarap sama sekali, baik karena keterbatasan teknologi, modal, maupun sanksi.

Dalam pernyataan terbarunya, Presiden Donald Trump menyebut bahwa perusahaan minyak besar AS akan masuk ke Venezuela. Namun belum pasti apakah mereka juga akan masuk ke gas alam.

Beyond Oil & Gas : Venezuela Harga Karun Strategis

Lebih dari sekadar minyak dan gas, Venezuela pada dasarnya adalah harta karun sumber daya alam yang menjadikannya aset strategis bernilai luar biasa bagi Amerika Serikat. Fokus pasar selama ini memang tertuju pada minyak. Namun jika ditarik lebih jauh, nilai Venezuela jauh melampaui sektor energi semata.

Saat ini, Venezuela memiliki kombinasi sumber daya yang jarang dimiliki satu negara sekaligus:

  • Gas alam sekitar 200 triliun kaki kubik, menjadikannya salah satu pemilik cadangan gas terbesar dunia.

  • Cadangan minyak sekitar 300 miliar barel, yang merupakan yang terbesar di dunia, melampaui Arab Saudi.

  • Cadangan bijih besi sekitar 4 miliar ton, dengan nilai mendekati US$600 miliar.

  • Sumber daya emas lebih dari 8.000 ton, terbesar di Amerika Latin.

  • Cadangan batu bara lebih dari 500 juta ton.

  • Sekitar 2% dari total cadangan air tawar terbarukan dunia.

Kombinasi ini membuat Venezuela bukan sekadar negara produsen komoditas, tetapi simpul strategis sumber daya global. Dalam konteks ini, Venezuela dapat dipandang sebagai "strategic asset" bagi AS.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |