Ukuran Font
Kecil Besar
14px
MEDAN (Waspada.id.): Tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar berusia 10 tahun di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diduga dipicu ketidakmampuan membeli buku tulis dan pena, menjadi tamparan keras bagi nurani publik. Peristiwa ini menegaskan bahwa ketimpangan akses terhadap pendidikan dasar masih menjadi persoalan nyata di Indonesia.
Menanggapi hal tersebut, Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Memajukan Sumatera Utara (APMPEMUS) menyerukan gerakan nyata penyediaan buku dan alat tulis bagi anak-anak SD dari keluarga tidak mampu, khususnya di Sumatera Utara. Gerakan ini tidak dimaknai sebagai kegiatan seremonial, melainkan sebagai tanggung jawab moral kolektif.
Sekretaris Jenderal APMPEMUS, Fiqri Irhami, menyatakan bahwa tragedi tersebut harus dibaca sebagai peringatan keras bagi semua pihak. Menurutnya, ketika alat belajar paling dasar tidak dapat diakses oleh anak-anak, maka empati saja tidak cukup.
“Respons atas peristiwa ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Penyediaan buku dan alat tulis adalah langkah konkret untuk mencegah lahirnya keputusasaan yang sama. Ini bukan kerja satu organisasi, melainkan panggilan nurani bersama,” ujarnya, Rabu (4/2)
Ketua APMPEMUS, Iqbal, SH, menegaskan bahwa peristiwa ini mencerminkan kegagalan nurani kolektif. Ia menilai bahwa pendidikan dasar tidak boleh berubah menjadi kemewahan yang hanya bisa diakses oleh sebagian anak.
“Ketika seorang anak kehilangan harapan hidup hanya karena tidak mampu membeli buku dan pena, maka persoalannya bukan pada anak tersebut, melainkan pada sistem kepedulian kita. Buku dan alat tulis adalah hak dasar, dan kemiskinan tidak boleh memutus mimpi seorang anak,” tegas Iqbal.
Ia menambahkan bahwa APMPEMUS memilih untuk hadir secara nyata dengan membuka Sekretariat APMPEMUS sebagai pusat pengumpulan dan penyaluran buku serta alat tulis bagi anak-anak SD kurang mampu di Sumatera Utara. Menurutnya, diam bukanlah pilihan ketika satu buku saja dapat menjaga harapan seorang anak.
Sementara itu, Bendahara APMPEMUS, Ali Akbar Lubis, menekankan pentingnya akuntabilitas dan kepercayaan publik dalam setiap gerakan sosial. Ia memastikan bahwa seluruh sumbangan yang diterima akan dikelola secara terbuka dan disalurkan tepat sasaran.
“Kepedulian harus dibarengi dengan tanggung jawab. Setiap sumbangan, sekecil apa pun, akan dicatat dan disalurkan kepada anak-anak yang benar-benar membutuhkan. Integritas adalah fondasi utama agar gerakan ini memberi dampak nyata,” katanya.
Melalui gerakan ini, APMPEMUS berharap Sekretariat mereka tidak hanya menjadi ruang diskusi dan perjuangan pemuda, tetapi juga menjadi rumah harapan bagi anak-anak yang ingin terus bersekolah.
APMPEMUS mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bergotong royong memastikan tidak ada lagi anak Indonesia yang merasa sendirian menghadapi masa depan hanya karena keterbatasan ekonomi.
APMPEMUS
Aliansi Pemuda dan Mahasiswa Peduli Memajukan Sumatera Utara
Bergerak dengan nurani, mengabdi dengan hati. (id127)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.





















































