Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian . (ist)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
JAKARTA (Waspada.id): Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengemukakan, akal imitasi atau artificial intelligence (AI) harus diposisikan sebagai co-pilot atau alat bantu, bukan pengganti peran manusia.
Berdasarkan survei di Asia Tenggara, meski 95 persen jurnalis sudah familiar dengan AI, keputusan editorial, verifikasi fakta, dan pertimbangan etika harus tetap mutlak berada di bawah kendali jurnalis manusia.
Demikian disampaikan Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Smart Journalism: Integrasi Data, Riset, dan Kecerdasan Buatan untuk Pemberitaan Berkualitas”, bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), di Jakarta, Minggu (15/3/2026). Diskusi ini
Dikatakan Hetifah, fenomena ini menandakan bahwa AI bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan pintu masuk yang mulai menggeser peran tradisional media massa.
Pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah mengubah fundamental lanskap jurnalisme global, mulai dari produksi hingga konsumsi informasi oleh masyarakat. Data menunjukkan, lebih dari 70 persen Generasi Z kini beralih ke AI untuk mencari informasi.
“Perubahan ekosistem ini membawa peluang besar bagi efisiensi ruang redaksi, di mana AI mampu melakukan tugas berat seperti analisis ribuan dokumen, transkripsi, hingga pengolahan data publik secara instan,” paparnya.
Politisi Fraksi Partai Golkar itu menambahkan, integrasi teknologi ini melahirkan konsep smart journalism, sebuah evolusi praktik jurnalistik yang menggabungkan kekuatan riset, data, dan kecerdasan buatan.
Dengan pendekatan tersebut, jurnalis diharapkan tidak hanya sekadar melaporkan peristiwa, tetapi mampu menyajikan pengetahuan kompleks yang lebih mudah dicerna publik.
Namun, di balik efisiensi tersebut, ia memperingatkan, ada ancaman serius berupa disinformasi dan konten manipulatif seperti deepfake. Teknologi ini mampu menciptakan audio-visual sangat realistis yang berpotensi besar disalahgunakan untuk penipuan atau manipulasi opini publik.
Selain itu, kecepatan arus informasi digital sering kali menjebak media dalam perlombaan menjadi yang tercepat, yang sayangnya kerap mengorbankan akurasi sebagai pilar utama produk jurnalistik. “AI dapat membantu mempercepat proses kerja, namun integritas nurani dan tanggung jawab moral tetap tidak bisa didelegasikan kepada algoritma,”tandasnya. (id10)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































