Yuan China Terlalu Murah, Dunia Jadi Korban

4 hours ago 3

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 August 2026 16:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar yuan yang murah kembali menjadi perdebatan. Selama ini, lemahnya yuan kerap disebut sebagai salah satu alasan barang-barang China sangat kompetitif dan surplus perdagangan negara tersebut terus membesar.

Gita Gopinath, Pierre-Olivier Gourinchas, dan Hélène Rey menilai yuan yang murah bukan penyebab utama surplus China. Menurut mereka, nilai tukar lebih banyak dipengaruhi oleh tingginya tabungan dan rendahnya konsumsi di negara tersebut.

Pandangan itu kemudian ditanggapi Anantha Nageswaran dan P.S. Srinivas melalui artikel opini di The Economist. Keduanya berpendapat bahwa yuan bukan sekadar hasil dari masalah ekonomi domestik China. Kebijakan yang membatasi penguatan yuan juga ikut mempertahankan ketergantungan China terhadap produksi dan ekspor.

Tabungan masyarakat dan dunia usaha China selama ini lebih besar dibandingkan kebutuhan investasinya. Kelebihan dana tersebut kemudian tercermin dalam surplus transaksi berjalan dan aliran modal ke luar negeri.

Namun, hubungan antara tabungan dan nilai tukar dapat berjalan dua arah. Yuan yang murah membuat barang buatan China lebih terjangkau bagi pembeli luar negeri, sedangkan barang impor menjadi lebih mahal bagi masyarakat China.

Perbedaan harga itu mendorong produksi dan ekspor, tetapi kurang mendukung konsumsi produk dari negara lain. Nilai tukar akhirnya ikut mempertahankan pola pertumbuhan yang bertumpu pada penjualan barang ke pasar internasional.

Pemerintah China memiliki pengaruh besar terhadap pergerakan yuan melalui kebijakan bank sentral, pengaturan arus modal, dan sistem keuangannya. Nilai yuan pun tidak sepenuhnya bergerak bebas mengikuti permintaan serta penawaran pasar.

Surplus China Tembus US$1,2 Triliun

Besarnya ketergantungan terhadap ekspor terlihat dari neraca perdagangan China. Data resmi General Administration of Customs of China menunjukkan surplus perdagangan barang negara tersebut mencapai US$1,19 triliun pada 2025.

Nilainya meningkat 19,8% dibandingkan surplus sebesar US$992,6 miliar pada 2024 dan menjadi yang terbesar setidaknya dalam satu dekade terakhir.

Rekor itu terbentuk setelah ekspor China naik menjadi US$3,77 triliun, sedangkan impor relatif stagnan di kisaran US$2,58 triliun. Surplus perdagangan China kini lebih dari dua kali lipat dibandingkan posisi 2020 yang sebesar US$524 miliar.

Surplus tersebut tetap meningkat meskipun ekspor China ke Amerika Serikat (AS) turun tajam. Berkurangnya pengiriman ke AS mampu digantikan oleh peningkatan penjualan ke negara dan kawasan lain.

Nilai yuan yang kompetitif membantu produsen China menjaga harga barangnya tetap murah. Negara-negara pesaing kemudian menghadapi tekanan untuk menahan penguatan mata uang masing-masing agar produk mereka tidak kehilangan pasar.

Tekanan ini paling terasa di negara berkembang yang sedang membangun industri manufaktur. Produk lokal harus bersaing dengan barang China, baik di pasar domestik maupun ekspor.

Nageswaran dan Srinivas menyebut China belakangan bukan hanya mengekspor barang, tetapi juga tekanan penurunan harga. Harga ekspor China meningkat lebih lambat daripada produk dari sejumlah mitra dagangnya sehingga perusahaan di negara lain harus menekan harga dan margin keuntungan agar tetap mampu bersaing.

Konsumsi China Sulit Didorong

Ketergantungan terhadap ekspor sebenarnya dapat dikurangi apabila konsumsi masyarakat China meningkat. Namun, perubahan sumber pertumbuhan tersebut belum berjalan sesuai harapan.

Kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) China masih berada di kisaran 40% pada 2024, hampir sama dengan posisinya sekitar dua dekade sebelumnya.

Padahal, pemerintah China sejak masa Perdana Menteri Wen Jiabao telah mengakui bahwa model pertumbuhannya terlalu bergantung pada investasi dan ekspor. Beijing juga berulang kali menyampaikan rencana untuk memperkuat konsumsi domestik.

