Trump Ubah Aturan Vaksin Rutin Anak, Risiko Kesehatan Mengintai

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden AS Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mendukung pemangkasan jumlah rekomendasi vaksin rutin untuk anak-anak menjadi 11 jenis pada hari Senin (10/8). Langkah ini memicu kontroversi lantaran Trump kembali secara keliru mengaitkan imunisasi dengan risiko autisme, klaim yang telah dibantah oleh penelitian ilmiah selama berpuluh-puluh tahun.

Melansir CNBC International, kebijakan ini merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah AS di bawah arahan Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Robert F. Kennedy Jr. Selain memangkas jumlah vaksinasi, perintah tersebut meminta pemisahan vaksin kombinasi campak, gondongan, dan rubela (MMR) menjadi tiga dosis tunggal pada kunjungan medis yang berbeda.

"Rekomendasi yang diperbarui ini akhirnya menyelaraskan Amerika Serikat dengan negara-negara maju lainnya. Yang lebih penting, hal ini menyelaraskan kita dengan akal sehat dan pengetahuan," ujar Trump saat memberikan pengarahan pada Senin (10/8).

Sorotan Kebijakan dan Risiko Bagi Kesehatan Anak

Para pakar kesehatan mengkritik kebijakan pemisahan dosis MMR karena dinilai meningkatkan risiko anak terlewat mendapatkan imunisasi lengkap akibat frekuensi kunjungan dokter yang lebih banyak.

Trump mengakui skema baru ini merepotkan orang tua, namun ia berpendapat langkah tersebut sepadan demi menekan angka autisme, meski tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim kombinasi vaksin memicu autisme.

"Untuk MMR, kami ingin ada kunjungan terpisah, waktu yang berbeda. Vaksin dipecah menjadi tiga dosis tunggal terpisah dan diberikan dalam kunjungan yang berbeda," kata Trump.

Ini bukan kali pertama pemerintah menyoroti vaksin MMR dan vaksin terkait, MMRV-yang menambahkan vaksin varicella untuk mencegah cacar air. Tahun lalu, panel penasihat vaksin utama bagi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga melonggarkan rekomendasi untuk vaksin MMRV bagi anak-anak di bawah usia 4 tahun.

Namun, sejumlah pakar kesehatan berpendapat bahwa memisahkan pemberian vaksin tersebut meningkatkan risiko terlewatnya jadwal dan imunisasi karena memerlukan lebih banyak kunjungan ke dokter.

Saat berbicara kepada wartawan usai menandatangani perintah tersebut, Trump mengakui bahwa membawa anak ke dokter berkali-kali mungkin sulit bagi sebagian orang tua, namun ia berpendapat hal itu sepadan.

"Memang merepotkan, harus lima kali kunjungan, tapi menurut saya ini akan berdampak besar terhadap autisme," ujarnya.

Gedung Putih menegaskan bahwa perubahan rekomendasi ini tidak akan mengubah cakupan asuransi vaksinasi, di tengah tren penurunan tingkat imunisasi anak dan rekor buruk infeksi campak di AS dalam beberapa dekade terakhir.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |