Jakarta, CNBC Indonesia - Peta persaingan industri otomotif di Asia Tenggara mengalami pergeseran signifikan. Malaysia kini tampil sebagai negara dengan penjualan mobil tertinggi di kawasan ASEAN, melampaui Indonesia yang selama ini menjadi pasar terbesar. Kondisi tersebut memicu keresahan pelaku industri otomotif nasional karena dinilai mencerminkan persoalan struktural yang belum terselesaikan di dalam negeri.
Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Putu Juli Ardika mengungkapkan, capaian penjualan mobil Malaysia sepanjang 2025 sudah berada di kisaran 700 ribu hingga 800 ribu unit. Angka tersebut bahkan melampaui proyeksi penjualan mobil Indonesia yang diperkirakan hanya sekitar 780 ribu unit sepanjang tahun lalu.
"Malaysia paling tidak sudah mendekati 800 ribu, atau mungkin 700-800 ribu sekian gitu. Kalau kita kan 780 ribuan (prediksi sepanjang tahun 2025) nih untuk pronogsa ini. Jadi udah melampaui kita," kata Putu kepada CNBC Indonesia, dikutip Selasa (6/1/2026).
Data industri menunjukkan, selama periode Januari hingga November 2025, penjualan mobil di Malaysia telah mencapai sekitar 720 ribu unit. Pada periode yang sama, penjualan mobil Indonesia baru menyentuh kisaran 710 ribu unit. Selisih tipis ini menjadi sinyal kuat bahwa dominasi pasar otomotif regional mulai bergeser.
Menurut Putu, salah satu faktor kunci yang mendorong laju penjualan mobil di Malaysia adalah kebijakan pemerintah yang agresif dalam mendukung industri otomotif domestik, khususnya mobil nasional. Insentif dan stimulus dinilai diberikan secara konsisten sehingga mampu menjaga permintaan tetap tinggi.
"Kalau kemarin yang kita pelajari ya salah satunya dia memberikan suatu insentif yang luar biasa bagi mobil nasionalnya. Dan dia juga memberikan ya stimulus-stimulus lah ke mobil mobil nasional," ujarnya.
Ia menegaskan, situasi ini tidak bisa dianggap sepele karena berpotensi memengaruhi persepsi investor global terhadap Indonesia. Jika daya saing industri otomotif nasional terus melemah, Indonesia berisiko kehilangan posisi strategisnya sebagai basis produksi kendaraan di ASEAN.
"Sudah kita petakan semua apa-apa yang memang perlu dilakukan untuk bisa mendorong ya mendorong, paling tidak jangan sampai kita jatuh di bawah, sekarang kan Malaysia paling tinggi di ASEAN. Sebab kalau sampai kita itu jatuh seperti itu, keyakinan investasinya kan akan berbeda sekali. Itu dari sisi Gaikindo," kata Putu.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob Azam. Ia menilai, stagnasi pasar otomotif nasional sudah berlangsung cukup lama dan mencerminkan kegagalan mencapai target pertumbuhan jangka panjang yang pernah diproyeksikan industri.
"Perkembangan pasar itu yang menjadi challenging bagi kita. Karena 10 tahun industri otomotif ini, dulu diprediksi tahun 2025 ini market kita sebenarnya 2 juta. Tapi aktualnya kan di bawah 1 juta," ujar Bob, saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (6/1/2026).
Bob menjelaskan, secara logika ekonomi Indonesia seharusnya memiliki pasar otomotif yang jauh lebih besar dibanding Malaysia. Dengan jumlah penduduk sekitar tujuh kali lipat, Indonesia mestinya mampu mencatatkan penjualan minimal dua kali lipat dari Malaysia. Namun realitas di lapangan justru menunjukkan adanya ketimpangan yang besar.
"Kalau kita bandingkan dengan Malaysia, yang penduduknya 1 per 7 dari Indonesia, tapi income per kapita-nya 3 kali lipat dari kita, mestinya market kita ini 2 kali Malaysia. Jadi kalau Malaysia 750 atau 780 ribu, di Indonesia mestinya sudah di atas 1,5 juta. Jadi ada distorsi nih, 50%," katanya.
Distorsi tersebut, lanjut Bob, salah satunya bersumber dari struktur harga kendaraan di Indonesia yang dinilai terlalu mahal. Beban pajak yang tinggi membuat harga mobil kurang terjangkau bagi masyarakat, sehingga menekan daya beli dan permintaan.
"Mungkin diakibatkan oleh daya beli yang tidak terlalu kuat, dan pajak yang terlalu tinggi. Jadi di industri otomotif Indonesia ini kesannya kan harga kendaraan mahal banget gitu loh. Padahal di dalamnya pajaknya itu 40%. Nah bandingkan dengan negara lain yang pajaknya mungkin tidak setinggi kita. Kalau di Thailand itu di bawah 30%. Begitu juga di Malaysia," ujarnya.
Selain persoalan pajak, Bob juga menyoroti minimnya stimulus pemerintah untuk menjaga momentum pasar saat ekonomi melemah. Berbeda dengan negara tetangga yang rutin menggelontorkan insentif, kebijakan stimulus di Indonesia dinilai kurang konsisten.
"Kemudian yang kedua mereka rajin memberikan stimulus. Jadi even pajaknya ada tapi stimulusnya itu rajin. Kalau kita stimulusnya ini kurang sering. Nah ini yang kita harapkan ke depan menjadi pertimbangan dari pemerintah," kata Bob.
Ia bahkan mengingatkan, bila tren ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin arus investasi otomotif akan beralih ke Malaysia. "Kalau situasi ini berlanjut terus, nanti investasinya akan masuk ke Malaysia, bukan ke Indonesia. Ya, itu yang harus kita perhatikan bersama," ujarnya.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]

1 day ago
6

















