Rendahnya konsumsi berkaitan dengan terbatasnya jaring pengaman sosial dan besarnya biaya yang harus disiapkan masyarakat untuk kesehatan, pendidikan, perumahan, serta masa pensiun. Rumah tangga akhirnya memilih menyimpan lebih banyak pendapatan daripada membelanjakannya.

China sempat mencatat penyusutan surplus transaksi berjalan pada periode 2007-2018. Akan tetapi, penurunan itu lebih banyak dipengaruhi oleh lonjakan investasi properti dan infrastruktur, bukan peningkatan konsumsi rumah tangga.

Kelebihan tabungan yang sebelumnya mengalir ke luar negeri diserap oleh berbagai proyek di dalam negeri. Persoalan dasarnya tetap bertahan dalam sistem pembiayaan pemerintah daerah, neraca bank milik negara, serta besarnya pengaruh industri berorientasi ekspor.

Penguatan Yuan Bukan Solusi Satu-Satunya

Penguatan yuan tidak serta-merta menyelesaikan seluruh persoalan tersebut. Apresiasi yang terlalu cepat berisiko membuat produk China lebih mahal di pasar internasional dan menekan perusahaan yang bergantung pada ekspor.

Penurunan permintaan juga dapat membuat sebagian kapasitas produksi tidak terpakai serta memperbesar tekanan deflasi. Karena itu, perubahan nilai tukar perlu dilakukan secara bertahap dan disertai kebijakan untuk memperkuat permintaan domestik.

Meski memiliki risiko, yuan yang lebih kuat juga menawarkan keuntungan bagi China. Laporan External Sector Report Dana Moneter Internasional (IMF) 2026 memperkirakan yuan berada sekitar 21,3% di bawah nilai wajarnya pada titik tengah estimasi.

Jika selisih tersebut dipersempit, biaya impor minyak, gas, bahan pangan, dan komoditas lainnya akan turun. Masyarakat China juga memperoleh akses terhadap produk luar negeri dengan harga lebih terjangkau.

Bank sentral China dapat mengurangi intervensi untuk menahan penguatan yuan beserta biaya untuk mengelola tambahan likuiditas yang muncul setelah intervensi. Tekanan perdagangan dari negara mitra juga berpotensi mereda.

Namun, apresiasi yuan tetap harus berjalan bersama reformasi sektor keuangan, penguatan jaring pengaman sosial, dan peningkatan pendapatan rumah tangga. Langkah tersebut diperlukan agar pertumbuhan ekonomi beralih dari investasi dan ekspor menuju konsumsi.

Amerika Serikat Juga Harus Berbenah

Perbaikan ketidakseimbangan global tidak dapat hanya dibebankan kepada China. AS juga perlu mengurangi defisit fiskalnya yang besar.

Defisit tersebut membuat AS menyerap modal dari berbagai negara. Negara berkembang akhirnya tertekan dari dua arah: barang murah China mempersempit ruang bagi industri mereka, sementara kebutuhan pendanaan AS menarik investasi dari pasar berkembang.

Meski demikian, AS sebagai negara defisit tetap menciptakan permintaan terhadap barang dari negara lain. China sebaliknya menghasilkan jauh lebih banyak barang untuk pasar internasional dibandingkan produk yang dibelinya dari luar negeri.

Karena itu, penguatan yuan perlu berjalan bersama perbaikan fiskal di AS. Kombinasi keduanya dapat membantu menyeimbangkan permintaan global dan mengurangi penggunaan tarif maupun pembatasan perdagangan.

Pada akhirnya, hanya China yang dapat membiarkan yuan menguat secara berkelanjutan. Namun, keputusan tersebut tidak hanya berkaitan dengan ekonomi.

Mendorong konsumsi mengharuskan pemerintah memberikan porsi pendapatan dan sumber daya yang lebih besar kepada rumah tangga. Sebaliknya, pertumbuhan berbasis produksi dan ekspor membuat negara tetap memegang kendali besar terhadap perekonomian.

Selama struktur tersebut belum berubah, China masih memiliki dorongan untuk mempertahankan nilai tukar yang kompetitif. Yuan pun bukan sekadar hasil dari ketidakseimbangan ekonomi China, tetapi menjadi salah satu kebijakan yang membuatnya terus bertahan.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |