Perawatan Rambut Rontok Diusulkan Ditanggung Negara

1 day ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung melontarkan gagasan tak biasa dalam kebijakan kesehatan publik negaranya. Ia mengusulkan perawatan rambut rontok masuk ke dalam skema asuransi kesehatan nasional yang ditanggung negara.

Dalam rapat dengan pejabat pemerintah Desember lalu, Lee menyebut perawatan kebotakan tak lagi bisa dianggap sekadar persoalan kosmetik, melainkan telah menjadi "masalah bertahan hidup" bagi sebagian masyarakat Korea Selatan. Saat ini, asuransi kesehatan nasional Korea hanya menanggung perawatan kerontokan rambut akibat penyakit tertentu.

Sementara kerontokan yang bersifat genetik belum termasuk, karena tidak dianggap mengancam nyawa. Hal ini disampaikan Menteri Kesehatan Korea, Jeong Eun-kyeong.

"Apakah ini hanya soal mendefinisikan penyakit keturunan sebagai penyakit?" ujar Lee menanggapi kebijakan tersebut dikutip dari BBC International, Selasa (6/1/2026).

Usulan ini langsung menuai reaksi beragam masyarakat Korea. Di media sosial, sebagian warganet menyebut Lee sebagai presiden terbaik dalam sejarah, namun tak sedikit yang menilai kebijakan ini lebih bernuansa politis.

"Rasanya seperti kebijakan cari suara," kata Song Ji-hoon (32), warga Seoul yang rutin mengkonsumsi obat penumbuh rambut.

Meski demikian, ia mengakui biaya pengobatan rambut rontok relatif murah, sekitar 300 ribu won per tahun (sekitar Rp3,5 juta), sehingga mempertanyakan urgensinya. Di Korea Selatan, tekanan standar kecantikan yang tinggi membuat kebotakan menjadi isu sensitif, terutama bagi generasi muda. Dari sekitar 240 ribu pasien yang berobat terkait kerontokan rambut tahun lalu, 40% berusia 20-30-an, menurut data otoritas kesehatan.

"Saya merasa tidak menarik dan kehilangan kepercayaan diri," kata Lee Won-woo (33), yang mengaku kesulitan menata rambutnya karena garis rambut terus mundur.

Namun ia juga mengingatkan sistem asuransi nasional Korea saat ini sedang menghadapi tekanan keuangan serius. Tahun lalu, sistem tersebut mencatat defisit 11,4 triliun won atau sekitar US$7,7 miliar dan masih akan terbebani oleh populasi yang semakin menua.

Presiden Lee menyatakan pemerintah dapat menetapkan batasan cakupan untuk menekan beban anggaran. Namun berbagai pihak, termasuk Korean Medical Association, menilai dana negara seharusnya difokuskan ke penyakit yang lebih serius terlebih dahulu.

Di media sosial, sejumlah warganet juga menyoroti persoalan yang dianggap lebih mendesak, mulai dari tingginya angka bunuh diri, akses obat kanker payudara, hingga diskriminasi terhadap perempuan. "Jika rambut rontok sampai dianggap soal bertahan hidup, maka yang perlu diubah adalah masyarakatnya, bukan asuransinya," tulis seorang pengguna X.

Isu rambut rontok bukanlah topik baru bagi Lee. Gagasan ini pernah ia usung dalam kampanye presiden 2022, termasuk lewat parodi iklan obat rambut rontok yang viral. Saat itu, ia dikritik karena dianggap memancing suara pemilih pria muda.

Lee kalah dalam pemilu 2022, namun berhasil memenangkan pemilu 2025. Dalam kampanye terbarunya, isu ini sempat ditarik. Meski demikian, sejak menjabat, Lee kembali menekankan fokus pada generasi muda, yang kini menghadapi tekanan ekonomi dan persaingan kerja yang berat.

Pada pertemuan yang sama, Lee juga mengusulkan agar obat obesitas masuk skema asuransi nasional, karena anak muda merasa semakin tersisih dari sistem perlindungan Kesehatan. Namun, analis politik Korea University Don S Lee meragukan kelanjutan kebijakan ini.

"Saya pribadi ragu Presiden Lee akan benar-benar menindaklanjuti isu ini. Ini lebih merupakan gestur strategis untuk menunjukkan kepedulian pada pemilih pria muda," ujarnya.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |