Ternyata Ada 'Pengacau' Perdamaian AS-Iran, Disebut 'Penjahat'

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Duta Besar Pakistan untuk Indonesia, Zahid Hafeez Chaudhri, mengungkapkan perkembangan mutakhir dan sangat signifikan terkait eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Pakistan mengonfirmasi telah sukses memediasi Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk duduk di meja negosiasi hingga menghasilkan Nota Kesepahaman (MoU) damai yang resmi ditandatangani. Langkah ini diproyeksikan bakal meredakan ketegangan global dan memberikan sentimen positif pada pasar energi dunia.

Langkah mediasi ini diambil setelah melalui proses diplomasi yang panjang, rahasia, dan rumit di tengah tingginya ketidakpercayaan antara kedua belah pihak. Keberhasilan kesepakatan ini dinilai sangat historis mengingat Washington dan Teheran sudah tidak memiliki komunikasi diplomatik langsung selama beberapa dekade terakhir. Dalam dokumen penting tersebut, Pakistan juga membubuhkan tanda tangannya sebagai saksi sekaligus mediator resmi.

"Kami melihatnya sebagai langkah yang sangat positif dan mendorong. Kita berbicara tentang dua negara yang sebelumnya memiliki ketidakpercayaan mutlak dan tidak berkomunikasi langsung dalam waktu lama. Sekarang, kita memiliki MoU yang jelas di mana kedua negara telah menyetujui dan menandatanganinya," ujar Dubes Zahid dalam acara Meet the Press over Hi-Tea di Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Sebelum mencapai kesepakatan ini, Pakistan terlebih dahulu berfokus pada pengamanan gencatan senjata sementara di wilayah-wilayah konflik. Upaya tersebut terbukti efektif meredam ketegangan taktis sehingga memuluskan jalan untuk membawa kedua kekuatan besar tersebut ke meja perundingan. Pakistan dan Qatar bertindak bersama-sama untuk memfasilitasi komunikasi intensif ini.

Islamabad juga menegaskan bahwa mereka tidak bergerak sendirian, melainkan merangkul seluruh kekuatan utama di kawasan Timur Tengah untuk menyamakan persepsi. Pendekatan multilateral ini melibatkan koordinasi erat dengan negara-negara kunci seperti Arab Saudi, Turki, Mesir, hingga Oman guna memastikan stabilitas jangka panjang. Keamanan energi dan kelancaran jalur logistik global menjadi taruhan utama dalam keberhasilan proses ini.

"Saya senang untuk menyampaikan bahwa pembicaraan ini mengalami kemajuan yang baik, dan kami berharap gencatan senjata permanen serta solusi permanen untuk konflik di kawasan tersebut juga akan tercapai," ungkap Dubes Zahid dengan optimis.

Ancaman 'Spoilers' Israel dan Eskalasi di Lebanon

Kendati demikian, Pakistan memperingatkan bahwa jalannya perdamaian ini dipastikan tidak akan mudah karena adanya faktor pengacau (spoilers) regional. Islamabad menyoroti agresi militer Israel ke Lebanon sebagai hambatan utama saat ini yang dapat merusak komitmen damai ini secara sepihak. Isu eskalasi ini memicu kekhawatiran baru karena posisi Lebanon yang erat dengan poros pertahanan Iran.

Tindakan Israel di Lebanon dinilai berpotensi memicu kembali konflik terbuka dan merusak seluruh proses mediasi yang sedang berjalan. Akibat aksi militer tersebut, Israel kini dinilai semakin terisolasi dari pergaulan internasional dan kehilangan dukungan dari negara-negara sekutunya. Komunitas internasional melihat tindakan sepihak ini sebagai pelanggaran serius terhadap hukum humaniter global.

"Israel adalah pengacau di kawasan tersebut, rintangan utama dalam jalan menuju perdamaian. Hari ini mereka terisolasi dan kehilangan teman-teman di dunia karena kejahatan perang serta pelanggaran hak asasi manusia yang begitu terlihat," tegas Dubes Zahid mengkritik keras Tel Aviv.

Pakistan mendesak Dewan Keamanan PBB dan negara-negara berpengaruh untuk segera mengambil tindakan nyata guna menghentikan agresi Israel. Jika perang di Lebanon terus meluas, dampaknya akan langsung memukul perekonomian global melalui lonjakan harga komoditas dan krisis energi jilid baru. Oleh karena itu, kepatuhan terhadap hukum internasional menjadi satu-satunya solusi logis saat ini.

Menurut Pakistan, eskalasi di Lebanon membuktikan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan pernah tercapai selama hukum internasional diabaikan oleh satu pihak. Pakistan berkomitmen untuk terus mengawal MoU AS-Iran ini agar tidak goyah oleh provokasi militer di lapangan. Penguatan koordinasi regional akan terus ditingkatkan demi membendung dampak destruktif dari konflik Lebanon.

"Tidak ada negara yang boleh dibiarkan secara sepihak merusak perdamaian regional. Kami akan terus bekerja dengan AS maupun Iran untuk memastikan bahwa nota kesepahaman ini diimplementasikan baik dalam teks maupun semangatnya demi perdamaian kawasan," tutup Dubes Zahid.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |